Snooki Polizzi Hadapi Histerektomi: Kanker Serviks Stadium Awal dan Perjuangan Melawan Rasa Sakit
Baca dalam 60 detik
- Bintang Jersey Shore, Nicole 'Snooki' Polizzi, akan menjalani histerektomi terbuka setelah didiagnosis kanker serviks stadium satu, dengan risiko sembilan persen kanker tidak terangkat jika menggunakan metode laparoskopi.
- Snooki memanfaatkan TikTok untuk mencari rekomendasi perlengkapan pemulihan dan berbagi pengalaman, yang membantunya menerima diagnosis dan membangun komunitas dukungan sesama wanita.
- Keputusan Snooki untuk mendokumentasikan perawatannya secara publik menyoroti pentingnya keterbukaan tentang kesehatan reproduksi, sebuah isu yang masih tabu di banyak negara termasuk Indonesia.

Nicole 'Snooki' Polizzi, bintang reality show Jersey Shore, mengaku cemas menghadapi rasa sakit dari operasi histerektomi yang akan dijalaninya. Pengangkatan rahim itu terpaksa dilakukan setelah ia didiagnosis menderita kanker serviks stadium awal pada Februari lalu.
Dalam unggahan TikTok, perempuan 38 tahun itu menunjukkan perlengkapan yang sudah disiapkan: sabuk perut, obat sembelit, dan bantal pemanas berbobot. Ia meminta rekomendasi dari para pengikut yang pernah menjalani prosedur serupa. "Kalian tahu saya tidak suka sakit. Saya ingin nyaman dan pulih dengan cara terbaik," ujarnya.
Snooki memilih menjalani histerektomi abdominal terbuka—sayatan besar seperti operasi caesar—daripada metode laparoskopi yang lebih minim invasif. Alasannya, dokter menilai ada risiko sembilan persen kanker tidak terangkat seluruhnya jika menggunakan kamera kecil. "Pemulihannya memang lebih berat, tapi ini yang terbaik," katanya.
Di balik ketakutannya, Snooki justru menemukan kekuatan dari komunitas TikTok. Ia mengaku langsung mencari video wanita lain yang berbagi pengalaman serupa setelah diagnosis. "Saya pikir saya akan mati. Tapi melihat mereka yang sembuh membuat saya tenang," katanya kepada E! News. Keputusan untuk mendokumentasikan perjalanan pengobatannya secara terbuka lahir dari keinginan untuk mematahkan tabu seputar kanker serviks dan histerektomi.
Fenomena ini relevan dengan kondisi di Indonesia, di mana kanker serviks masih menjadi pembunuh nomor satu bagi wanita, dengan lebih dari 36.000 kasus baru per tahun (data Globocan 2020). Namun, kesadaran akan deteksi dini dan pengobatan masih rendah. Cerita Snooki bisa menjadi pengingat bahwa keterbukaan tentang kesehatan reproduksi penting untuk mengurangi stigma dan mendorong wanita memeriksakan diri.
Snooki juga menceritakan reaksi anak-anaknya saat diberi tahu tentang penyakitnya. Putra sulungnya, Lorenzo, bertanya apakah ia akan pergi ke surga, sementara yang lain bercanda soal warisan. "Mereka sadar mama harus sehat dan melewati operasi ini. Semua akan baik-baik saja," ujarnya.
Ke depannya, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah langkah Snooki akan menginspirasi lebih banyak wanita untuk berbicara terbuka tentang kanker serviks dan histerektomi? Di Indonesia, di mana topik ini masih dianggap pribadi, contoh publik seperti ini bisa menjadi katalis perubahan persepsi.



