CONCACAF Tolak Proposal Penjualan Saham Piala Dunia FIFA, Meksiko Pilih Kaji Dulu
Baca dalam 60 detik
- Konfederasi sepak bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) secara resmi menolak rencana FIFA menjual saham Piala Dunia karena minim transparansi.
- Meksiko, salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, belum mengambil sikap dan memilih mempelajari proposal tersebut lebih dalam melalui serangkaian diskusi.
- Penolakan ini menambah tekanan pada FIFA yang tengah mencari pendanaan baru, namun belum diikuti langkah boikot seperti yang dilakukan UEFA.

CONCACAF, konfederasi sepak bola yang menaungi 41 negara di Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, secara resmi menolak proposal FIFA untuk menjual sebagian hak kepemilikan Piala Dunia. Keputusan itu diambil dalam rapat pada Kamis (30/7) lalu, meskipun CONCACAF tidak serta-merta mengikuti langkah UEFA yang memilih memboikot turnamen global tersebut. Sementara itu, Federasi Sepak Bola Meksiko (FMF) menyatakan akan mengkaji proposal itu sebelum menentukan sikap akhir.
Dalam pernyataan resminya, CONCACAF mengungkapkan bahwa 41 anggota asosiasinya memiliki "kekhawatiran mendalam" terkait minimnya proses due process dalam penyusunan proposal. Tenggat waktu yang pendek dan ketiadaan tinjauan atau persetujuan dari badan tata kelola FIFA yang relevan menjadi alasan utama penolakan. "Diskusi ini memperkuat kebutuhan akan transparansi yang lebih besar dan tata kelola yang baik," tulis CONCACAF dalam siaran pers, seraya menegaskan bahwa mereka menolak proposal tersebut.
Langkah CONCACAF ini menjadi pukulan bagi FIFA yang tengah berupaya mencari sumber pendanaan baru melalui penjualan saham Piala Dunia. Sebelumnya, UEFA telah menyatakan akan memboikot turnamen jika rencana itu tetap dilanjutkan. Namun CONCACAF memilih sikap yang lebih moderat, tidak sampai pada ancaman boikot, setidaknya untuk saat ini. Keputusan ini menunjukkan adanya perpecahan di antara konfederasi regional dalam menyikapi rencana komersialisasi FIFA.
Federasi Sepak Bola Meksiko (FMF) mengambil jalur berbeda. Dalam pernyataan terpisah, FMF mengakui telah menerima informasi tentang proposal tersebut pada 28 Juli dan akan menggelar serangkaian diskusi meja bundar untuk mempelajari dokumen tambahan sebelum mengambil keputusan. "FMF akan menyelesaikan proses studi dan analisis ini untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi perkembangan sepak bola Meksiko," demikian bunyi pernyataan FMF, tanpa menyebutkan apakah pihaknya mendukung penolakan CONCACAF atau tidak.
Sikap Meksiko menjadi krusial karena negara tersebut akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Amerika Serikat dan Kanada. Sebagai tuan rumah, Meksiko memiliki kepentingan langsung terhadap masa depan turnamen. Keputusan FMF untuk tidak terburu-buru menolak atau menerima proposal menunjukkan adanya pertimbangan diplomatis dan komersial yang kompleks.
Bagi Indonesia, konflik internal FIFA ini patut dicermati. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia memiliki kepentingan terhadap tata kelola FIFA yang transparan. Jika rencana penjualan saham Piala Dunia terealisasi, hal itu berpotensi mengubah model bisnis turnamen dan berdampak pada distribusi pendapatan ke asosiasi anggota, termasuk PSSI. Selain itu, keputusan CONCACAF dan UEFA bisa menjadi preseden bagi konfederasi lain, seperti AFC, untuk ikut menekan FIFA agar lebih terbuka.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah FIFA akan merevisi proposalnya atau justru memaksakan rencana tersebut meskipun mendapat tentangan dari dua konfederasi besar. Dengan tenggat waktu yang ketat dan tekanan dari berbagai pihak, langkah FIFA selanjutnya akan menentukan arah hubungan antara induk organisasi sepak bola dunia dengan anggota-anggotanya.



