Buta Sebelah Mata, Elton John Balikkan Cara Berkarya: Album Baru Rilis Awal 2025
Baca dalam 60 detik
- Elton John merombak total proses kreatifnya setelah infeksi mata membuatnya buta di mata kanan, beralih dari lirik pertama menjadi melodi pertama.
- Album baru yang dikerjakan bersama Andrew Watt dan Bernie Taupin ini dijadwalkan rilis awal 2025, mengikuti kolaborasi sebelumnya dengan Brandi Carlile.
- Perubahan metode ini menjadi titik balik karier sang legenda yang telah berusia 79 tahun, menghasilkan karya yang disebutnya paling membahagiakan.

Elton John dipastikan akan merilis album baru pada awal tahun depan, sebuah karya yang lahir dari keterbatasan fisik yang justru memicu terobosan kreatif. Album ini menjadi yang pertama dalam karier panjangnya yang ditulis dengan pendekatan melodi terlebih dahulu, setelah infeksi mata yang dideritanya sejak musim panas 2024 membuatnya kehilangan penglihatan di mata kanan.
Bernie Taupin, kolaborator setia yang telah menulis lirik untuk sebagian besar lagu Elton John, mengungkapkan bahwa sang musisi mengerjakan album tersebut bersama produser Andrew Watt—yang sebelumnya juga menangani album kolaborasi Elton dengan Brandi Carlile, Who Believes in Angels? (2025). Dalam wawancara dengan Rolling Stone, Taupin mengatakan bahwa ia menerima tiga atau empat trek instrumental dari Elton dan diminta untuk menulis lirik di atasnya. “Ini benar-benar cara bermain yang berbeda baginya,” ujar Taupin.
Perubahan metode ini bermula saat Elton menerima penghargaan Glenn Gould Prize di Toronto, Mei lalu. Di hadapan audiens, ia mengaku bahwa kebiasaannya selama puluhan tahun—membaca lirik lalu menulis melodi—tidak lagi bisa dilakukan karena gangguan penglihatan. “Saya benar-benar kacau saat ini,” katanya saat itu. Namun, ia justru melihat sisi positif: “Apa yang terjadi pada mata saya memberi saya kesempatan, di usia 80 tahun, untuk membalikkan total cara saya menulis.”
Hasil dari pendekatan baru ini, menurut Elton, adalah album yang “sangat berbeda dari apa pun yang pernah saya buat sebelumnya, tetapi sangat membahagiakan.” Ia mengaku merasa mendapat “kesempatan kedua” untuk berkarya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak selalu menjadi akhir, melainkan bisa menjadi pintu masuk ke fase kreatif yang belum pernah dijelajahi.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kabar ini menjadi pengingat bahwa inovasi sering lahir dari tekanan. Industri musik Tanah Air, yang juga dihuni oleh musisi senior seperti Iwan Fals atau Titiek Puspa, bisa mengambil pelajaran dari kegigihan Elton John dalam beradaptasi. Di tengah dominasi platform digital dan perubahan selera pendengar, kemampuan untuk berevolusi menjadi kunci relevansi. Apalagi, pasar musik Indonesia yang besar—dengan penetrasi streaming yang terus meningkat—memberi ruang bagi musisi lintas generasi untuk tetap eksis.
Taupin sendiri belum bisa memastikan tanggal pasti rilis album tersebut, namun ia optimistis akan hadir di awal tahun. “Dia melakukannya dengan Andrew Watt lagi, dan dia menulisnya dengan cara yang benar-benar berbeda hanya karena masalah penglihatannya,” jelasnya. Kolaborasi dengan Watt, yang sebelumnya sukses menggarap album Who Believes in Angels?, menjadi jaminan kualitas tersendiri.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah album ini menjadi penutup sempurna bagi karier Elton John yang telah berjalan lebih dari setengah abad? Atau justru menjadi awal babak baru yang lebih eksperimental? Yang jelas, di usianya yang mendekati 80 tahun, Elton John membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal kata pensiun.



