Banjir Assam Tewaskan 95 Orang, 1,1 Juta Jiwa Terdampak: Krisis Muson India Kian Memprihatinkan
Baca dalam 60 detik
- Bencana banjir muson di Assam, India timur laut, telah merenggut 95 nyawa dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi.
- Otoritas setempat mengoperasikan 1.900 pusat distribusi bantuan, sementara lima warga dilaporkan hilang dan upaya rehabilitasi terus dipercepat.
- Fenomena muson tahunan yang kian ekstrem ini menyoroti kerentanan infrastruktur dan kesiapsiagaan bencana di kawasan Asia Selatan, termasuk relevansinya bagi Indonesia.

Banjir muson yang melanda negara bagian Assam, India timur laut, telah menewaskan sedikitnya 95 orang dan memengaruhi lebih dari 1,1 juta jiwa di 25 distrik. Angka ini dirilis oleh Otoritas Manajemen Bencana Negara Bagian Assam pada Rabu malam (5/8), menjadikan bencana ini salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Menteri Assam, Himanta Biswa Sarma, melalui akun media sosialnya, menyatakan bahwa operasi bantuan terus berjalan dengan intensitas penuh. Hingga Kamis (6/8), lebih dari 1.900 pusat distribusi bantuan telah didirikan untuk melayani warga yang terdampak. "Upaya rehabilitasi juga terus dipercepat di seluruh Assam," ujarnya. Namun, ia mengonfirmasi bahwa lima warga masih dinyatakan hilang, menambah kekhawatiran akan bertambahnya korban.
Banjir ini merupakan bagian dari siklus muson tahunan yang biasanya berlangsung Juni hingga September. Namun, intensitas dan dampaknya tahun ini jauh lebih parah. Sejak awal Juli, lebih dari 160 orang tewas akibat insiden terkait hujan di berbagai wilayah India. Para ahli menilai perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan keparahan cuaca ekstrem, menjadikan muson tidak lagi dapat diprediksi.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi hidrometeorologi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali memperingatkan potensi banjir dan tanah longsor akibat curah hujan tinggi. Sistem peringatan dini dan infrastruktur drainase yang memadai menjadi kunci untuk meminimalkan korban jiwa, sebagaimana dievaluasi dari pengalaman India.
Pemerintah Assam, bersama tim nasional tanggap darurat, terus berupaya mengevakuasi warga ke tempat aman. Namun, tantangan logistik di daerah terpencil dan akses jalan yang terputus memperlambat proses penyelamatan. Sarma menegaskan bahwa prioritas adalah menyelamatkan nyawa dan memastikan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan terpenuhi.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah bagaimana India dan negara-negara Asia Selatan lainnya dapat beradaptasi dengan pola muson yang semakin tidak menentu. Investasi dalam infrastruktur tahan banjir, sistem peringatan dini yang lebih canggih, serta tata ruang yang memperhitungkan risiko bencana menjadi agenda mendesak. Bagi Indonesia, pelajaran dari Assam menegaskan bahwa kolaborasi regional dan penguatan kapasitas lokal adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditunda.



