Dua Planet Raksasa Lebih Ringan dari Gula Kapas Ditemukan, Ilmuwan Ungkap Misteri Super-Puff
Baca dalam 60 detik
- Astronom menemukan dua eksoplanet seukuran Jupiter dengan kepadatan lebih rendah dari gula kapas, menjadikannya planet terbesar yang paling ringan.
- Planet 'super-puff' ini diduga terbentuk di piringan gas-debu bintang muda dan sebagian besar terdiri dari hidrogen dan helium.
- Penemuan ini menambah jumlah super-puff yang diketahui menjadi kurang dari 40 dari total hampir 6.300 eksoplanet terkonfirmasi.

Dua planet raksasa yang mengorbit bintang sejauh 1.110 tahun cahaya dari Bumi ternyata memiliki kepadatan lebih rendah dari gula kapas, menjadikannya eksoplanet terbesar yang paling ringan yang pernah ditemukan. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society oleh tim astronom yang dipimpin Universitas Oxford.
Planet-planet yang dijuluki 'super-puff' ini memiliki ukuran setara Jupiter, namun kepadatannya hanya sebanding dengan busa cukur segar. "Kedua planet ini memiliki kepadatan yang sebanding dengan gumpalan busa cukur yang baru keluar dari kaleng," ujar George Dransfield dari Universitas Oxford melalui surel. Ia dan timnya menganalisis data dari satelit TESS milik NASA serta teleskop darat untuk mengukur orbit dan menentukan kepadatan planet.
Planet-planet tersebut mengorbit bintang di konstelasi Volans, yang dikenal sebagai ikan terbang di belahan langit selatan. Dengan jarak 1.110 tahun cahaya, para peneliti harus mengandalkan pengukuran transit dan kecepatan radial untuk memperkirakan massa dan ukuran planet. Hasilnya menunjukkan bahwa Jupiter 35 kali lebih padat dibandingkan kedua planet ringan ini.
Fenomena super-puff tergolong langka di alam semesta. Para astronom menduga planet semacam itu terbentuk di sekitar bintang muda yang memiliki lebih banyak gas daripada debu di piringan protoplaneternya. Seiring waktu, material ringan tersebut terlepas, menyisakan atmosfer yang sangat renggang. Dransfield memperkirakan planet-planet ini mungkin berwarna putih atau biru, tergantung pada tutupan awannya โ bukan merah muda seperti gula kapas. Komposisi kimianya didominasi hidrogen dan helium, namun konfirmasi lebih lanjut membutuhkan pengamatan menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb milik NASA.
Bagi Indonesia, penemuan ini membuka wawasan tentang keragaman planet di luar tata surya. Meskipun belum ada keterlibatan langsung peneliti Indonesia, data dari TESS dan Webb dapat diakses oleh komunitas astronomi global, termasuk planetarium dan observatorium di Tanah Air. Pemahaman tentang pembentukan planet ekstrem seperti super-puff juga relevan untuk studi evolusi tata surya kita sendiri.
Dengan hanya 40 dari hampir 6.300 eksoplanet yang tergolong super-puff, misteri seputar asal-usul dan evolusinya masih besar. "Pada akhirnya, dengan mempelajari sistem eksotis yang mengandung tipe planet langka, kita menambah potongan puzzle pembentukan planet dan belajar lebih banyak tentang tempat kita di kosmos," tutup Dransfield. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah super-puff mampu bertahan dalam jangka panjang, ataukah mereka akan kehilangan atmosfernya dan menyusut menjadi planet padat seperti Bumi.



