Cadangan Devisa Jepang Cetak Surplus Rp 500 Triliun: Berkah Yen Lemah atau Bom Waktu?
Baca dalam 60 detik
- Akun khusus cadangan devisa Jepang mencatat surplus 5,06 triliun yen (sekitar Rp 500 triliun) pada tahun fiskal 2025, tertinggi kedua sepanjang sejarah.
- Keuntungan ini terutama berasal dari selisih bunga yang lebar antara AS dan Jepang serta pelemahan yen yang meningkatkan nilai aset dalam mata uang lokal.
- Pemerintah Jepang berencana memanfaatkan surplus ini untuk mendanai pemotongan pajak konsumsi, sebuah langkah yang berpotensi memicu perdebatan tentang keberlanjutan fiskal.

Pemerintah Jepang mengumumkan bahwa akun khusus pengelolaan cadangan devisa mencatat surplus sebesar 5,06 triliun yen atau setara 31 miliar dolar AS pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025. Angka ini menjadi yang tertinggi kedua sepanjang sejarah, hanya kalah dari rekor 5,36 triliun yen pada tahun fiskal sebelumnya. Keuntungan ini terutama didorong oleh melemahnya yen yang meningkatkan nilai pengembalian aset asing ketika dikonversi ke mata uang lokal.
Kementerian Keuangan Jepang, yang merilis data pada Jumat (31/7), menjelaskan bahwa aset dalam akun tersebut mayoritas diinvestasikan pada obligasi pemerintah AS. Pendanaan akun ini berasal dari penerbitan surat utang jangka pendek dalam yen, sementara pendapatan dari obligasi AS jauh melampaui biaya bunga karena perbedaan suku bunga yang signifikan antara kedua negara. Fenomena ini menjadi berkah bagi Tokyo di tengah kebijakan moneter yang masih longgar.
Dari total surplus tersebut, pemerintah mengalokasikan 3,13 triliun yen untuk ditransfer ke rekening umum sebagai pendapatan tahun fiskal 2026. Sementara itu, 1,34 triliun yen dialokasikan ke dana valuta asing, dan 585 miliar yen lainnya dibawa ke pendapatan tahun fiskal 2026 akun khusus. Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah untuk memanfaatkan keuntungan tak terduga secara strategis, baik untuk kebutuhan fiskal maupun memperkuat buffer intervensi pasar.
Perdana Menteri Sanae Takaichi menilai cadangan devisa sebagai salah satu penerima manfaat terbesar dari pelemahan yen dan menyebut kinerjanya "sangat baik". Pernyataan ini muncul di tengah wacana pemerintah untuk menggunakan surplus tersebut guna mendanai rencana penghapusan pajak konsumsi atas bahan makanan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi politik Takaichi untuk meredam tekanan biaya hidup, meskipun menuai kritik dari ekonom yang mengkhawatirkan dampaknya terhadap disiplin fiskal.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan pelajaran penting tentang pengelolaan cadangan devisa di tengah fluktuasi nilai tukar. Bank Indonesia (BI) dapat meniru strategi diversifikasi investasi pada aset berdenominasi dolar untuk memaksimalkan imbal hasil, terutama ketika suku bunga The Fed masih tinggi. Namun, perlu diingat bahwa keuntungan dari selisih suku bunga bersifat sementara dan dapat berbalik arah jika kebijakan moneter global berubah.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Jepang dapat mempertahankan surplus ini jika yen menguat kembali atau The Fed mulai memangkas suku bunga. Pemerintah Takaichi juga harus berhati-hati dalam mengalokasikan keuntungan tak terduga ini, karena ketergantungan pada pendapatan dari selisih suku bunga dapat menjadi bumerang ketika kondisi pasar berbalik. Keputusan untuk menggunakan surplus demi meringankan beban masyarakat memang populis, tetapi perlu diimbangi dengan perencanaan fiskal jangka panjang yang matang.



