Yen Terus Tertekan Meski BOJ Tahan Suku Bunga: Intervensi Bersama Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Bank of Japan mempertahankan suku bunga acuan di 1%, namun yen masih melemah ke level 160 per dolar AS.
- Intervensi terkoordinasi Jepang dan Korea Selatan gagal mengangkat yen secara berkelanjutan, spekulan kembali menumpuk posisi jual.
- Pelaku pasar kini mengantisipasi kenaikan suku bunga BOJ lebih cepat, dengan target 1,25% pada akhir tahun.

Yen Jepang kembali terpuruk ke level terendah dalam empat dekade, meskipun Bank of Japan (BOJ) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada 1% dalam pertemuan Jumat (31/7). Keputusan yang sesuai ekspektasi pasar ini memicu aksi jual yen, mendorong dolar AS menguat 0,81% ke 160,76 yen, setelah sehari sebelumnya yen sempat melonjak 2,4%โpenurunan harian terbesar sejak Januari 2023โakibat intervensi pasar yang dilakukan pemerintah Jepang.
Intervensi yang dilakukan pada sesi New York, Kamis malam, merupakan upaya Tokyo untuk menopang mata uangnya yang terus melemah. Langkah ini mendapat dukungan dari Amerika Serikat, yang menurut pejabat tinggi diplomatik Jepang, "melampaui dukungan psikologis". Namun, dukungan tersebut tampaknya belum cukup untuk mengubah tren pelemahan yen. Dalam langkah yang jarang terjadi, Korea Selatan juga melakukan intervensi serupa pada hari yang sama, yang sempat mengangkat won ke level tertinggi sembilan bulan sebelum akhirnya kembali melemah.
Spekulan pasar kembali menumpuk posisi jual (short) terhadap yen. Data dari regulator AS menunjukkan posisi short bersih mencapai US$11,65 miliar, mendekati level tertinggi dalam dua tahun. Chris Weston, kepala riset Pepperstone, menilai koordinasi antarnegara merupakan sinyal positif bagi yen dan akan membuat spekulan berpikir dua kali. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pergerakan 450-500 pip dapat melukai posisi leveraged.
Keputusan BOJ untuk tidak menaikkan suku bunga menuai kritik karena dianggap terlalu lambat dalam merespons tekanan inflasi dan pelemahan yen. Sebagian besar analis memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga ke 1,25% pada akhir tahun ini. Namun, Nick Twidale, kepala strategi pasar ATFX Global di Sydney, mempertanyakan apakah BOJ akan melakukan kenaikan kejutan, mengingat besarnya dana yang telah dikeluarkan untuk intervensi.
Keputusan BOJ ini terjadi setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya, yang membuat dolar AS tertekan. Indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah 0,8% dalam sepekan, meskipun pada perdagangan Jumat sempat menguat tipis ke 100,12. Euro dan poundsterling juga menunjukkan pergerakan terbatas, sementara dolar Australia dan Selandia Baru melemah tipis.
Bagi Indonesia, pelemahan yen dan ketidakpastian kebijakan moneter global membawa implikasi yang perlu dicermati. Pertama, penguatan dolar AS berpotensi menekan rupiah, mengingat dolar AS masih menjadi mata uang dominan dalam perdagangan internasional. Kedua, kebijakan BOJ yang cenderung dovish dapat mendorong aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, mencari imbal hasil yang lebih tinggi. Namun, jika BOJ akhirnya menaikkan suku bunga lebih cepat, arus modal asing bisa berbalik arah.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah BOJ akan mengambil langkah lebih agresif untuk menstabilkan yen, atau justru membiarkan pasar menemukan keseimbangannya sendiri. Intervensi yang dilakukan bersama Korea Selatan menunjukkan adanya koordinasi regional untuk melawan dominasi dolar AS, namun efektivitasnya masih diuji. Jika tekanan terhadap yen berlanjut, bukan tidak mungkin BOJ akan terpaksa menaikkan suku bunga di luar jadwal yang diantisipasi pasar.



