Laba Shell Melonjak 42% di Kuartal II 2026, Didorong Harga Minyak Global yang Tinggi
Baca dalam 60 detik
- Shell mencatatkan laba bersih $9,8 miliar pada kuartal II 2026, naik 42% dari kuartal sebelumnya, didorong oleh kenaikan harga minyak dan gas akibat ketegangan geopolitik.
- Perusahaan mengumumkan program pembelian kembali saham senilai $3 miliar untuk kuartal ke-19 berturut-turut, menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembalian pemegang saham.
- Akuisisi ARC Resources di Kanada yang telah disetujui pemegang saham diharapkan mendorong pertumbuhan produksi Shell sebesar 4% per tahun hingga 2030.

Shell membukukan lonjakan laba yang signifikan pada kuartal kedua tahun fiskal 2026, didorong oleh harga minyak dan gas yang melambung akibat dislokasi geopolitik global. Perusahaan energi multinasional asal Inggris itu mencatatkan pendapatan bersih yang disesuaikan sebesar $9,8 miliar, melonjak 42% dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar $6,9 miliar.
Kinerja operasional yang kuat, harga komoditas yang lebih tinggi, serta produksi hulu yang memecahkan rekor di Brasil menjadi motor utama di balik hasil ini. EBITDA yang disesuaikan naik menjadi $20,7 miliar dari $17,7 miliar, sementara arus kas dari operasi melonjak menjadi $21,4 miliar dari $6,1 miliar pada kuartal pertama, terbantu oleh masuknya modal kerja sebesar $3,4 miliar.
CEO Shell Wael Sawan menyebut hasil ini sebagai โsangat kuatโ di tengah gangguan parah di pasar energi global. Ia menyoroti rekor produksi hulu di Brasil dan utilisasi kilang yang juga mencapai rekor. โKami terus membuktikan ketahanan portofolio dan disiplin operasional,โ ujarnya dalam pernyataan resmi.
Dari sisi segmen bisnis, sektor hulu (upstream) menyumbang laba disesuaikan sebesar $3,5 miliar, disusul kimia dan produk sebesar $2,9 miliar, gas terintegrasi $2,7 miliar, dan pemasaran $1,3 miliar. Sementara itu, segmen Renewables and Energy Solutions โ yang mencakup pembangkit listrik terbarukan, perdagangan listrik terpadu, dan produk rendah karbon โ hanya mencatatkan laba $79 juta, menunjukkan bahwa transisi energi masih menjadi tantangan besar bagi raksasa migas ini.
Shell juga mengumumkan program pembelian kembali saham senilai $3 miliar, menandai kuartal ke-19 berturut-turut dengan buyback minimal sebesar itu. Dalam 12 bulan terakhir, perusahaan telah mengembalikan 44% arus kas operasinya kepada pemegang saham. Langkah ini menegaskan prioritas Shell pada pengembalian pemegang saham di tengah tekanan investor untuk tetap menghasilkan keuntungan dari bahan bakar fosil.
Di sisi portofolio, Shell terus merampingkan asetnya. Perusahaan telah menjual Jiffy Lube di Amerika Serikat, serta mengumumkan divestasi SPRNG Energy di India, bisnis pemasarannya di Afrika Selatan, dan aset akhir masa pakai Na Kika di Teluk Amerika. Akuisisi perusahaan energi Kanada ARC Resources telah mendapat persetujuan pemegang saham dan diperkirakan selesai pada kuartal ketiga. Akuisisi ini diharapkan meningkatkan pertumbuhan produksi Shell menjadi tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 4% hingga 2030.
Bagi Indonesia, kinerja Shell yang gemilang ini menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi energi. Meskipun harga minyak tinggi menguntungkan negara pengekspor, Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak harus menghadapi beban subsidi energi yang lebih besar. Di sisi lain, langkah Shell mengakuisisi ARC Resources menunjukkan bahwa perusahaan masih agresif memperkuat bisnis hulu, sementara transisi energi berjalan lambat. Hal ini bisa menjadi sinyal bagi Pertamina dan perusahaan energi nasional untuk menyeimbangkan antara keuntungan jangka pendek dari migas dan investasi jangka panjang di energi terbarukan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Shell dapat mempertahankan momentum ini jika harga minyak turun atau ketegangan geopolitik mereda. Dengan belanja modal yang tetap di kisaran $24-26 miliar dan utang bersih $42 miliar, perusahaan tampaknya bersiap menghadapi volatilitas. Namun, tekanan dari investor dan regulator untuk mempercepat dekarbonisasi tidak akan hilang. Shell harus membuktikan bahwa model bisnisnya tetap tangguh di era transisi energi.



