Jelajah Mitos Singapura: Light Together Bras Basah-Bugis Hadirkan Instalasi Cahaya Interaktif Gratis
Baca dalam 60 detik
- Lima instalasi cahaya interaktif akan menerangi kawasan Bras Basah-Bugis mulai 1 Agustus hingga 5 September, mengangkat mitos dan folklor Singapura.
- Acara gratis ini bertepatan dengan Singapore Night Festival 2026 dan perayaan Hari Nasional, menawarkan pengalaman imersif bagi pengunjung.
- Instalasi di Museum Nasional hanya berlangsung hingga 12 Agustus, sebelum digantikan karya baru pada 21 Agustus.

Kawasan Bras Basah-Bugis di Singapura akan berubah menjadi galeri seni terbuka yang memukau selama sebulan penuh, mulai 1 Agustus hingga 5 September. Sebanyak lima instalasi cahaya interaktif akan menghiasi ruang publik, mengangkat mitos, legenda, dan kepercayaan sehari-hari yang telah mengakar dalam budaya Singapura. Acara bertajuk Light Together Bras Basah-Bugis ini digelar gratis sebagai bagian dari perayaan Singapore Night Festival 2026 dan Hari Nasional.
Instalasi-instalasi tersebut tersebar di beberapa titik strategis, termasuk Artsplace @ Waterloo Centre, Reflection Pool di depan Stasiun MRT Bras Basah, Stamford Place, Stamford Walkway, dan Museum Nasional Singapura. Namun, instalasi di museum hanya akan beroperasi hingga 12 Agustus, sebelum digantikan oleh karya proyeksi mapping baru pada 21 Agustus sebagai bagian dari festival utama. Pengunjung dapat mengakses seluruh lokasi melalui stasiun MRT Bras Basah, Bencoolen, Dhoby Ghaut, dan City Hall.
Tema tahun ini, Myths and Legends, menjadi benang merah yang menghubungkan setiap karya. Melalui permainan cahaya, proyeksi mapping, dan instalasi interaktif, seniman-seniman lokal mencoba menghidupkan kembali cerita-cerita lama yang mungkin mulai terlupakan. Di Stamford Place, seniman Roger Ng Wei Lun mempersembahkan Wandering Spirits Unbound, sebuah instalasi yang mempertemukan makhluk-makhluk legendaris seperti ikan todak Redhill, kura-kura dari legenda Pulau Kusu, singa Sang Nila Utama, serta Sang Kancil. Karya ini seolah mengajak pengunjung menyusuri lorong waktu dan mengenal kembali warisan naratif Singapura.
Sementara itu, di Reflection Pool, instalasi Plant Chilli Then No Rain! karya Arup mengangkat kepercayaan populer tentang meletakkan cabai dan bawang di luar rumah untuk menghentikan hujan. Dengan tusuk sate raksasa yang menyala, instalasi ini tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memantik refleksi tentang tradisi yang diwariskan lintas generasi. Arup juga menghadirkan Touch Wood! di Artsplace @ Waterloo Centre, sebuah pohon patung dengan bola-bola cahaya yang merespons sentuhan pengunjung. Ketika seseorang menyentuh kayu tersebut, lampu-lampu berubah warna, memberi bentuk visual pada kebiasaan mengetuk kayu untuk menangkal nasib buruk.
HeritageSG membawa pengunjung pada perjalanan imersif melalui A Walk Through Mythical Singapore di Stamford Walkway. Instalasi ini terbagi menjadi tiga alam: Laut yang mengisahkan legenda Redhill, Darat yang mengikuti pertemuan Sang Nila Utama dengan singa, dan Langit yang menampilkan makhluk mitis seperti garuda dan naga Tionghoa. Sementara itu, di Museum Nasional, Howie Kim mempersembahkan Voyage of Icons, proyeksi mapping berskala besar yang mengubah fasad museum menjadi kanvas animasi yang terinspirasi folklor Singapura.
Bagi Indonesia, gelaran ini menarik untuk dicermati sebagai contoh bagaimana ruang publik dapat dihidupkan melalui seni dan teknologi. Di tengah maraknya festival serupa di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, pendekatan Singapura yang mengangkat kearifan lokal bisa menjadi inspirasi untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menarik wisatawan. Apakah Indonesia akan mengikuti jejak serupa dengan menggarap mitos Nusantara dalam format instalasi cahaya? Yang jelas, Light Together Bras Basah-Bugis membuktikan bahwa cerita rakyat tidak pernah kehilangan relevansinyaโia hanya menunggu cara baru untuk diceritakan.



