Kandidat Vaksin Ebola Paling Menjanjikan Dikembangkan dari Singapura
Baca dalam 60 detik
- Hilleman Laboratories, perusahaan patungan MSD dan Wellcome Trust, memajukan vaksin rVSV Bundibugyo ke uji klinis.
- Vaksin ini dianggap paling potensial oleh WHO karena menggunakan platform yang sama dengan Ervebo, satu-satunya vaksin Ebola resmi.
- Jika berhasil, vaksin dapat disimpan di lemari es biasa, memudahkan distribusi ke daerah terpencil seperti di Indonesia.

Sebuah organisasi riset yang berbasis di Singapura, Hilleman Laboratories, mengumumkan akan mengembangkan vaksin Ebola untuk strain Bundibugyo yang disebut sebagai kandidat paling menjanjikan oleh para ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Langkah ini diambil di tengah wabah yang telah menewaskan hampir 1.500 orang di Republik Demokratik Kongo (DRC) sejak Mei lalu.
Strain Bundibugyo, yang sebelumnya jarang ditemukan, kini menjadi ancaman serius karena belum ada vaksin atau pengobatan khusus. Hilleman Laboratories, yang merupakan perusahaan patungan antara raksasa farmasi AS MSD (dikenal sebagai Merck di Amerika Utara) dan badan amal Inggris Wellcome Trust, akan memajukan kandidat vaksin berbasis platform rVSV ke tahap uji klinis pada manusia.
โKami berlomba mengembangkan vaksin Bundibugyo dan memproduksi dosis untuk uji klinis,โ ujar CEO Hilleman Laboratories, Raman Rao, dalam pernyataan resmi. MSD, yang mengembangkan dan memproduksi vaksin Ervebo untuk strain Zaire, akan bertindak sebagai penasihat teknis dengan memberikan keahlian pada platform rVSV.
Kemitraan ini juga melibatkan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI), yang telah menjanjikan dana untuk pengembangan vaksin rVSV dan upaya vaksin Ebola lainnya. Jika uji awal berhasil dan vaksin mendapat otorisasi, CEPI dan Hilleman berharap dapat memastikan pasokan dosis yang cepat dan terjangkau ke negara-negara yang terkena wabah serta negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Salah satu keunggulan vaksin baru ini adalah kemudahan penyimpanan. Ervebo memerlukan penyimpanan pada suhu ultra-rendah, sedangkan vaksin Bundibugyo diharapkan dapat bertahan berbulan-bulan di lemari es biasa. Hal ini akan membuat distribusi ke daerah terpencil menjadi lebih murah dan praktisโsebuah faktor krusial mengingat wabah di DRC terkonsentrasi di Provinsi Ituri yang terpencil.
Pengumuman ini muncul hanya sepekan setelah dosis pertama vaksin Bundibugyo yang dikembangkan Universitas Oxford disuntikkan ke seorang relawan dalam uji klinis yang diluncurkan cepat. Persaingan untuk menemukan vaksin yang efektif semakin ketat, terutama setelah WHO memperingatkan pada Mei bahwa vaksin rVSV kemungkinan membutuhkan waktu tujuh hingga sembilan bulan sebelum siap dinilai dalam uji klinis.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi tersendiri. Meskipun belum ada kasus Ebola di Indonesia, ancaman penyakit menular baru selalu menjadi perhatian. Kemampuan vaksin yang tidak memerlukan rantai dingin ekstrem dapat memudahkan penyimpanan dan distribusi di daerah terpencil Nusantara jika sewaktu-waktu diperlukan. Selain itu, keterlibatan organisasi berbasis Singapura menunjukkan pentingnya kolaborasi regional dalam menghadapi ancaman kesehatan global.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: mampukah para peneliti mempercepat uji klinis di tengah tekanan wabah yang terus meluas? Atau akankah strain Bundibugyo menjadi ancaman yang lebih besar sebelum vaksin siap digunakan?



