Banjir di Myanmar Kembali Paksa Pengungsi Konflik Mengungsi: Krisis Berlapis di Laymyethna
Baca dalam 60 detik
- Pengungsi konflik di Laymyethna, Myanmar, kembali terusir akibat banjir setelah tanggul jebol, memperparah kondisi mereka yang sudah rentan.
- Seorang warga berusia 60 tahun kehilangan rumah dan harta benda saat evakuasi darurat tengah malam, mencerminkan dampak ganda konflik dan bencana alam.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan pengungsi di Asia Tenggara terhadap perubahan iklim, yang berimplikasi pada kebijakan regional dan kemanusiaan.

YANGON โ Para pengungsi konflik yang berlindung di Township Laymyethna, Region Ayeyawady, kembali dipaksa mengungsi untuk kedua kalinya setelah banjir besar menerjang kawasan tersebut. Peristiwa ini menegaskan betapa rapuhnya nasib warga sipil yang sudah terpinggirkan oleh konflik, kini harus berhadapan dengan bencana alam yang datang silih berganti.
Menurut keterangan warga setempat, kelompok pengungsi yang sebelumnya melarikan diri dari Yayphyu di barat Laymyethna telah menetap di sebuah biara yang juga menampung anak-anak sekolah. Namun, naiknya permukaan air sungai akibat jebolnya tanggul di dekat Jembatan Ngawan membuat mereka tidak punya pilihan selain mengungsi lagi. Seorang pengungsi mengaku lega bisa dievakuasi sebelum kondisi semakin memburuk, namun ia kehilangan hampir semua barang bawaannya.
Seorang pria berusia 60 tahun yang berlindung di dekat Jembatan Ngawan menuturkan, ia dan keluarganya harus kabur tengah malam setelah mendengar tanggul jebol. Mereka hanya punya sedikit waktu untuk menyelamatkan diri, bahkan tanpa sempat membawa pakaian ganti. Rumahnya yang berada tepat di jalur luapan air hancur total, dan kini ia tinggal di tenda darurat di pinggir jalan bersama keluarganya.
Peristiwa ini menggambarkan krisis berlapis yang dihadapi Myanmar: konflik berkepanjangan yang telah mengungsikan jutaan orang, ditambah bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Menurut data PBB, lebih dari 3 juta orang di Myanmar mengungsi akibat konflik sejak kudeta 2021, dan banjir tahun ini telah memengaruhi puluhan ribu jiwa di Region Ayeyawady dan sekitarnya.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kerja sama kemanusiaan di kawasan ASEAN. Sebagai negara yang kerap menjadi tujuan pengungsi dan memiliki pengalaman dalam penanggulangan bencana, Indonesia dapat mendorong mekanisme respons cepat untuk krisis serupa. Namun, tantangan utamanya adalah akses kemanusiaan yang terbatas di Myanmar, sehingga bantuan seringkali terhambat oleh situasi politik yang rumit.
โKami tidak punya waktu untuk mengambil apa pun, bahkan pakaian,โ ujar seorang pengungsi berusia 60 tahun, menggambarkan kepanikan saat air mulai naik.
Para ahli memperkirakan bahwa intensitas banjir di Myanmar akan terus meningkat seiring dengan perubahan iklim, sementara konflik yang belum mereda membuat upaya adaptasi menjadi semakin sulit. Dalam jangka panjang, komunitas internasional perlu menekankan pentingnya solusi politik di Myanmar, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana. Pertanyaannya, akankah dunia mampu memutus siklus pengungsian ganda ini sebelum semakin banyak korban berjatuhan?



