Gelombang Panas Ekstrem Melanda Semenanjung Korea, Korea Selatan Terbitkan Peringatan Pertama untuk Seoul
Baca dalam 60 detik
- Suhu 42,5ยฐC di Yangsan memecahkan rekor 122 tahun, memicu peringatan panas ekstrem pertama di Seoul.
- Pemerintah Korea Selatan menaikkan status siaga dan mengerahkan sumber daya untuk menghadapi dampak kesehatan dan kelistrikan.
- Korea Utara juga mencatat suhu mendekati 40ยฐC, dengan fenomena malam tropis kelima di Pyongyang.

Gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya melanda Semenanjung Korea, memaksa otoritas di Seoul dan Pyongyang untuk memperluas langkah darurat. Korea Selatan, yang sebelumnya hanya berkutat di wilayah tenggara, kini harus menghadapi suhu ekstrem yang merambah ibu kota dan sekitarnya, dengan catatan rekor baru yang memecahkan sejarah pengamatan cuaca selama 122 tahun.
Badan Meteorologi Korea (KMA) mencatat suhu 42,5 derajat Celsius di Yangsan pada Minggu, angka tertinggi sejak pengukuran dimulai. Sebelumnya, kota di tenggara itu sudah memecahkan rekor nasional pada dua hari beruntun. Kondisi ini mendorong KMA untuk mengeluarkan peringatan panas ekstrem pertama kalinya bagi sebagian wilayah Seoul dan Provinsi Gyeonggi pada Senin, sementara status siaga tertinggi masih berlaku di kawasan selatan seperti Busan, Ulsan, dan sebagian Gwangju.
Dampaknya langsung terasa. Data Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korea hingga Minggu menunjukkan 14 orang meninggal dan 1.889 lainnya menderita penyakit terkait panas sejak pertengahan Mei. Perdana Menteri Han Seong-sook telah memerintahkan seluruh kementerian dan pemerintah daerah untuk memobilisasi semua sumber daya guna merespons risiko panas dan kekeringan, setelah pemerintah menaikkan tingkat siaga ke level kedua tertinggi. Langkah ini membuka akses dana bantuan dan meningkatkan frekuensi inspeksi di daerah terdampak.
Di tengah tekanan ini, otoritas kelistrikan telah mengaktifkan prosedur darurat dan memantau ketat pasokan serta permintaan. Konsumsi listrik diperkirakan mencapai rekor tertinggi pada akhir Agustus seiring melonjaknya penggunaan pendingin udara. Sementara itu, pemerintah daerah bergegas melindungi warga rentan; distrik-distrik di Seoul memperluas tempat penyejuk udara, membagikan air minum gratis, dan payung matahari. Kota Yangsan menambah operasi penyemprotan air dan distribusi air bersih.
Kehidupan sehari-hari ikut terganggu. Liga Bisbol Korea (KBO) membatalkan pertandingan di Busan dan Changwon pada akhir pekan, dan mengisyaratkan penyesuaian jadwal lebih lanjut jika kondisi berbahaya berlanjut. Media lokal melaporkan pantai, taman air, dan area rekreasi tepi sungai dipadati pengunjung yang mencari kesejukan. Di Cheonggyecheon, Seoul, tempat festival air musim panas digelar, keluarga-keluarga berusaha melepas gerah. Salah seorang pengunjung, Park Jin-woo (39), mengungkapkan, "Empat puluh derajat bukan angka yang biasa kami lihat di Korea, tapi sekarang terasa seperti sering terjadi." Warga lain, Lee Jub-young (43), menambahkan bahwa payung kini menjadi kebutuhan, bukan sekadar aksesori. "Krisis iklim ini sudah bisa dirasakan warga di kulit mereka sendiri," ujarnya.
Korea Utara mengalami kondisi serupa. Media pemerintah melaporkan suhu mendekati 40 derajat Celsius di sejumlah wilayah dan malam tropis kelima berturut-turut di Pyongyang. Peringatan panas yang mencakup sebagian besar negeri akan berlangsung sepanjang pekan. Puluhan ribu orang tercatat mengunjungi Zona Wisata Pesisir Wonsan Kalma selama Juli, sementara taman air di Pyongyang dilaporkan penuh sesak.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak lagi sekadar wacana global, melainkan realitas yang dirasakan langsung di kawasan Asia Timur. Bagi Indonesia, gelombang panas ekstrem di Korea menjadi sinyal bahwa negara-negara tropis pun harus bersiap menghadapi cuaca yang semakin tidak menentu. Pertanyaannya, apakah infrastruktur dan sistem peringatan dini di negara kita sudah cukup tangguh menghadapi skenario serupa?



