Don Warrington Takjub Rising Damp Masih Ditonton 50 Tahun Usai Tayang
Baca dalam 60 detik
- Aktor Don Warrington mengaku setiap pekan masih ada saja orang yang membahas sitkom Rising Damp yang tayang 1974–1978.
- Kreator Eric Chappell menilai acara itu tak mungkin dibuat ulang sekarang karena lelucon ras dan kelas yang dianggap sensitif.
- Popularitas lintas generasi ini menegaskan daya tahan sitkom klasik di pasar streaming global, termasuk peluangnya di Indonesia.

Aktor kawakan Inggris Don Warrington mengaku heran sekaligus bangga karena Rising Damp, sitkom yang pertama kali mengudara lebih dari lima dekade silam, masih saja diperbincangkan orang hingga kini. Pria berusia 75 tahun itu mengatakan hampir tidak ada pekan yang lewat tanpa seseorang menghampirinya untuk membicarakan perannya sebagai Philip Smith, penyewa kamar yang cerdas dan berkelas di serial ITV tersebut.
Rising Damp tayang empat musim antara 1974 dan 1978, dengan Leonard Rossiter sebagai tuan rumah pelit Rupert Rigsby dan almarhum Richard Beckinsale sebagai mahasiswa kedokteran Alan Moore. Konflik utama acara ini berpusat pada ketegangan antara Philip—pria keturunan Afrika-Britania generasi kedua asal Croydon—dan Rigsby yang sinis serta picik, terutama karena Miss Jones (Frances de la Tour) justru menaruh hati pada Philip.
Warrington, yang kini membintangi serial detektif BBC Death in Paradise, mengaku belum menonton ulang Rising Damp selama bertahun-tahun. Meski begitu, ia tetap terkesan dengan kesetiaan penggemar. "Saya sungguh takjub. Saya merasa sudah jadi orang yang berbeda sekarang. Tapi orang-orang menghampiri saya di jalan dan membicarakannya," ujarnya kepada BANG Showbiz. Ia menolak berkomentar soal potensi royalti dari penayangan ulang yang terus berjalan.
Kreator Rising Damp, Eric Chappell, melihat warisan acara itu dengan kacamata berbeda. Dalam wawancara dengan majalah The Oldie, ia menyebut naskahnya kini terasa "seolah ditulis orang lain dari dunia lain". Chappell menegaskan lelucon-lelucon tersebut tidak mungkin ditulis ulang pada masa sekarang, termasuk oleh dirinya sendiri. Ia menyadari sebagian materi sudah tidak pantas jika diuji dengan sensibilitas modern.
"Mengapa masih ditayangkan? Mungkin karena kami selalu berusaha bercerita, dan orang tidak pernah bosan pada cerita," kata Eric Chappell, mengutip kebiasaan Leonard Rossiter yang kerap mempertahankan lelucon dengan kalimat, "Itu lucu, Eric, biarkan saja."
Chappell juga mengungkap alasan di balik keputusan menghentikan acara di puncak popularitas. Ia dan Rossiter sama-sama bukan berlatar teater; Rossiter lama bekerja di perusahaan asuransi, sementara Chappell di kantor listrik. Keduanya merasa cukup dengan produksi jangka panjang dan memilih melanjutkan hidup. "Kami tidak tahu Rising Damp akan menjadi bagian kecil sejarah televisi," tambahnya.
Fenomena Rising Damp mencerminkan pola yang juga terlihat di pasar hiburan Indonesia. Serial klasik seperti Si Doel Anak Sekolahan atau Keluarga Cemara masih memiliki penggemar setia dan kerap diputar ulang di platform digital. Namun, berbeda dengan Inggris yang memiliki mekanisme peringatan konten, di Indonesia tantangan serupa muncul ketika lelucon lama bertabrakan dengan norma sosial yang terus berubah. Penyedia layanan streaming di dalam negeri menghadapi dilema antara melestarikan warisan budaya dan menghindari konten yang berpotensi menyinggung.
Bagi industri kreatif Indonesia, keberhasilan Rising Damp menawarkan pelajaran tentang nilai jangka panjang dari penceritaan yang kuat. Di tengah banjir konten baru, acara yang mampu bertahan puluhan tahun justru menjadi aset katalog yang menguntungkan. Platform seperti Netflix, Vidio, dan WeTV semakin agresif membeli hak tayang library lama, meski harus menyeimbangkan dengan sensor dan preferensi lokal.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Rising Damp akan terus ditonton, tetapi bagaimana industri hiburan global—termasuk Indonesia—menyikapi karya lama yang mengandung nilai usang. Apakah peringatan konten cukup, atau perlu ada pendekatan kurasi yang lebih aktif? Warrington dan Chappell sama-sama menunjukkan bahwa nostalgia punya daya tarik abadi, tetapi juga menuntut tanggung jawab baru dari pembuat dan distributor konten.



