John Legend Perankan Harry Belafonte di Film tentang Album Graceland Paul Simon
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi EGOT John Legend akan memerankan aktivis hak sipil Harry Belafonte dalam film 'The Road Home' yang mengisahkan album legendaris Graceland.
- Film arahan Bill Condon ini menyoroti kontroversi pelanggaran boikot budaya PBB saat Paul Simon merekam dengan musisi Afrika Selatan era apartheid.
- Proyek ini menjadi jembatan antara musik, politik, dan sejarah, relevan bagi penikmat musik Indonesia yang akrab dengan semangat perlawanan melalui seni.

John Legend, penyanyi dan pemenang EGOT berusia 47 tahun, resmi bergabung dalam film 'The Road Home' yang mengupas kisah di balik album ikonik Paul Simon, Graceland. Dalam film yang saat ini tengah syuting di Afrika Selatan itu, Legend akan memerankan Harry Belafonte, tokoh hak sipil dan aktivis anti-apartheid yang meninggal pada 2023.
Disutradarai Bill Condon, 'The Road Home' tidak hanya menyoroti proses kreatif album Graceland yang dirilis 1986, tetapi juga konteks politik dan sosial saat itu. Album tersebut direkam Paul Simon bersama musisi Afrika Selatan di tengah rezim apartheid, sebuah langkah yang memicu kontroversi karena dianggap melanggar boikot budaya yang diberlakukan PBB. Meski demikian, Graceland justru menjadi salah satu album paling berpengaruh pada masanya, memperkenalkan musik Afrika Selatan ke panggung global.
Film ini juga dibintangi Johnny Flynn sebagai Paul Simon, Thabo Rametsi sebagai pemain trompet jazz Hugh Masekela, Cynthia Erivo sebagai penyanyi dan aktivis Miriam Makeba, serta Guy Pearce sebagai Uskup Agung Trevor Huddleston. Kisah diceritakan dari sudut pandang Masekela, yang selama pengasingan menerima dukungan finansial dari Belafonte. Bagi Legend, peran ini memiliki makna pribadi karena ia mengenal Belafonte sebagai sahabat dan mentor dalam perjuangan keadilan.
Konteks Indonesia: Kisah ini relevan bagi publik Indonesia yang memiliki sejarah panjang perjuangan melawan ketidakadilan melalui musik. Dari lagu-lagu Iwan Fals hingga Slank, seni kerap menjadi alat kritik sosial. Album Graceland mengingatkan bahwa musik bisa menjadi jembatan diplomasi budaya, meski kerap dihadapkan pada dilema etis. Film ini bisa menjadi bahan refleksi bagi musisi dan aktivis Indonesia tentang batas antara seni dan politik.
Dalam pernyataannya, Legend mengungkapkan kehormatannya memerankan Belafonte, yang ia sebut sebagai teladan artis-aktivis. Sementara itu, produser film menekankan bahwa 'The Road Home' adalah kisah tentang perlawanan, pengorbanan, dan ketangguhan jiwa manusia. Dengan melibatkan musisi asli seperti Masekela dan Makeba, film ini diharapkan tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik generasi baru tentang sejarah apartheid.
Pertanyaan yang tersisa: akankah film ini mampu menangkap kompleksitas kontroversi Graceland tanpa mengurangi penghormatan terhadap para tokohnya? Atau justru akan menjadi narasi heroik yang menyederhanakan sejarah? Penonton Indonesia yang familiar dengan perjuangan anti-apartheid melalui tokoh seperti Nelson Mandela tentu akan menantikan jawabannya.



