Autopsi Vlogger Thailand di Georgia: Gagal Jantung Terdeteksi, Racun Belum Disingkirkan
Baca dalam 60 detik
- Hasil awal autopsi Bawornthat 'Hlun Solo' Pengsuk menunjukkan kegagalan jantung dan sistem peredaran darah, namun pemeriksaan toksikologi masih berlanjut.
- Keluarga korban meragukan transparansi otoritas Georgia dan meminta perbandingan hasil autopsi kedua negara, terutama terkait dugaan racun.
- Temuan ini membuka diskusi tentang perlunya standar investigasi kematian WNI di luar negeri yang lebih ketat dan transparan.

Bangkok — Hasil autopsi awal terhadap jenazah vlogger perjalanan asal Thailand, Bawornthat “Hlun Solo” Pengsuk, menunjukkan adanya kegagalan fungsi jantung dan sistem peredaran darah. Meski demikian, tim forensik Thailand belum mengesampingkan kemungkinan keterlibatan zat beracun atau bahan kimia sebagai pemicu kematian.
Temuan itu disampaikan Asisten Profesor Dr. Worawee Waiyawut, wakil direktur Central Institute of Forensic Science di bawah Kementerian Kehakiman Thailand, Kamis (6/8). Jenazah Hlun tiba di Thailand dari Georgia setelah menjalani pemeriksaan post-mortem di negara tersebut. Tim medis Thailand telah memaparkan hasil sementara kepada pihak keluarga, yang kemudian memberi izin untuk mengungkapkannya ke publik.
Pemeriksaan awal tidak menemukan memar, tanda kekerasan fisik, atau patah tulang. Organ lain dilaporkan normal, kecuali jantung. Worawee menyebut dokter Georgia tampaknya telah melakukan pemeriksaan ekstensif, namun hasilnya belum dirinci. Ia menambahkan, tes laboratorium lanjutan diperlukan untuk memeriksa jaringan jantung dan faktor genetik, termasuk dugaan sindrom kematian mendadak saat tidur.
“Kesimpulan awal hari ini adalah gagal jantung dan sistem peredaran darah, tetapi kami belum mengesampingkan racun atau bahan kimia,” ujar Worawee. Kementerian Kehakiman Thailand akan berkoordinasi dengan otoritas Georgia untuk mendapatkan catatan autopsi dan hasil uji kimia. Proses ini diperkirakan memakan waktu, dan sertifikat kematian dari Georgia tidak mencantumkan penyebab kematian.
Sebelum pengumuman tersebut, Somsak “Mos” Butsri, kakak laki-laki Hlun, berbicara mewakili keluarga. Ia menegaskan bahwa autopsi di Thailand adalah permintaan resmi pertama dari keluarga karena mereka masih memiliki banyak pertanyaan. Keluarga secara khusus meminta pemeriksaan racun, pemeriksaan jantung secara detail, dan investigasi penyebab kematian lainnya. “Otoritas Georgia tidak memberikan jawaban atau rincian temuan autopsi mereka. Kami hanya menerima sertifikat kematian dan diberi tahu bahwa sampel organ serta DNA disimpan. Kami tidak tahu persis untuk apa sampel itu diuji,” kata Somsak.
Keluarga berharap hasil autopsi Thailand dan Georgia dapat dibandingkan, terutama terkait racun yang menjadi kekhawatiran utama. Somsak juga menyebut laporan tentang kematian mendadak saat tidur belum terkonfirmasi dan tidak didukung hasil tes resmi. Ia tidak yakin apakah adiknya memiliki kondisi kesehatan tertentu karena Hlun jarang membahas kesehatannya. Jika ditemukan bukti kekerasan fisik, keluarga akan menempuh jalur hukum untuk menuntut keadilan.
Kematian Hlun Solo menyoroti pentingnya transparansi investigasi kematian warga negara di luar negeri. Bagi Indonesia, kasus ini relevan mengingat banyaknya WNI yang bekerja atau berwisata ke luar negeri. Prosedur pemulangan jenazah dan koordinasi forensik antarnegara sering kali menjadi kendala, seperti yang dialami keluarga Hlun. Mereka harus menunggu hasil autopsi yang jelas dan membandingkan temuan dari dua negara.
Menurut analis forensik, kasus seperti ini menegaskan perlunya standar internasional dalam penanganan kematian mendadak, terutama jika melibatkan dugaan racun. “Perbedaan prosedur dan kurangnya komunikasi antarnegara dapat menghambat keadilan bagi keluarga korban,” kata seorang pengamat hukum pidana internasional. Ia menambahkan, kerja sama antarnegara dalam pertukaran data forensik perlu diperkuat.
Proses autopsi di Thailand dijadwalkan selesai Jumat (7/8). Setelah itu, jenazah Hlun akan dibawa ke kampung halamannya di Kalasin untuk upacara pemakaman tradisional. Keluarga masih mendiskusikan rencana kremasi. Nenek Hlun, yang dikabarkan tetap tegar, hanya meminta cucunya dibawa pulang. Namun, keluarga khawatir dengan reaksinya saat melihat jenazah.
“Saya berterima kasih kepada masyarakat Thailand yang telah membantu membawa adik saya pulang,” ucap Somsak. Pertanyaan besar masih menggantung: apakah racun benar-benar terlibat dalam kematian Hlun Solo? Jawabannya akan menentukan langkah keluarga dalam mencari keadilan, sekaligus menjadi pelajaran bagi penanganan kasus serupa di kawasan Asia Tenggara.



