Mari Yamazaki, Komikus 'Thermae Romae', Pimpin Perpustakaan Anak di Kampus Hokkaido
Baca dalam 60 detik
- Perpustakaan anak baru di Universitas Hokkaido, dirancang Tadao Ando, resmi beroperasi dengan direktur kehormatan Mari Yamazaki.
- Fasilitas seluas 350 meter persegi ini menyimpan 15.000 koleksi dan menjadi perpustakaan keenam dari donasi Ando di Jepang.
- Langkah ini menegaskan peran universitas dalam literasi anak serta potensi adopsi model serupa di Indonesia.

Komikus terkenal Jepang, Mari Yamazaki, yang dikenal lewat karya Thermae Romae, kini mengemban peran baru sebagai direktur kehormatan perpustakaan anak yang baru dibuka di lingkungan Universitas Hokkaido, Sapporo. Perpustakaan bernama Children's Book Forest Sapporo - Hokkaido University ini mulai beroperasi pada 1 Agustus lalu, menandai langkah konkret universitas dalam mendekatkan buku kepada generasi muda.
Fasilitas yang menempati area seluas 350 meter persegi ini dirancang oleh arsitek kelas dunia Tadao Ando, dengan bentuk melengkung yang sengaja dipilih untuk menghindari kerusakan pepohonan di kampus. Sekitar 15.000 koleksi, mulai dari buku anak hingga ensiklopedia bergambar, tersedia bagi pengunjung. Yang menarik, perpustakaan ini merupakan yang keenam dalam rangkaian Children's Book Forest yang didanai Ando di berbagai wilayah Jepang, sekaligus yang pertama dibangun di dalam area kampus universitas.
Peresmian dihadiri sekitar 50 undangan, termasuk pejabat universitas dan pemerintah kota Sapporo. Rektor Universitas Hokkaido, Kiyohiro Houkin, menekankan bahwa tempat ini menjadi ruang belajar yang unik karena anak-anak dapat berinteraksi langsung dengan mahasiswa dan peneliti. Sementara itu, dalam sambutan video, Ando berharap perpustakaan kecil ini mampu memantik ambisi generasi muda melalui kebiasaan membaca.
Mari Yamazaki bukan wajah asing di kampus tersebut. Sebelum terkenal sebagai komikus, ia pernah mengajar bahasa Italia di universitas yang sama. Dalam sambutannya, ia mengajak masyarakat dari dalam dan luar Hokkaido untuk berkunjung, baik anak-anak maupun orang dewasa. Perpustakaan ini menerapkan sistem rotasi waktu kunjungan, dan pengunjung tidak diizinkan meminjam bukuโhanya membaca di tempat.
Kehadiran perpustakaan ini menggarisbawahi tren kolaborasi antara institusi pendidikan, arsitek, dan seniman dalam membangun ekosistem literasi. Di Indonesia, model serupa bisa menjadi inspirasi bagi kampus-kampus yang ingin memperluas peran sosialnya, terutama di tengah rendahnya minat baca anak. Jika universitas-universitas di tanah air mengadopsi pola kemitraan semacam ini, bukan tidak mungkin lahir ruang baca yang tak hanya fungsional, tetapi juga menjadi ikon arsitektur dan budaya.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah inisiatif seperti ini akan berkelanjutan dan mampu menjangkau lebih banyak anak di luar lingkungan kampus. Dengan dukungan pemerintah dan tokoh publik, perpustakaan semacam ini berpotensi menjadi model percontohan bagi pengembangan literasi anak di kawasan Asia, termasuk Indonesia.



