Brian Hickerson Buka Suara Usai Kepergian Hayden Panettiere, Investigasi Masih Berlanjut
Baca dalam 60 detik
- Brian Hickerson akhirnya memberikan pernyataan pertama setelah kematian Hayden Panettiere, yang meninggal pada 16 Agustus 2025 di usia 36 tahun.
- Penyebab kematian aktris Heroes itu masih dalam penyelidikan, dengan laporan awal menyebut kemungkinan overdosis obat tercemar fentanil, namun pihak koroner belum mengonfirmasi.
- Kasus ini menyoroti bahaya opioid sintetis dan pentingnya transparansi dalam investigasi kematian selebritas, yang juga berdampak pada industri hiburan dan kesadaran publik di Indonesia.

Brian Hickerson, kekasih on/off mendiang Hayden Panettiere, akhirnya angkat bicara untuk pertama kalinya sejak aktris tersebut meninggal dunia pada 16 Agustus 2025. Dalam rekaman yang diperoleh E! News, Hickerson terlihat di sebuah stasiun bensin pada Rabu (16/09/25) ketika ditanya tentang kondisinya. Dengan singkat ia menjawab, "Menurutmu bagaimana?" lalu menambahkan, "Terima kasih. Itu saja yang bisa saya sampaikan."
Kematian Panettiere di usia 36 tahun masih menyisakan misteri. Investigasi yang dilakukan otoritas South Carolina belum menemukan penyebab pasti. Laporan awal dari beberapa media menyebutkan bahwa aktris Nashville dan Scream itu diduga meninggal setelah mengonsumsi tablet oksikodon yang dicampur fentanil, opioid sintetis yang jauh lebih kuat. Namun, juru bicara keluarga menegaskan bahwa informasi tersebut belum terverifikasi dan meminta publik tidak langsung mempercayai laporan dari sumber anonim.
Dalam pernyataan resmi kepada People, pihak keluarga menyatakan, "Kematian Hayden masih dalam penyelidikan menunggu hasil toksikologi. Laporan terbaru yang mengutip sumber tidak dikenal adalah desas-desus tak berdasar dan telah menimbulkan informasi yang saling bertentangan. Kami semua ingin segera mendapatkan kejelasan, namun kita harus bersabar dan membiarkan proses investigasi berjalan." Mereka menutup dengan harapan bahwa jawaban yang dicari akan segera datang.
Sehari sebelum meninggal, Panettiere dilaporkan terbang dari California ke South Carolina. Menurut sumber penegak hukum yang dikutip TMZ, ia diduga membawa sejumlah obat resep dari seorang dealer obat jangka panjang di Los Angeles. Teori yang tengah dikembangkan otoritas adalah bahwa ia mengonsumsi pil oksikodon yang telah dicampur fentanil pada hari kematiannya. Hingga kini, pihak koroner Greenville County belum merilis hasil resmi dan menegaskan bahwa penyelidikan masih aktif.
"Kami memahami keinginan publik untuk segera mengetahui penyebabnya, tetapi integritas investigasi harus dijaga. Hasil toksikologi membutuhkan waktu, dan kami akan mengumumkan begitu ada perkembangan," ujar perwakilan Kantor Koroner Greenville County dalam pernyataan tertulis.
Kasus ini bukan pertama kali mencuat di industri hiburan. Sejumlah selebritas Hollywood sebelumnya meninggal akibat zat tercemar, menyoroti maraknya peredaran opioid ilegal yang semakin mengkhawatirkan. Di Indonesia, Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat peningkatan penyalahgunaan fentanil dalam beberapa tahun terakhir, meskipun skalanya belum sebesar di Amerika Serikat. Fenomena ini menjadi peringatan bagi masyarakat akan bahaya obat-obatan terlarang yang kerap disamarkan sebagai obat resep.
Bagi penggemar di Indonesia, kepergian Panettiere meninggalkan duka mendalam. Aktris yang dikenal lewat perannya di Heroes dan Nashville ini memiliki basis penggemar loyal di Tanah Air. Media sosial dipenuhi ucapan belasungkawa, sekaligus kekhawatiran akan tekanan industri hiburan yang kerap memicu masalah kesehatan mental dan penyalahgunaan zat. Kasus ini juga menjadi cermin bagi industri hiburan nasional untuk lebih peduli terhadap kesejahteraan para artisnya.
Ke depan, hasil investigasi diharapkan dapat memberikan kejelasan bagi keluarga dan publik. Namun, terlepas dari itu, kematian Hayden Panettiere menjadi pengingat keras akan bahaya opioid dan pentingnya penanganan kesehatan mental yang serius. Akankah industri hiburan global mengambil pelajaran dari tragedi ini, atau akankah kasus serupa terus berulang?



