Film China Picu Gelombang Pencarian Akar Leluhur: Ribuan Keturunan Teochew di Asia Tenggara Terhubung Kembali
Baca dalam 60 detik
- Kesuksesan film Dear You memicu lonjakan permintaan pencarian leluhur dari keturunan Teochew di Singapura dan Malaysia.
- Jaringan sukarelawan di China memanfaatkan WeChat dan data tradisional untuk merekatkan kembali keluarga yang terpisah puluhan tahun.
- Para ahli mengingatkan bahwa pencarian harus segera dilakukan karena ingatan generasi tua dan dokumen sejarah semakin memudar.

Film laris China, Dear You, yang mengisahkan diaspora Teochew, telah memicu gelombang emosional di kalangan keturunan perantau di Asia Tenggara. Ribuan orang kini berbondong-bondong mencari jejak keluarga yang terputus sejak migrasi besar-besaran pada 1940-an, memanfaatkan jaringan sukarelawan di China yang menghubungkan mereka melalui teknologi modern.
Sejak penayangan regional film tersebut pada Juni lalu, permintaan pencarian akar keluarga dari warga Singapura dan Malaysia melonjak drastis. Zeng Jianpeng, salah satu pendiri Asosiasi Sukarelawan Chaozhou untuk Reuni Keluarga Tionghoa Perantauan, mengungkapkan bahwa permintaan yang biasanya hanya satu atau dua per bulan kini membeludak menjadi puluhan. โKami benar-benar kewalahan,โ ujarnya, menandakan besarnya dampak film yang telah meraup hampir 2 miliar yuan (sekitar US$296 juta) di box office domestik China tersebut.
Jaringan sukarelawan yang tersebar di provinsi Guangdong, Fujian, dan Jiangxi ini telah berhasil mempertemukan 1.097 keluarga sejak berdiri pada 2016. Dari jumlah itu, 83 kasus berasal dari Malaysia dan 22 dari Singapura. Setelah film dirilis, setidaknya 10 keluarga dari kedua negara tersebut telah dipertemukan kembali. Mereka bekerja tanpa pamrih, mengandalkan aplikasi pesan instan WeChat untuk mengumpulkan petunjuk, berbagi foto usang, silsilah keluarga, hingga prasasti makam.
Proses pencarian dimulai dengan mengorganisir informasi dari para pencari, kemudian sukarelawan di lapangan memverifikasi kebenarannya dengan berkonsultasi pada tetua klan dan menelusuri catatan sejarah. Kecepatan menjadi kunci; beberapa kasus tercepat dapat diselesaikan dalam setengah jam, sementara yang lain bisa memakan waktu bertahun-tahun. Namun, teknologi bukanlah segalanya. Para sukarelawan menekankan bahwa petunjuk tradisional seperti nama tempat lama dan ingatan warga senior tetap menjadi fondasi utama. โTanpa itu, teknologi modern pun tidak banyak membantu,โ kata Lu Limiao, seorang terapis rehabilitasi yang aktif menjadi sukarelawan.
Kisah Sammi Yeung, seorang pengacara dari Johor, Malaysia, menjadi pengingat akan urgensi pencarian ini. Setelah bertahun-tahun gagal melalui asosiasi klan setempat, ia akhirnya terhubung dengan sukarelawan melalui media sosial. Hanya bermodalkan nama kakek-nenek buyutnya dan sebuah alamat lama, ia berhasil menemukan kerabat dalam sehari. Namun, ketika ia dan keluarganya tiba di Chaoshan, sepupu kakeknya yang selama ini berkorespondensi telah jatuh sakit dan tak bisa lagi berkomunikasi. โJika kami langsung memesan tiket setelah menemukan mereka, mungkin kakek saya bisa berbicara langsung dengan sepupunya,โ sesalnya.
Fenomena ini tidak hanya menyentuh ranah personal, tetapi juga memiliki dimensi yang relevan bagi Indonesia. Dengan populasi etnis Tionghoa yang signifikan, sebagian besar berasal dari wilayah selatan China, gelombang pencarian akar ini berpotensi menjalar ke tanah air. Banyak keluarga Tionghoa-Indonesia yang juga kehilangan kontak dengan kerabat di China akibat gejolak politik dan sosial di masa lalu. Kisah-kisah seperti ini dapat menginspirasi mereka untuk menelusuri kembali asal-usul, sekaligus memperkuat ikatan budaya yang sempat terputus.
Namun, para sukarelawan mengingatkan bahwa waktu adalah musuh terbesar. Desa-desa berganti nama, batas administratif berubah, dan ingatan generasi tua semakin memudar. โSemakin cepat orang mulai mencari, semakin besar peluang sukses,โ tegas Lu. Informasi yang diturunkan dari generasi ke generasi pasti akan semakin tidak lengkap. Pertanyaannya, mampukah teknologi dan semangat gotong royong para sukarelawan mengejar ketertinggalan sebelum semuanya hilang ditelan zaman?



