Badai Tropis Maymay Mulai Melemah, Pagasa Pantau Potensi Siklon Baru di Filipina
Baca dalam 60 detik
- Badai Maymay diperkirakan berubah menjadi depresi tropis dan meninggalkan daratan Filipina pada Kamis malam.
- Peringatan oranye curah hujan tinggi dikeluarkan untuk sejumlah provinsi di Luzon Utara, dengan potensi banjir dan tanah longsor.
- Siklon Dolphin di luar PAR kini berpeluang kecil masuk, namun nama Neneng disiapkan untuk siklon berikutnya.

Badai tropis Maymay yang telah menerjang wilayah utara Filipina mulai kehilangan kekuatan dan diperkirakan akan berubah menjadi depresi tropis pada Kamis (6/8) malam. Badan meteorologi setempat, Pagasa, menyatakan bahwa sistem cuaca ini akan segera meninggalkan daratan Luzon setelah berinteraksi dengan daratan yang memperlemah intensitasnya.
Dalam pengarahan cuaca pukul 08.00 waktu setempat, spesialis cuaca Pagasa, John Manalo, mengungkapkan bahwa Maymay saat ini berada di sekitar Bangued, Abra, dengan kecepatan angin maksimum 65 kilometer per jam dan hembusan hingga 110 kilometer per jam. "Karena telah mendarat dan kini berada di atas daratan, interaksinya dengan daratan akan semakin melemahkannya; bisa turun menjadi depresi tropis sekitar pukul 17.00 dan kemungkinan keluar dari daratan malam ini," jelasnya.
Meski demikian, selama Maymay masih berada dalam Area Tanggung Jawab Filipina (PAR), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan mengguyur sejumlah wilayah. Pagasa telah mengeluarkan peringatan oranye untuk Ilocos Sur, La Union, Benguet, dan Pangasinan, dengan proyeksi curah hujan mencapai 100 hingga 200 milimeter dalam 24 jam ke depan. Kondisi ini diperparah oleh menguatnya angin muson barat daya atau yang dikenal sebagai habagat, yang turut memicu hujan lebat di sebagian besar wilayah negara itu.
Dampak dari badai ini tidak hanya dirasakan di daratan. Peringatan gale atau angin kencang tetap berlaku di pesisir barat Ilocos Norte, Ilocos Sur, La Union, dan Pangasinan, dengan gelombang laut diperkirakan mencapai 2,8 hingga 5,0 meter. Nelayan dan operator kapal kecil diimbau untuk tidak melaut hingga Sabtu (8/8), karena angin kencang akibat muson barat daya yang diperkuat masih akan berlangsung.
Di sisi lain, Pagasa juga memantau siklon tropis Dolphin yang berada di luar PAR. Menurut Manalo, peluang Dolphin untuk memasuki wilayah Filipina kini semakin kecil. "Kemungkinan Topan Dolphin memasuki PAR telah menurun. Namun, jika siklon tropis baru terbentuk atau memengaruhi negara iniโsehingga kami menaikkan Sinyal Angin Siklon Tropis No. 1โnama berikutnya yang akan digunakan adalah Neneng," tambahnya.
Bagi Indonesia, dinamika cuaca di Filipina ini relevan karena pola sirkulasi atmosfer di kawasan tersebut dapat memengaruhi pembentukan awan dan curah hujan di wilayah barat Indonesia, terutama Kalimantan dan Sulawesi Utara. Meski dampak langsung Maymay tidak dirasakan di Indonesia, penguatan muson barat daya di Filipina sering kali berkorelasi dengan peningkatan aktivitas konveksi di sekitar ekuator, yang berpotensi memicu hujan lebat di sebagian wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan Filipina.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kesiapan infrastruktur dan sistem peringatan dini di kawasan Asia Tenggara dalam menghadapi musim siklon yang semakin aktif. Dengan perubahan iklim yang meningkatkan intensitas badai, koordinasi regional dalam pemantauan dan respons bencana menjadi semakin krusial. Apakah negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, akan memperkuat kerja sama untuk memitigasi dampak cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu?



