Sterling Financial Cetak Laba Rp50,3 Miliar di Tengah Tekanan Pasar, Sahamnya Justru Menguat
Baca dalam 60 detik
- Saham Sterling Financial melesat 15% sejak awal tahun meski indeks utama NGX terkoreksi 0,66%.
- Kinerja semester pertama 2026 menunjukkan laba bersih naik 20,4% menjadi ₦50,30 miliar, didorong pendapatan bunga.
- Ekspansi aset dan dana pihak ketiga yang solid menegaskan posisi Sterling sebagai salah satu bank dengan pertumbuhan tercepat di Nigeria.

Di tengah laju indeks utama Bursa Efek Nigeria (NGX) yang terkoreksi 0,66% ke level 245.362,26 poin, saham Sterling Financial justru berhasil menembus arus negatif dan menempati posisi ketiga jajaran top gainers. Pergerakan ini terjadi setelah konglomerasi keuangan tersebut merilis laporan keuangan semester pertama tahun fiskal 2026 yang mencatatkan pertumbuhan laba dua digit, sebuah sinyal ketahanan di saat mayoritas emiten perbankan sedang mengalami aksi ambil untung.
Data NGX menunjukkan indeks sektor perbankan anjlok 2,04% pada hari yang sama, dengan 45 saham ditutup melemah berbanding 17 yang menguat. Analis dari Cowry Asset Management menilai tekanan jual ini merupakan kelanjutan dari aksi profit taking menyusul reli pasar sepanjang Juli lalu. Namun, Sterling Financial justru menjadi pengecualian—sahamnya diperdagangkan sebanyak 36,01 juta lembar dengan nilai transaksi sekitar ₦286,8 juta, menandakan minat investor yang tetap tinggi terhadap emiten dengan fundamental solid.
Kinerja keuangan Sterling Financial pada paruh pertama 2026 memang layak menjadi sorotan. Laba setelah pajak melonjak 20,4% menjadi ₦50,30 miliar, sementara laba sebelum pajak tumbuh 21,9% ke ₦55,50 miliar. Pendapatan bruto naik 31,5% menjadi ₦279,6 miliar, ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga sebesar 33,7%. Pendapatan bunga bersih bahkan meningkat lebih tajam, yaitu 41,0% menjadi ₦137,4 miliar. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa meskipun lingkungan suku bunga global masih fluktuatif, strategi Sterling dalam mengoptimalkan portofolio kredit dan manajemen likuiditas berhasil mendongkrak profitabilitas.
Ekspansi neraca juga berjalan agresif. Total aset Sterling Financial tumbuh 19,3% menjadi ₦4,67 triliun, sementara simpanan nasabah meningkat 21,1% ke ₦3,62 triliun. Dana pemegang saham naik 27,8% menjadi ₦547,7 miliar, sebagian besar berasal dari penerbitan saham baru sebanyak 13,8 miliar lembar melalui penawaran umum yang berhasil mengumpulkan dana segar ₦96,6 miliar. Dengan tambahan modal tersebut, rasio return on average equity (ROAE) mencapai 20,6%, dan return on average assets (ROAA) membaik dari 2,05% menjadi 2,35%. Laba per saham dasar tercatat 77 kobo, yang mencerminkan efek dilusi dari penambahan jumlah saham beredar.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, kinerja Sterling Financial memberikan gambaran menarik tentang bagaimana bank-bank di kawasan Afrika mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi global. Meski skala dan regulasi berbeda, strategi diversifikasi pendapatan dan penguatan modal melalui rights issue dapat menjadi pelajaran berharga bagi perbankan nasional yang tengah menghadapi tantangan serupa. Pengalaman Sterling menunjukkan bahwa fokus pada efisiensi operasional dan inovasi produk—seperti yang dilakukan melalui anak usahanya di bidang perbankan syariah dan manajemen kekayaan—dapat menjadi kunci pertumbuhan berkelanjutan.
Sterling Financial sendiri beroperasi sebagai perusahaan induk keuangan yang terdiversifikasi, dengan lini bisnis mencakup perbankan konvensional melalui Sterling Bank Limited, perbankan non-bunga melalui The Alternative Bank Limited, serta manajemen kekayaan melalui SterlingFI Wealth Management. Manajemen grup mengaitkan kinerja semester pertama dengan modernisasi teknologi dan model operasional yang sedang berjalan, dan optimistis dapat mempertahankan momentum tersebut hingga akhir tahun.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah reli saham Sterling Financial akan berlanjut seiring dengan ekspektasi pasar terhadap rilis laporan kuartal ketiga. Dengan fundamental yang kuat dan dukungan modal baru, emiten ini berpotensi menjadi primadona di bursa Nigeria. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko perlambatan ekonomi global dan potensi kenaikan suku bunga yang dapat mempengaruhi margin bunga bersih. Apakah Sterling mampu mempertahankan tren pertumbuhan ini di tengah ketidakpastian? Waktu yang akan menjawab.



