Bear Grylls Tinggalkan Veganisme, Kini Santap Steak Tiga Kali Sehari
Baca dalam 60 detik
- Petualang dan presenter TV Bear Grylls beralih dari pola makan vegan ke diet karnivora setelah melihat dampak kesehatan pada putranya.
- Ia mengklaim diet berbasis daging menghilangkan rasa lapar dan keinginan makan junk food, serta meningkatkan energi keluarganya.
- Para ahli gizi memperingatkan konsumsi daging merah berlebihan terkait risiko kanker usus, sementara veganisme yang terencana tetap dianggap sehat.

Bear Grylls, petualang yang dikenal lewat acara Man vs. Wild, kini mengonsumsi steak untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Pria berusia 52 tahun itu mengaku telah meninggalkan gaya hidup vegan yang dulu ia promosikan secara aktif, termasuk menerbitkan buku resep vegan. Perubahan drastis ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap kesehatan putra sulungnya, Jesse, yang disebutnya mengalami masalah pencernaan dan kulit saat menjalani diet nabati.
Dalam wawancara dengan The Daily Telegraph, Grylls mengungkapkan bahwa ia beralih ke pola makan karnivora pada 2020. "Saya makan steak besar dengan lemak dan tulang rawan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Saya merasa hebat!" ujarnya. Ia menambahkan bahwa setelah kembali mengonsumsi daging, rasa sakit di ginjal yang dideritanya selama bertahun-tahun hilang. Jesse, yang kini berusia 23 tahun, juga disebutnya kembali bertenaga dalam hitungan minggu setelah daging diperkenalkan kembali ke dalam menu makannya.
Grylls menggambarkan diet barunya terinspirasi oleh pola makan manusia purba: kaya daging merah, jeroan, sumsum tulang, telur, mentega asin, buah, dan madu. Ia justru menghindari sayuran, makanan olahan, roti, dan pasta. Menurutnya, diet ini membuatnya tidak pernah merasa lapar dan menghilangkan keinginan untuk ngemil makanan tidak sehat. "Dulu saya makan salad setiap hari, tapi justru sering mengidam junk food dan melakukan 'cheat meal' seminggu sekali. Itu tidak baik untuk tubuh," katanya.
Pernyataan Grylls menuai sorotan karena ia sebelumnya merupakan advokat vegan yang vokal. Ia bahkan menerbitkan buku Bear Grylls' Vegan Cookbook pada 2019. Kini, ia justru menyebut diet vegan membuatnya terus-menerus lapar dan bergantung pada 'cheat meal'. Namun, para ahli gizi tetap menegaskan bahwa pola makan vegan yang direncanakan dengan baik dapat memenuhi semua kebutuhan nutrisi. Mereka juga memperingatkan bahwa konsumsi daging merah dan olahan dalam jumlah tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus besar, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian dari Universitas Harvard.
Di Indonesia, tren diet karnivora juga mulai menarik perhatian, terutama di kalangan penggemar kebugaran dan gaya hidup alami. Namun, Kementerian Kesehatan RI melalui Pedoman Gizi Seimbang menganjurkan konsumsi sayur dan buah sebagai bagian penting dari pola makan harian. Masyarakat diimbau tidak serta-merta mengikuti perubahan diet tokoh publik tanpa berkonsultasi dengan ahli gizi, mengingat kondisi kesehatan setiap individu berbeda.
Ke depannya, perubahan sikap Grylls ini berpotensi memicu perdebatan lebih luas antara pendukung diet nabati dan karnivora. Pertanyaannya, apakah pengalaman pribadi seorang selebritas cukup kuat untuk menggugurkan rekomendasi ilmiah yang sudah mapan? Atau justru akan membuka ruang bagi penelitian lebih lanjut tentang diet rendah karbohidrat dan tinggi protein hewani?



