FDA Setujui Tes Darah Kedua untuk Deteksi Kanker Kolorektal: Harapan Baru Menutup Kesenjangan Skrining
Baca dalam 60 detik
- FDA menyetujui SimpleScreen, tes darah untuk skrining kanker kolorektal, sebagai alternatif bagi mereka yang menolak kolonoskopi atau tes tinja.
- Studi klinis PREEMPT CRC menunjukkan tes ini mendeteksi sekitar 80% kasus kanker kolorektal, dengan tingkat negatif palsu yang rendah.
- Para ahli menilai tes darah dapat meningkatkan partisipasi skrining, terutama di kalangan yang selama ini enggan, meski efektivitasnya masih di bawah metode standar.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) baru saja memberikan lampu hijau untuk tes darah kedua yang dirancang mendeteksi kanker kolorektal. Langkah ini diyakini mampu menjaring lebih banyak orang yang selama ini menghindari metode skrining konvensional, seperti kolonoskopi atau tes tinja di rumah.
Kanker kolorektal merupakan pembunuh nomor dua di antara jenis kanker secara global, dan kini semakin banyak menyerang usia di bawah 50 tahun. Padahal, penyakit ini sangat bisa dicegah bila terdeteksi sejak dini. Namun, sekitar 60 juta warga AS yang memenuhi syarat belum pernah menjalani skrining. Angka ini menjadi perhatian serius karena keterlambatan deteksi berujung pada pengobatan yang lebih berat dan angka harapan hidup yang lebih rendah.
Persetujuan FDA atas tes bernama SimpleScreen dari perusahaan Freenome ini menambah opsi skrining yang lebih ramah bagi pasien. Cukup dengan pengambilan sampel darah, pasien bisa mendapatkan hasil dalam waktu sekitar dua minggu. Studi klinis PREEMPT CRC yang melibatkan lebih dari 48.000 partisipan menunjukkan tes ini mampu mendeteksi sekitar 8 dari 10 kasus kanker kolorektal, dan memberikan hasil negatif pada 9 dari 10 orang yang tidak mengidap kanker atau lesi prakanker lanjut.
Paul Limburg, Chief Screening Medical Officer di Abbott Cancer Diagnostics, menegaskan bahwa tidak ada pendekatan skrining yang cocok untuk semua orang. Menurutnya, preferensi pasien sangat beragam, dan menambah opsi berbasis darah bisa menjadi pintu masuk bagi mereka yang selama ini menolak kolonoskopi atau tes tinja. Ia juga mengingatkan bahwa keputusan skrining sebaiknya tetap melibatkan diskusi antara pasien dan tenaga medis.
Meski demikian, organisasi profesi seperti American Gastroenterological Association (AGA) dan American Society for Gastrointestinal Endoscopy (ASGE) mengingatkan bahwa tes darah saat ini masih kalah efektif dibandingkan kolonoskopi atau tes tinja. Mereka merekomendasikan tes darah hanya untuk individu yang menolak metode standar. Namun, tes ini tetap dianggap lebih baik daripada tidak melakukan skrining sama sekali.
Bagi Indonesia, kabar ini relevan mengingat tren peningkatan kasus kanker kolorektal di Asia Tenggara. Data Globocan 2020 mencatat lebih dari 30.000 kasus baru di Indonesia setiap tahunnya. Sayangnya, kesadaran skrining masih rendah, dan banyak pasien datang saat stadium lanjut. Adopsi tes darah bisa menjadi alternatif yang lebih mudah diterima masyarakat, terutama di daerah dengan akses terbatas ke fasilitas endoskopi. Meski belum tersedia di Indonesia, pengalaman FDA ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi kebijakan skrining nasional ke depan.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan tes darah tidak menggantikan metode yang lebih akurat, melainkan sebagai pelengkap untuk menjaring mereka yang selama ini tidak tersentuh. Pertanyaannya, akankah Indonesia siap mengadopsi teknologi serupa untuk menekan angka kematian akibat kanker kolorektal?



