Hibs Balas Dendam: Comeback 4-1 ke Liga Conference, Gray Kini Disanjung Suporter
Baca dalam 60 detik
- Hibernian membalikkan defisit 0-2 menjadi agregat 4-2 atas Malisheva di babak kualifikasi Liga Conference, mengamankan tiket ke putaran ketiga melawan Shkendija.
- Pelatih David Gray, yang sempat dikritik setelah kekalahan telak di Kosovo, memuji intensitas dan mentalitas timnya sebagai kunci kebangkitan di Easter Road.
- Kemenangan ini menjadi modal berharga bagi Hibs jelang laga derby melawan Motherwell di Premiership, dengan jadwal padat Kamis-Minggu-Kamis yang menuntut rotasi pemain.

Hibernian memastikan langkah mereka ke putaran ketiga kualifikasi Liga Conference setelah membalikkan keadaan dengan kemenangan telak 4-1 atas Malisheva di Easter Road, Kamis (1/8) malam waktu setempat. Tertinggal 0-2 dari leg pertama di Kosovo pekan lalu, tim asuhan David Gray tampil agresif sejak menit awal dan langsung melesakkan empat gol beruntun sebelum kebobolan satu gol hiburan di masa injury time. Hasil agregat 4-2 ini membawa Hibs berhadapan dengan Shkendija asal Makedonia Utara pada babak berikutnya.
Kemenangan ini menjadi jawaban telak bagi para kritikus yang meragukan kapasitas Gray setelah penampilan buruk timnya di laga tandang. Suporter yang sempat melontarkan ejekan dan kekecewaan di Kosovo, berubah menjadi paduan suara yang meneriakkan nama sang pelatih di tribun. Transformasi ini terjadi hanya dalam kurun tujuh hari, sebuah bukti betapa cepatnya dinamika emosi dalam sepak bola profesional.
Martin Boyle, pemain veteran yang masih menjadi andalan, menjadi motor serangan Hibs. Ia mencetak dua gol dan menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Malisheva yang kewalahan menghadapi kecepatan dan kelincahannya. Dua gol lainnya dicetak oleh Owen Elding dan Nathan Lowe, yang bersama Boyle membentuk trio depan yang saling melengkapi. Gray mengakui bahwa opsi di lini depan kini menjadi kekuatan utama timnya, dengan Lowe memberikan titik fokus yang selama ini dicari.
Meski meraih kemenangan besar, Gray tetap realistis. Ia mengakui ada penurunan konsentrasi di 20 menit terakhir yang menyebabkan Malisheva memperkecil ketertinggalan. Namun, ia lebih memilih menyoroti aspek positif, terutama intensitas dan keberanian timnya untuk terus menekan sejak menit awal. "Kami berbicara tentang intensitas yang ingin kami mainkan, niat untuk maju dan menyerang sejak awal," ujarnya. "Para pemain layak mendapat pujian, meski seharusnya kami bisa menang dengan selisih lebih besar."
Kemenangan ini juga menjadi sinyal bagi para pesaing di Liga Skotlandia. Hibs menunjukkan bahwa mereka bukan tim yang mudah menyerah, bahkan ketika berada dalam tekanan. Namun, tantangan sesungguhnya menanti akhir pekan ini saat mereka menjamu Motherwell di Premiership. Pelatih anyar Motherwell, Alfred Johansson, juga berhasil membawa timnya melaju di kualifikasi Eropa, sehingga laga ini diprediksi berjalan sengit.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kebangkitan Hibs ini menarik untuk dicermati karena menunjukkan pentingnya mentalitas dan dukungan suporter dalam membalikkan keadaan. Di tengah gencarnya pembahasan tentang peningkatan kualitas kompetisi domestik, kisah Hibs menjadi pengingat bahwa faktor psikologis sering kali menjadi pembeda antara tim yang mampu bangkit dan yang terpuruk. Para pemain muda Indonesia yang bermain di luar negeri, seperti yang kini menjalani karier di Eropa, bisa mengambil pelajaran dari cara Gray mengelola tekanan dan mengubah kritik menjadi motivasi.
Dengan jadwal padat yang menantiโKamis, Minggu, KamisโGray mengakui bahwa rotasi pemain akan menjadi kunci. "Kami siap untuk jadwal ini, semua sudah kami persiapkan sejak pramusim," tegasnya. Pertanyaannya, apakah konsistensi performa ini bisa dipertahankan dalam jangka panjang? Jika ya, bukan tidak mungkin Hibs akan menjadi kuda hitam yang merepotkan di kompetisi domestik maupun Eropa musim ini.



