Beijing Peringatkan Washington: Eskalasi Tarif Baru Mengancam Stabilitas Ekonomi Global
Baca dalam 60 detik
- Dalam panggilan video, Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menyampaikan keprihatinan serius atas pembatasan dagang terbaru AS, termasuk tarif yang menyasar 60 negara.
- Washington mendesak Beijing memenuhi komitmen ekspor rare earth dan produk pertanian, sementara China memperluas kontrol ekspor ke perusahaan AS sebagai balasan.
- Pertemuan September antara Trump dan Xi menjadi ujian nyata apakah kedua negara bisa meredakan ketegangan atau justru terjerumus dalam perang dagang berkepanjangan.

Beijing, 31 Juli 2026 โ China secara resmi menyampaikan "keprihatinan serius" atas serangkaian pembatasan dagang terbaru Amerika Serikat dalam panggilan video tingkat tinggi yang berlangsung Kamis (30/7). Langkah ini menegaskan bahwa gencatan senjata dagang yang disepakati kedua negara tahun lalu kembali berada di ujung tanduk, di tengah tarif baru Washington yang menyasar mayoritas mitra dagangnya.
Panggilan antara Wakil Perdana Menteri China He Lifeng, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer merupakan komunikasi langsung pertama sejak pertemuan puncak Trump-Xi di Beijing pada Mei lalu. Dalam pernyataan resmi, Xinhua menyebut pembicaraan berlangsung "terus terang, mendalam, dan konstruktif", namun nada keprihatinan Beijing sulit disembunyikan. China menilai tarif yang dikenakan AS terhadap 60 negara, termasuk tuduhan kerja paksa, sebagai bentuk penindasan ekonomi yang tidak beralasan.
Ketegangan semakin memanas setelah Washington melarang impor robot humanoid dan quadruped yang diproduksi di luar negeri, langkah yang langsung dikecam Beijing sebagai upaya "menekan" perusahaan China. Di sisi lain, AS menuntut China memenuhi komitmennya terkait ekspor rare earth dan produk pertanian, yang menurut Bessent belum sepenuhnya direalisasikan. "Kami juga membahas implementasi Dewan Perdagangan dan Investasi sebagai mekanisme untuk mencapai kemajuan konkret menuju hubungan ekonomi yang lebih seimbang," tulis Bessent di media sosial.
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar konflik bilateral. Sebagai negara yang mengandalkan ekspor komoditas dan rantai pasok global, ketidakpastian perdagangan AS-China berpotensi memicu gejolak harga komoditas dan pergeseran investasi. Ekonom menilai Indonesia bisa menjadi tujuan relokasi sebagian rantai pasok, namun juga rentan terhadap perlambatan ekonomi China yang menjadi mitra dagang utama. "Setiap eskalasi tarif akan berdampak pada harga energi dan bahan baku yang diimpor Indonesia," ujar analis ekonomi di Jakarta.
Di tengah ketegangan, China telah menyiapkan regulasi yang memungkinkan hukuman bagi perusahaan asing yang memindahkan rantai pasok keluar dari China. Langkah ini merupakan buntut dari pencatutan nama perusahaan China seperti BYD, NIO, Alibaba, dan Baidu dalam daftar yang dianggap mendukung militer AS. Sumber yang dekat dengan negosiasi mengatakan Washington telah berulang kali memperingatkan Beijing, namun China terus meningkatkan eskalasi. "Eskalasi berkelanjutan China akan menimbulkan konsekuensi," ujar sumber tersebut tanpa merinci.
Pertemuan puncak yang dijadwalkan pada September antara Trump dan Xi, yang diundang saat kunjungan Trump ke Beijing, menjadi momentum krusial. Bessent mengonfirmasi bahwa panggilan video tersebut adalah bagian dari persiapan pertemuan itu. Namun, dengan sikap saling keras, banyak pihak mempertanyakan apakah kedua pemimpin mampu mencapai kesepakatan yang lebih substansial atau justru memperdalam jurang perpecahan. Bagi pasar global, jawabannya akan menentukan arah kebijakan perdagangan dunia dalam beberapa tahun ke depan.



