Harga Minyak Turun, Koalisi Maritim 14 Negara Redakan Ketegangan di Laut Merah
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah dunia melemah setelah Arab Saudi dan 13 negara membentuk koalisi keamanan maritim untuk mengamankan jalur pelayaran di Laut Merah.
- Langkah ini meredakan kekhawatiran gangguan pasokan minyak, meskipun ketegangan AS-Iran masih berlanjut.
- Bagi Indonesia, stabilitas harga minyak berdampak pada APBN dan inflasi, namun risiko gangguan rantai pasok tetap perlu diwaspadai.

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada Jumat (28/8) setelah Arab Saudi bersama 13 negara lainnya mengumumkan pembentukan koalisi keamanan maritim untuk melindungi jalur pelayaran di kawasan Laut Merah. Langkah ini meredakan kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan minyak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Brent untuk pengiriman Oktober tercatat turun 1,9 persen menjadi 85,26 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 2,1 persen ke level 81,86 dolar AS. Penurunan ini dipicu oleh optimisme bahwa risiko gangguan pada jalur pelayaran utama, terutama Selat Bab el-Mandeb, mulai berkurang.
Koalisi yang diumumkan pada Kamis (27/8) itu terdiri dari Arab Saudi, Turki, Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, Mesir, Pakistan, Djibouti, Somalia, Bangladesh, Yaman, dan Komoro. Tujuan utama aliansi ini adalah menjaga kebebasan navigasi, kelancaran perdagangan internasional, serta keamanan pasokan energi melalui Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden.
Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu titik paling kritis bagi lalu lintas kapal tanker minyak dunia. Setiap gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi secara global. Oleh karena itu, pembentukan koalisi ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menstabilkan pasar.
Di sisi lain, kelompok Houthi yang berbasis di Yaman membantah rencana mereka untuk mengenakan biaya transit bagi kapal komersial yang melintasi selat tersebut. Mereka menegaskan bahwa jalur pelayaran tetap aman dan terbuka, dengan pembatasan hanya berlaku untuk kapal yang terafiliasi dengan Arab Saudi. Pernyataan ini muncul setelah laporan Reuters yang menyebut Houthi sedang mempertimbangkan pungutan baru.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia memiliki dampak langsung terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), terutama melalui subsidi energi dan harga bahan bakar minyak (BBM). Penurunan harga saat ini dapat memberikan ruang fiskal yang lebih longgar, namun risiko gangguan pasokan tetap menjadi ancaman yang harus diantisipasi.
Analis energi menilai bahwa meskipun koalisi maritim ini mampu meredakan ketegangan jangka pendek, dinamika geopolitik di Timur Tengah masih rapuh. Konflik AS-Iran yang belum menemui titik terang, serta potensi eskalasi di kawasan, dapat kembali memicu volatilitas harga minyak.
Ke depan, efektivitas koalisi ini akan diuji oleh kemampuan mereka dalam mengamankan jalur pelayaran secara nyata. Pertanyaannya, apakah langkah ini cukup untuk mencegah gangguan pasokan yang lebih luas, atau justru akan memicu ketegangan baru dengan pihak-pihak yang merasa dirugikan?



