Romesh Ranganathan Gagal Selamatkan 'Would You Rather', Prime Video Hentikan Usai Satu Musim
Baca dalam 60 detik
- Prime Video memutuskan tidak melanjutkan Would You Rather setelah hanya satu musim tayang.
- Format yang mengandalkan influencer besar dinilai tidak mampu menarik perhatian penonton.
- Kegagalan ini menambah daftar tantangan bagi konten realitas berbasis selebritas internet di platform streaming.

Prime Video resmi menghentikan program Would You Rather yang dipandu komedian Romesh Ranganathan setelah hanya satu musim. Keputusan ini diambil menyusul rating rendah dan ulasan yang kurang menggembirakan, meski acara tersebut menampilkan sejumlah influencer ternama seperti Chloe Burrows dan Nella Rose.
Would You Rather mempertemukan para peserta dengan berbagai dilema ekstrem yang menguji batas kemampuan mereka. Namun, kombinasi antara konsep permainan dan daya tarik influencer tampaknya belum cukup untuk memikat audiens streaming. Sumber internal yang dikutip The Sun menyebut Ranganathan dikenal sebagai pembawa acara dengan "sentuhan emas" karena deretan program suksesnya di berbagai kanal, tetapi kali ini keberuntungan itu tidak berhasil menular ke Would You Rather.
Kegagalan ini bukan kasus pertama bagi format realitas yang mengandalkan bintang media sosial. Platform streaming semakin selektif dalam mempertahankan konten yang tidak menunjukkan performa signifikan, terutama di tengah persaingan ketat untuk perhatian penonton. Meski demikian, Ranganathan tetap menjadi figur yang diperhitungkan di industri hiburan Inggris, dengan jadwal padat di BBC Radio 2 dan acara kuis The Weakest Link.
Di sisi lain, Ranganathan baru-baru ini mengungkapkan pengalaman pahit yang dialami anak-anaknya di sekolah. Dalam podcast Wolf and Owl bersama Tom Davis, ia menceritakan bahwa ketiga putranya—Alex (16), Theo (14), dan Charlie (11)—menjadi sasaran ujaran rasis. "Anak-anak mengalami pelecehan rasial. Tidak banyak, tidak sebanyak yang saya alami, tapi ada komentar. Kami mengalami insiden," ujarnya. Ia menyebut salah satu anaknya pernah dipanggil dengan kata kasar saat berjalan di sekolah.
"Pada titik tertentu Anda harus berpikir, 'Mereka jelas mendengar itu di rumah.' Jadi setiap kali saya melihat atau mendengar anak melakukan itu, lain kali saya melihat orang tua mereka, saya berpikir, 'Anda rasis.' Dan itu hal yang mengerikan," kata Ranganathan.
Ranganathan menilai orang tua dari anak-anak yang melontarkan ujaran rasis turut bertanggung jawab. Meski mengakui rasisme adalah hal yang mengerikan, ia berpendapat bahwa reaksi berlebihan justru memberi kekuatan bagi pelaku. "Jika seseorang memanggil Anda dengan slur rasial dan itu langsung memicu kemarahan, itu memberi orang itu kekuatan atas Anda. Saya tidak mengatakan Anda tidak boleh bereaksi, tapi saya tidak ingin anak-anak saya langsung bertindak kasar," jelasnya.
Bagi industri hiburan Indonesia, kasus ini menjadi cermin bahwa strategi pemasaran melalui influencer tidak selalu menjamin kesuksesan sebuah program. Platform streaming lokal dan produsen konten perlu mempertimbangkan ulang pendekatan serupa, terutama jika hanya mengandalkan popularitas tanpa memperkuat konsep dan eksekusi. Sementara itu, isu rasisme yang diangkat Ranganathan juga relevan dengan tantangan keberagaman di dunia hiburan Tanah Air yang masih sering menghadapi stereotip dan diskriminasi.
Ke depan, apakah Prime Video akan mengubah strategi konten realitasnya, atau justru semakin berhati-hati dalam mengangkat format serupa? Sementara Ranganathan, meski satu proyeknya berhenti, tetap menjadi sosok yang vokal tentang isu sosial dan terus berkarya di berbagai kanal.



