Carly Rae Jepsen: Menemukan Keseimbangan antara Popularitas dan Privasi
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Call Me Maybe' mengaku kini berada di fase ideal karier, dengan tetap bisa menjalani hidup normal tanpa kehilangan penggemar.
- Kehamilan dan pernikahan dengan produser Cole M.G.N. dijaga ketat dari sorotan publik, menunjukkan prioritasnya pada kehidupan pribadi.
- Pengalaman meledaknya popularitas secara instan membuatnya bersimpati pada selebritas yang terus hidup di bawah tekanan, namun ia memilih untuk tetap membumi.

Empat belas tahun setelah 'Call Me Maybe' melambungkan namanya ke panggung dunia, Carly Rae Jepsen akhirnya menemukan titik temu antara ketenaran dan kehidupan pribadi. Dalam wawancara terbaru dengan The Hollywood Reporter, pelantun 'I Really Like You' itu mengaku berada di fase paling nyaman dalam kariernya, di mana ia bisa tetap berkarya tanpa harus kehilangan privasi.
Jepsen, yang kini berusia 40 tahun, menegaskan bahwa posisinya sekarang adalah hasil kerja keras yang panjang. "Saya bisa hidup normal, pergi ke supermarket, punya keluarga, tur membawakan musik yang saya cintai, dan tetap punya penonton. Itu keseimbangan yang sulit didapat dan harus diperjuangkan," ujarnya. Pernyataan ini muncul di tengah tren industri musik yang kerap menuntut artis untuk selalu tampil di ruang publik demi mempertahankan popularitas.
Kehidupan pribadi Jepsen memang menjadi sorotan belakangan ini. Pada Maret lalu, ia dan suaminya, Cole M.G.N. (nama asli Cole Marsden Greif-Neill), menyambut kelahiran anak pertama mereka. Namun, pasangan ini memilih untuk tidak mengungkap jenis kelamin maupun nama sang buah hati ke publik. Keputusan ini sejalan dengan gaya hidup yang ingin mereka jaga, jauh dari hingar-bingar media.
Jepsen juga merefleksikan pengalamannya saat namanya melejit secara instan pada 2011. Menurutnya, ledakan popularitas yang terjadi begitu cepat membuatnya memahami betapa beratnya hidup di bawah sorotan terus-menerus. "Saya bisa merasakan bagaimana rasanya bagi mereka yang setiap hari hidup dalam tekanan seperti itu. Hati saya tertuju pada mereka," katanya. Meski beberapa artis mungkin bisa beradaptasi dengan ketenaran mendadak, Jepsen mengaku dirinya bukan tipe orang yang pandai menghadapinya. "Saya tidak terlalu pandai dalam hal itu," tambahnya.
Alih-alih larut dalam gemerlap, Jepsen justru berusaha tetap membumi dan fokus pada musik. "Saat itu semuanya terjadi sangat cepat. Sejujurnya, ada suara kecil di dalam diri saya yang berteriak untuk tetap berpegang pada alasan awal saya memulai," kenangnya. Sikap ini mungkin menjadi kunci mengapa ia mampu bertahan dan terus berkarya hingga kini, tanpa kehilangan esensi sebagai musisi.
Kisah Jepsen menarik untuk disandingkan dengan fenomena di industri musik Indonesia, di mana banyak penyanyi yang meledak lewat satu lagu hits justru kesulitan mempertahankan karier jangka panjang. Tekanan untuk terus tampil di media sosial, tampil di berbagai acara, dan menjaga popularitas sering kali membuat artis kehilangan privasi dan kelelahan secara mental. Jepsen menunjukkan bahwa ada jalan tengah: tetap produktif tanpa harus menyerahkan seluruh hidup pada sorotan publik.
Pernikahan Jepsen dengan Cole, yang merupakan produser pemenang enam Grammy, juga menjadi sorotan. Pasangan ini bertemu dalam sesi menulis lagu pada 2021, kemudian berpacaran setahun setelahnya. Mereka bertunangan pada September 2024 di Hotel Castello di Reschio, Umbria, dan menikah setahun kemudian di Chelsea Hotel, New York. Dalam wawancara dengan Vogue, Jepsen mengungkapkan bahwa pemilihan lokasi pernikahan sangat bermakna. "Kami ingin tempat yang berarti bagi kami, dan Chelsea Hotel telah menjadi rumah kedua setiap kali kami di New York. Sebagai seniman, sejarah ikoniknya membuat tempat itu semakin menarik," jelasnya.
Ia juga berbagi cara mereka menjaga proses perencanaan pernikahan tetap menyenangkan. "Kami mengadakan kencan mingguan untuk membahas detail pernikahan. Dengan begitu, semuanya terasa menyenangkan dan tidak membebani," katanya. Pernikahan yang dipimpin oleh bibi dan pamannya itu diisi dengan momen emosional, termasuk pembacaan sumpah pribadi. "Kami ingin semuanya terasa romantis dan penuh emosi. Keluarga kami bercerita tentang bagaimana kami bertemu, dan kami saling membacakan sumpah yang kami tulis sendiri," ungkapnya.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah Jepsen akan terus menjaga privasi anaknya seperti yang dilakukan banyak selebritas lain, atau suatu saat akan membagikan momen tersebut ke publik. Yang jelas, ia telah membuktikan bahwa ketenaran dan kehidupan pribadi tidak harus saling mengorbankan. Bagi para penggemar di Indonesia yang mengagumi karya-karyanya, kisah Jepsen menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap panggung, ada sosok yang tetap berusaha menjalani hidup dengan autentik dan seimbang.



