Robinhood Cetak Laba di Atas Ekspektasi, Pasar Prediksi Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Baca dalam 60 detik
- Laba per saham Robinhood mencapai 48 sen, melampaui estimasi analis sebesar 44 sen, didorong oleh lonjakan pendapatan dari saham, opsi, dan kontrak prediksi.
- Pendapatan dari pasar prediksi melonjak 44% secara tahunan menjadi $156 juta, menggeser fokus investor dari kripto yang justru merosot 38%.
- Analis memperingatkan valuasi saham yang sudah tinggi menjadi risiko utama, meskipun fundamental bisnis menunjukkan kinerja solid di semua lini.

Robinhood Markets berhasil membukukan laba kuartal kedua yang melampaui perkiraan analis, ditopang oleh aktivitas perdagangan saham, opsi, dan kontrak prediksi yang tetap bergairah di tengah volatilitas pasar yang tinggi. Platform investasi ritel asal Amerika Serikat itu mencatat laba disesuaikan sebesar 48 sen per saham, unggul 4 sen dari konsensus pasar yang dihimpun LSEG.
Pendapatan berbasis transaksi Robinhood melonjak 44% secara tahunan menjadi $776 juta. Kenaikan ini terutama disumbang oleh segmen saham, opsi, dan kontrak prediksi yang menghasilkan pendapatan $156 juta. Lonjakan ini mengkompensasi pelemahan di segmen mata uang kripto yang pendapatannya justru turun 38% menjadi $100 juta akibat harga aset digital yang lesu dan pergeseran minat investor ke aset berbasis kecerdasan buatan.
Fenomena menarik terjadi pada pasar prediksiโplatform yang memungkinkan pengguna bertaruh pada hasil peristiwa seperti pemilu atau keputusan bank sentral. Menurut Shiv Verma, CFO Robinhood, bisnis perusahaan "berjalan di semua silinder" dengan rekor transaksi di saham, opsi, dan pasar prediksi. Analis Third Bridge Jacob Zuller menilai pasar prediksi telah berevolusi dari sekadar produk sampingan menjadi mesin pertumbuhan utama Robinhood, sekaligus menjadi corong akuisisi pelanggan baru.
Bill Birmingham, Managing Director REX Financial, memuji kinerja Robinhood yang tidak hanya unggul di pasar prediksi, tetapi juga mampu mengendalikan biaya dan meningkatkan pendapatan bunga bersih, deposito, serta pertumbuhan langganan secara bersamaan. "Ini bukan sekadar kemenangan di pasar prediksi. Robinhood memberikan hasil yang lebih baik dari perkiraan di semua lini," ujarnya.
Meski demikian, ada catatan penting bagi investor. Saham Robinhood masih tertekan 20,6% sepanjang tahun ini, dan turun 0,8% dalam perdagangan setelah jam bursa. David Bartosiak, strategis saham di Zacks Investment, mengingatkan bahwa valuasi menjadi kekhawatiran utama setelah reli besar sebelumnya. "Ekspektasi sudah sangat tinggi," katanya.
Bagi pelaku pasar Indonesia, perkembangan ini relevan karena menunjukkan bagaimana platform investasi ritel global mulai beralih dari ketergantungan pada kripto ke instrumen derivatif dan kontrak prediksi. Tren ini bisa memengaruhi strategi ekspansi platform serupa di Asia Tenggara, termasuk potensi adopsi produk pasar prediksi di pasar domestik yang masih belum teregulasi secara spesifik. Otoritas jasa keuangan di kawasan pun perlu mencermati risiko dan peluang dari inovasi semacam ini.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Robinhood mampu mempertahankan momentum pertumbuhan pasar prediksi di luar musim pemilu AS, atau justru akan kembali bergantung pada volatilitas pasar saham dan kripto. Dengan valuasi yang sudah mahal, setiap langkah strategis perusahaan akan menjadi sorotan ketat para analis.



