Perang Terbuka UEFA vs FIFA: Boikot Piala Dunia Mengancam Jika Rencana Ekuitas Swasta Disahkan
Baca dalam 60 detik
- UEFA mengancam akan memboikot seluruh turnamen FIFA termasuk Piala Dunia jika rencana penjualan saham kompetisi kepada investor swasta disetujui.
- Wakil Presiden UEFA Laura McAllister menyebut tawaran kompensasi FIFA sebesar 30 juta pound sebagai bentuk pemerasan yang mengancam masa depan sepak bola.
- Eropa sebagai pusat kekuatan sepak bola dunia diyakini mampu menggagalkan rencana tersebut, meski ancaman boikot berpotensi memicu krisis legitimasi FIFA.

Wakil Presiden UEFA Laura McAllister menuding FIFA melakukan praktik pemerasan terhadap asosiasi anggota dengan memberikan tenggat waktu singkat untuk menyetujui rencana kontroversial penjualan saham turnamen utama kepada perusahaan ekuitas swasta. Dalam pernyataan kerasnya, McAllister menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan ancaman eksistensial bagi sepak bola global.
Pernyataan itu muncul setelah 55 asosiasi anggota UEFA dalam rapat darurat virtual, Kamis (19/9), memutuskan untuk memboikot seluruh turnamen FIFAโtermasuk Piala Dunia putra dan putri serta Piala Dunia Antarklubโjika proposal penjualan saham itu disahkan. Keputusan ini merupakan respons langsung terhadap surat Presiden FIFA Gianni Infantino yang menawarkan kompensasi sebesar 15 juta pound (sekitar Rp305 miliar) per asosiasi dengan batas waktu 19 September, plus janji tambahan 15 juta pound kemudian.
McAllister, mantan kapten timnas Wales yang kini duduk di komite eksekutif UEFA, menyebut tawaran tersebut sebagai bentuk pemerasan finansial. "Ini adalah pemerasan karena mereka memberikan waktu yang sangat sempit untuk mempertimbangkan proposal yang sangat signifikan dan mengubah segalanya," ujarnya kepada BBC Radio Wales Drive. Ia menambahkan bahwa akar masalahnya bukanlah tenggat waktu, melainkan upaya menjual bagian dari "mahkota" sepak bola kepada lingkungan ekuitas swasta yang memiliki motif dan tujuan berbeda dari para pengelola olahraga ini.
McAllister menekankan bahwa ancaman boikot bukanlah gertakan kosong. "Eropa adalah pusat kekuatan sepak bola dunia. Tanpa negara-negara Eropa, Piala Dunia bukanlah Piala Dunia," tegasnya. Ia optimistis sikap tegas UEFA akan mendorong konfederasi lain, seperti Asia (AFC) dan Amerika Utara/Tengah (CONCACAF), untuk ikut menolak proposal tersebut. Namun, ia mengakui berharap boikot tidak benar-benar terjadi karena sulit membayangkan FIFA akan melanjutkan turnamen tanpa partisipasi Eropa.
Kritik McAllister tidak berhenti pada rencana ekuitas swasta. Ia juga menyoroti sejumlah keputusan FIFA yang dianggap bermasalah, seperti pencabutan kartu merah kontroversial dan pemberian "hadiah perdamaian FIFA" yang dinilai sarat kepentingan politik. "Ini bukan satu-satunya hal yang membuat kami khawatir dari sudut pandang Eropa," katanya.
Di sisi lain, keputusan UEFA ini berpotensi berdampak pada rencana Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales menjadi tuan rumah Piala Dunia Wanita 2035. Saat ini, penawaran bersama tersebut menjadi satu-satunya kandidat yang masuk, dengan konfirmasi status tuan rumah dijadwalkan pada November mendatang. McAllister, yang juga mantan pemain timnas Wales, mengakui pentingnya ajang tersebut tetapi yakin boikot tidak akan sampai mengorbankan partisipasi Eropa. "Bayangkan Piala Dunia Wanita tanpa Spanyol, Inggris, Prancis, dan Jerman. Hal yang sama berlaku untuk putra," ujarnya.
Ketegangan antara UEFA dan FIFA semakin memanas, dengan Infantino dianggap lebih mementingkan keuntungan finansial ketimbang integritas olahraga. Pertanyaan besarnya kini: akankah konfederasi lain cukup berani mengikuti jejak Eropa, atau justru tergiur dengan iming-iming dana segar dari FIFA? Jawabannya akan menentukan masa depan tata kelola sepak bola global.



