Longsor di Filipina Utara Tewaskan Empat Orang, Sekolah dan Kantor Pemerintah Ditutup
Baca dalam 60 detik
- Empat orang tewas akibat longsor yang dipicu hujan deras di Luzon, Filipina, dengan tiga korban terkubur di sebuah restoran di Benguet.
- Depresi tropis Kujira yang melemah masih membawa angin kencang dan hujan, meningkatkan risiko banjir dan longsor karena tanah sudah jenuh.
- Peristiwa ini menegaskan kembali kerentanan Filipina terhadap siklon tropis, yang diperparah oleh perubahan iklim, dan menjadi pelajaran bagi Indonesia yang juga rawan bencana.

Empat orang tewas dalam rentetan tanah longsor yang dipicu hujan deras di wilayah utara Filipina, Kamis (6/8), memaksa pemerintah menutup kantor dan sekolah di ibu kota serta sejumlah provinsi. Peristiwa ini terjadi saat depresi tropis Kujira, yang sebelumnya berstatus badai tropis, masih bergerak menuju Laut Filipina.
Di Provinsi Benguet, sekitar enam jam perjalanan dari Manila, tebing bukit longsor dan menimpa sebuah restoran kecil, mengubur tiga karyawan yang sedang berada di dapur. Dua di antaranya ditemukan tewas, sementara satu orang berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup. "Satu selamat, dua tewas di tempat," kata Kolonel Dionisio Bonoy dari kepolisian provinsi Benguet. Ia menambahkan bahwa upaya penyelamatan difokuskan pada korban selamat yang ditemukan pukul 10.00 waktu setempat.
Bencana serupa juga dilaporkan di Provinsi Rizal yang bertetangga, di mana dua orang tewas akibat longsor sehari sebelumnya, menurut Badan Penanggulangan Bencana Nasional Filipina. Total korban jiwa mencapai empat orang, dan jumlah tersebut diperkirakan masih bisa bertambah mengingat kondisi tanah yang sudah jenuh akibat hujan yang mengguyur Luzon selama empat hari berturut-turut.
Depresi tropis Kujira, yang kini melemah, masih membawa angin dengan kecepatan hingga 55 kilometer per jam. Ahli meteorologi pemerintah, John Manalo, memperingatkan bahwa angin kencang masih bisa memengaruhi sebagian besar wilayah negara itu. "Karena tanah kita sudah jenuh dan basah, potensi banjir dan longsor akan lebih tinggi," ujarnya. Peringatan ini menjadi krusial mengingat banyak permukiman di Filipina berada di lereng bukit dan daerah aliran sungai.
Bencana ini kembali menyoroti posisi Filipina sebagai negara pertama yang menghadapi sabuk siklon Pasifik. Dengan rata-rata 20 badai dan topan per tahun, jutaan penduduk di daerah rawan bencana hidup dalam kondisi rentan. Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim yang didorong aktivitas manusia membuat cuaca ekstrem semakin sering, berkepanjangan, dan intens.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Meski Indonesia tidak berada di jalur topan, fenomena seperti siklon tropis di selatan ekuator kerap memicu hujan ekstrem dan longsor di berbagai wilayah, seperti yang terjadi di sejumlah daerah akhir-akhir ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali mengingatkan potensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dapat memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur penahan longsor. Apakah investasi dalam mitigasi bencana akan ditingkatkan seiring meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem? Atau akankah peristiwa seperti ini terus berulang dengan korban jiwa yang tak terhindarkan?



