Millie Bobby Brown Kembali Adopsi Anak Kedua, Soroti Makna Keluarga Adopsi
Baca dalam 60 detik
- Millie Bobby Brown dan Jake Bongiovi dikabarkan telah mengadopsi anak kedua, setahun setelah mengadopsi putri pertama.
- Langkah ini menegaskan komitmen pasangan tersebut terhadap adopsi, yang telah lama menjadi bagian dari impian Millie.
- Kisah ini diharapkan menginspirasi diskusi tentang keluarga adopsi dan peran orang tua angkat di Indonesia.

Bintang Stranger Things, Millie Bobby Brown, dan suaminya, Jake Bongiovi, dilaporkan telah menambah anggota keluarga baru melalui adopsi anak kedua. Kabar ini muncul sekitar satu tahun setelah pasangan tersebut mengumumkan adopsi putri pertama mereka.
Sumber yang dikutip People menyebutkan bahwa pasangan yang menikah pada 2024 itu telah menyambut anak kedua. Meski demikian, detail mengenai anak tersebut, termasuk jenis kelamin dan nama, belum diungkap ke publik. Millie, 22 tahun, dan Jake, 24 tahun, memang dikenal tertutup soal kehidupan pribadi, terutama setelah menjadi orang tua.
Petunjuk mengenai kehadiran anggota baru keluarga itu sempat terlihat dalam unggahan Instagram Millie pada 7 September lalu. Dalam video yang diambil saat berjalan-jalan dengan alpaca di pegunungan Dolomites, Italia, Millie tampak menggendong putri mereka, sementara Jake berjalan di sampingnya dengan gendongan bayi di dada. Namun, sosok bayi tersebut tidak terlihat jelas.
Keputusan pasangan ini untuk mengadopsi bukan hal baru. Dalam wawancara di podcast Not Gonna Lie milik Kylie Kelce pada Juni lalu, Millie mengungkapkan bahwa adopsi telah menjadi impiannya sejak kecil. "Saya selalu ingin mengadopsi. Itu bagian dari mimpi masa kecil saya. Setiap kali di rumah, saat saya berusia lima atau enam tahun, orang tua saya berkata, 'Kamu punya boneka bayi.' Semuanya adopsi. Saya tidak pernah punya sendiri. Dan saya tidak pernah berpura-pura hamil," ujarnya.
Ia menambahkan, "Bukan karena saya tidak menginginkannya. Semoga suatu hari itu ada di masa depan saya." Millie juga pernah menempuh studi pekerjaan sosial dan tertarik pada kursus tentang adopsi. "Adopsi adalah cinta, adopsi adalah selamanya," tegasnya. "Saya menyukai aspek adopsi dalam kursus pekerjaan sosial saya... sangat bermakna dan penting. Saya juga belajar tentang menjadi ibu kandung dan bagaimana perjalanannya. Jadi saya dan suami meluangkan banyak waktu untuk fokus pada kisah dan perjalanan itu. Lalu kami memulainya."
"Kita semua adalah ibu, baik ibu adopsi, ibu kandung, maupun figur keibuan. Semua orang harus dirayakan. Kita membesarkan generasi berikutnya. Jadi, tentu saja, perempuan harus dirayakan dalam segala hal, setiap hari." - Millie Bobby Brown
Pernyataan tersebut disampaikan Millie kepada Extra pada Mei lalu, menegaskan pandangannya bahwa setiap perempuan yang membesarkan anak berhak mendapatkan apresiasi, terlepas dari bagaimana mereka membangun keluarga. Ia juga mengaku bangga menjadi ibu adopsi dan ingin semua ibu dirayakan.
Di Indonesia, adopsi masih menjadi topik yang jarang dibicarakan secara terbuka. Data Kementerian Sosial menunjukkan bahwa jumlah adopsi anak di dalam negeri cenderung fluktuatif, dengan prosedur yang ketat dan memerlukan izin pengadilan. Kisah Millie dan Jake dapat menjadi cermin bahwa adopsi adalah pilihan sah dan penuh cinta, meskipun tantangan birokrasi dan stigma sosial masih ada. Bagi banyak pasangan di Indonesia, adopsi sering kali menjadi jalan terakhir setelah upaya medis, padahal adopsi bisa menjadi pilihan utama sejak awal.
Keputusan selebritas global seperti Millie untuk mengadopsi anak juga berpotensi mengubah cara pandang masyarakat terhadap keluarga non-biologis. Di era media sosial, cerita seperti ini bisa memperluas diskusi tentang definisi keluarga dan peran orang tua angkat. Namun, perlu diingat bahwa adopsi bukan sekadar tren, melainkan komitmen seumur hidup yang membutuhkan kesiapan mental, finansial, dan emosional.
Ke depan, publik menantikan apakah Millie dan Jake akan lebih terbuka mengenai proses adopsi mereka, atau tetap menjaga privasi seperti yang selama ini mereka lakukan. Yang jelas, langkah mereka menambah daftar panjang selebritas yang memilih jalur adopsi, sekaligus menginspirasi banyak orang untuk mempertimbangkan opsi tersebut. Akankah gelombang ini memicu perubahan kebijakan adopsi yang lebih ramah di berbagai negara, termasuk Indonesia?



