FIFA Tetap Melaju dengan Rencana Investasi Swasta, UEFA dan Konfederasi Lain Menolak
Baca dalam 60 detik
- FIFA mempertahankan rencana pembentukan anak usaha senilai US$20 miliar untuk mengelola Piala Dunia, dengan tawaran kepemilikan hingga 20 persen kepada investor eksternal.
- UEFA telah memboikot turnamen FIFA, sementara CONCACAF dan AFC menyatakan penolakan, menciptakan ketegangan besar dalam sepak bola global.
- Keputusan akhir akan ditentukan oleh suara mayoritas 211 asosiasi anggota, dengan batas waktu 19 September untuk menerima insentif US$40 juta.

FIFA menegaskan akan melanjutkan konsultasi terkait rencana investasi swasta untuk turnamen-turnamen besarnya, meskipun UEFA mengancam boikot dan sejumlah konfederasi regional melontarkan kritik tajam. Badan sepak bola dunia itu menyebut pemberitaan yang tidak akurat telah mengganggu proses konsultasi, namun mereka tetap berkomitmen untuk melanjutkannya.
Rencana tersebut mencakup pembentukan anak usaha baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) dengan nilai mencapai US$20 miliar. FFE akan mengelola Piala Dunia dan ajang lainnya, dengan menawarkan hingga 20 persen saham kepada investor eksternal. Dana investasi Thrive Eternal, yang dikelola oleh Thrive Capital milik Joshua Kushner, diperkirakan akan memimpin kelompok investor. Joshua merupakan saudara dari Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump.
UEFA, sebagai konfederasi sepak bola Eropa, menjadi pengkritik paling vokal. Pada Kamis, 55 asosiasi anggota UEFA memilih secara bulat untuk memboikot semua turnamen FIFA, kurang dari dua pekan setelah Spanyol dinobatkan sebagai juara dunia. UEFA menuduh FIFA menjual "jiwa" sepak bola demi kepentingan komersial.
Menanggapi kritik tersebut, FIFA menyatakan, "Tidak ada yang menjual sepak bola. Ini bukan sesuatu yang akan pernah dipertimbangkan FIFA." Mereka menambahkan bahwa setiap asosiasi anggota memiliki hak untuk menyuarakan penolakan dan mencari klarifikasi, tetapi tidak ada satu entitas pun yang dapat mengklaim mewakili seluruh 211 asosiasi anggota di dunia. FIFA menekankan prinsip demokrasi dalam pengambilan keputusan.
Selain UEFA, CONCACAF yang mewakili Amerika Utara, Tengah, dan Karibia juga menolak proposal tersebut dalam pertemuan Kamis, meskipun tidak sampai mengancam boikot. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengirim surat keras kepada 47 asosiasi anggotanya, memperingatkan bahwa rencana ini tidak akan pernah berhasil tanpa dukungan dari keenam blok regional.
Presiden FIFA Gianni Infantino telah mengirim surat kepada semua asosiasi anggota, menjanjikan masing-masing akan menerima US$40 juta jika menyetujui proposal sebelum 19 September. UEFA dan CONCACAF bersama-sama memiliki 96 asosiasi, hampir setengah dari total 211 anggota FIFA. Namun, FIFA menegaskan bahwa rencana tersebut tidak akan dilanjutkan tanpa dukungan mayoritas asosiasi anggota.
Di tengah polemik ini, gelandang Spanyol yang memenangkan Piala Dunia, Xabi Alonso, menyuarakan kekhawatirannya. Pelatih Chelsea itu mengatakan bahwa sepak bola harus memprioritaskan penggemar, bukan kepentingan pribadi. "Kami ingin menjaga sepak bola untuk para penggemar, untuk semua orang, bukan untuk kepentingan lain. Semoga ini tidak terjadi," ujarnya kepada wartawan di Sydney.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi yang signifikan. Sebagai salah satu dari 211 asosiasi anggota FIFA, PSSI akan memiliki hak suara dalam konsultasi ini. Keputusan yang diambil akan mempengaruhi arah pengelolaan Piala Dunia dan turnamen lainnya, yang berdampak pada peluang pengembangan sepak bola nasional, termasuk potensi pendanaan dan kerjasama internasional.
Langkah FIFA untuk melibatkan investor swasta juga memicu perdebatan tentang masa depan tata kelola sepak bola global. Apakah langkah ini akan membawa kemajuan finansial yang signifikan bagi asosiasi anggota, atau justru mengancam independensi olahraga? Pertanyaan ini menjadi pusat perhatian menjelang batas waktu 19 September, di mana setiap asosiasi harus menentukan sikapnya.



