Obat Penyakit Paru Rancangan AI Tunjukkan Sinyal Pembalikan Penuaan Biologis
Baca dalam 60 detik
- Uji klinis fase 2a pada 42 pasien fibrosis paru idiopatik menunjukkan rentosertib, obat hasil desain AI, menurunkan penanda usia biologis hingga 3-4 tahun.
- Temuan ini memperkuat hipotesis bahwa AI dapat mempercepat penemuan target terapi dan merancang molekul yang sebelumnya sulit dijangkau peneliti.
- Meski menjanjikan, para ahli mengingatkan studi berdurasi 12 minggu dengan sampel kecil belum membuktikan pembalikan penuaan pada manusia.

Hasil uji klinis fase 2a yang dipublikasikan di jurnal Nature Biotechnology pada 7 September mengungkap bahwa rentosertib, obat penyakit paru yang dirancang sepenuhnya menggunakan kecerdasan buatan, mampu menurunkan penanda usia biologis pasien fibrosis paru idiopatik (IPF). Temuan ini menjadi sinyal awal bahwa AI tidak hanya mempercepat penemuan obat, tetapi juga berpotensi menyasar proses biologis yang selama ini dianggap tak terbalikkan.
Rentosertib bekerja dengan menghambat TNIK, enzim protein yang berperan dalam pertumbuhan sel dan kesehatan otak. Aktivitas TNIK yang berlebihan sebelumnya dikaitkan dengan sejumlah kondisi, termasuk kanker tertentu, penyakit fibrotik seperti IPF, dan gangguan metabolik. Dalam studi tersebut, peneliti menganalisis sampel darah dari 42 partisipan yang menerima rentosertib selama 12 minggu. Mereka mengukur lebih dari 2.800 protein dan menerapkannya pada enam model jam penuaan proteomik—alat berbasis pembelajaran mesin yang memperkirakan usia biologis seseorang dari pola protein, bukan usia kalender.
Hasilnya, keenam model menunjukkan pergeseran ke arah usia biologis yang lebih muda. Efek puncak dilaporkan terjadi pada minggu keempat, dengan pembalikan sekitar 3 hingga 4 tahun, dan hingga 6 tahun pada satu jam penuaan spesifik. Meski demikian, para pakar yang tidak terlibat dalam studi memperingatkan agar temuan ini tidak ditafsirkan berlebihan.
Dung Trinh, dokter spesialis penyakit dalam di MemorialCare Medical Group, menilai konsistensi sinyal dari enam model jam penuaan memang menarik. Namun ia menegaskan studi ini tidak membuktikan obat tersebut membalikkan penuaan manusia. "Studi ini kecil, melibatkan pasien dengan fibrosis paru idiopatik, dan hanya berlangsung 12 minggu, sehingga sebagian perubahan biomarker bisa jadi mencerminkan perbaikan penyakit yang mendasari," ujarnya kepada Medical News Today. Trinh melihatnya sebagai sinyal menjanjikan bahwa pengukuran dampak terapi terhadap biologi penuaan semakin baik, tetapi belum ada bukti pasien benar-benar menjadi lebih muda secara biologis.
Zeeshan Khan, kepala kedokteran geriatri di Hackensack Meridian Jersey Shore University Medical Center, menambahkan bahwa skor jam penuaan yang lebih muda tidak sama dengan pembalikan penuaan. "Yang pada akhirnya penting adalah apakah pasien hidup lebih sehat dan lebih fungsional. Di geriatri, tujuan kami bukan sekadar memperpanjang rentang hidup, melainkan memperpanjang rentang kesehatan—tahun-tahun ketika orang tetap sehat, mandiri, dan berfungsi secara kognitif maupun fisik," jelas Khan. Ia menilai jika proses biologis yang berkontribusi pada berbagai penyakit terkait usia dapat disasar secara aman, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada mengobati setiap penyakit setelah muncul.
"Rentosertib adalah contoh menarik karena AI digunakan baik untuk mengidentifikasi TNIK sebagai target terapeutik potensial maupun untuk merancang molekul yang menghambatnya. Program pengembangan sebelumnya dilaporkan bergerak dari penemuan target ke kandidat praklinis dalam sekitar 18 bulan. Itu menunjukkan potensi AI mempercepat dan mengefisienkan sebagian proses penemuan obat." — Peter Gliebus, MD, Kepala Neurologi Marcus Neuroscience Institute
Gliebus juga menekankan bahwa AI tidak akan menggantikan peran dokter, ilmuwan, atau uji klinis yang ketat. Komputer dapat membantu mengidentifikasi molekul menjanjikan, tetapi peneliti tetap harus menentukan apakah molekul itu aman, benar-benar bekerja pada manusia, dan manfaatnya melebihi risikonya. Ia memandang AI sebagai alat ampuh yang dapat mempercepat pengembangan obat, bukan pengganti proses ilmiah tradisional.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran penting. Dengan populasi menua yang diproyeksikan meningkat dalam dua dekade mendatang, Indonesia menghadapi beban penyakit degeneratif dan fibrotik yang kian besar. Pemanfaatan AI dalam riset obat dapat menjadi peluang untuk mempercepat penemuan terapi yang relevan dengan karakteristik genetik dan lingkungan lokal. Namun, tanpa ekosistem uji klinis yang kuat, regulasi yang jelas, serta investasi pada data kesehatan yang terstandar, teknologi ini hanya akan menjadi wacana. Kolaborasi antara peneliti, industri, dan regulator menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar, tetapi juga aktor dalam inovasi kesehatan berbasis AI.
Pertanyaan besarnya kini: apakah sinyal awal dari rentosertib akan terkonfirmasi dalam uji coba yang lebih besar dan berdurasi panjang, ataukah ia hanya mencerminkan perbaikan penyakit yang mendasari? Jawabannya tidak hanya menentukan masa depan obat ini, tetapi juga arah adopsi AI dalam pengembangan terapi di seluruh dunia—termasuk di Indonesia.



