Arkeolog Vietnam Temukan Benteng Pertahanan Era Nguyen di Celah Hai Van
Baca dalam 60 detik
- Ekskavasi di Celah Hai Van, Danang, mengungkap fondasi dua pos militer era Dinasti Nguyen yang berusia hampir dua abad.
- Temuan ini memperkuat bukti sistem pertahanan Vietnam terhadap serangan koalisi Prancis-Spanyol pada 1858.
- Para ahli merekomendasikan perlindungan hukum dan penelitian lanjutan untuk pengakuan warisan budaya.

Tim arkeolog di Vietnam tengah merayakan penemuan signifikan: fondasi dua pos pertahanan militer dari era Dinasti Nguyen, yang diperkirakan berusia hampir 200 tahun, berhasil digali di kawasan Celah Hai Van, Danang. Temuan ini tidak hanya menguak jejak arsitektur militer kuno, tetapi juga memberikan perspektif baru tentang strategi pertahanan Vietnam dalam menghadapi agresi asing pada abad ke-19.
Penggalian yang berlangsung selama 45 hari, dari 25 Mei hingga 8 Juli, berhasil mengungkap struktur batu, parit pertahanan, teras berbatu, serta fondasi bangunan yang membentang di area seluas 600 meter persegi. Lebih dari 964 artefak turut ditemukan, menjadikan situs ini sebagai salah satu temuan arkeologi terpenting di kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Dua pos militer yang ditemukan, yaitu Garnisun Chon Sang dan Stasiun Nam Chon, diyakini memainkan peran krusial dalam melindungi jalur darat strategis Utara-Selatan pada masa pemerintahan Raja Tu Duc (1847-1883). Keberadaan kedua pos ini bahkan telah tercatat dalam peta militer pertahanan Danang yang dibuat pada masa pemerintahan raja tersebut, dengan nama dalam bahasa Prancis: fort royal de Nam Kin dan fort de Kien-Chang.
Menurut Dr. Pham Van Trieu, arkeolog yang memimpin ekskavasi, penanggalan awal material dan struktur fondasi menunjukkan bahwa kedua pos tersebut sebagian besar berasal dari abad ke-19, sejalan dengan masa kejayaan Dinasti Nguyen. โTemuan ini memberikan bukti penting untuk studi lebih lanjut mengenai sistem pertahanan Vietnam pada masa itu,โ ujarnya, seperti dikutip dari laporan resmi.
Yang menarik, kedua situs ini berada di dekat Gerbang Hai Van, sebuah kompleks benteng militer bersejarah yang dibangun pada tahun 1826 di bawah pemerintahan Raja Minh Mang. Gerbang ini sendiri telah diakui sebagai peninggalan sejarah dan arsitektur nasional sejak tahun 2017. Kedekatan lokasi ini memperkuat hipotesis bahwa kawasan tersebut merupakan pusat pertahanan yang terintegrasi pada masa lalu.
Namun, tidak semua bagian situs dalam kondisi baik. Sebagian fondasi Stasiun Nam Chon mengalami kerusakan akibat akar pohon besar dan semak belukar yang tumbuh di atasnya. Selain itu, sebuah tangki air beton dan sumur yang dibangun pada tahun 1980-an masih berdiri di area tersebut, menambah kompleksitas upaya pelestarian.
Para ahli sepakat bahwa struktur fondasi yang ditemukan sebagian besar masih utuh dan belum banyak tersentuh. Hal ini menjadikan situs ini sebagai kandidat kuat untuk dilindungi di bawah undang-undang warisan budaya Vietnam. Dr. Trieu merekomendasikan agar survei lebih lanjut dan ekskavasi diperluas untuk menyusun dokumen ilmiah yang diperlukan bagi pengakuan resmi sebagai warisan budaya.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pengingat akan pentingnya pelestarian situs bersejarah. Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur, banyak situs arkeologi yang terancam punah. Pengalaman Vietnam dalam mengelola dan melindungi temuan semacam ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi upaya serupa di tanah air, terutama dalam menyusun kebijakan yang menyeimbangkan antara kemajuan dan pelestarian sejarah.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana pemerintah Vietnam akan menindaklanjuti rekomendasi para arkeolog. Apakah situs ini akan segera mendapatkan status perlindungan resmi? Dan akankah penggalian lebih lanjut mengungkap lebih banyak rahasia tentang sistem pertahanan Dinasti Nguyen? Semua itu masih menunggu jawaban dari pihak berwenang dan penelitian lebih lanjut.



