Dokumenter Ungkap Tuduhan Pelecehan Jared Leto: Karier Hollywood Terancam, Industri Hiburan Menanti Sikap Tegas
Baca dalam 60 detik
- Produser dokumenter menilai masa depan Jared Leto di layar lebar bakal suram, meski karier musiknya mungkin masih bertahan.
- Kasus ini disebut sebagai ujian bagi industri film dan musik dalam merespons tuduhan serius terhadap figur berpengaruh.
- Sepuluh perempuan mengungkap pengalaman mereka, termasuk dugaan pelecehan terhadap anak di bawah umur, yang memicu diskusi tentang akuntabilitas di Hollywood.

Jared Leto, aktor dan vokalis Thirty Seconds to Mars, kini berada di pusat badai setelah dokumenter Jared Leto: Hollywood's Dark Secret mengungkap kesaksian sepuluh perempuan yang menuduhnya melakukan perilaku predatoris antara 2002 dan 2016. Produser film tersebut, Jessca Sartenaer, menilai peluang sang bintang untuk kembali membintangi film Hollywood besar akan sangat sulit, meskipun ia membantah seluruh tuduhan.
Dokumenter yang dirilis belum lama ini memicu gelombang reaksi, tidak hanya karena beratnya tuduhan, tetapi juga karena momennya yang dinilai krusial bagi gerakan #MeToo. Mark Radford, produser eksekutif, menyebut kasus Leto sebagai 'barometer' untuk mengukur sejauh mana industri hiburan serius menangani tuduhan kekerasan seksual. Menurutnya, respons industri terhadap kasus ini akan menentukan apakah perubahan yang digaungkan sejak 2017 benar-benar berakar atau hanya basa-basi.
Sartenaer menyoroti bahwa ini bukan pertama kalinya Leto menghadapi tuduhan serupa, namun sebelumnya kasus tersebut tenggelam tanpa perhatian publik yang luas. Kini, dengan sorotan media dan tekanan publik, ia meragukan apakah aktor berusia 54 tahun itu bisa 'bertahan'. Namun, ia mengakui basis penggemar Thirty Seconds to Mars yang loyal mungkin tetap mendukung karier musiknya, yang dinilai terpisah dari dunia akting.
Di tengah pernyataan bantahan Leto yang menyebut tuduhan itu 'sangat salah', tim produksi mengungkapkan bahwa pihak Leto tidak merespons langsung tuduhan tersebut meski telah diberikan waktu lebih dari dua minggu. Mereka baru mengeluarkan pernyataan setelah film tayang, tanpa berbagi dengan tim dokumenter. Hal ini menambah kecurigaan bahwa sang aktor menghindari dialog terbuka.
Kesaksian dalam film tersebut mencakup tuduhan serius, termasuk seorang perempuan yang mengaku dilecehkan di kamar mandi motel saat berusia 17 tahun, serta perempuan lain yang merasa terancam saat ditinggal sendirian dengan Leto di kamar hotel pada usia 19 tahun. Seorang saksi lain, Clara, mengklaim Leto mengabaikan pembicaraan tentang usia consent di California ketika berhubungan dengannya saat ia masih 17 tahun. Ada pula tuduhan grooming terhadap anak berusia 16 tahun melalui telepon.
Bagi publik Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa isu kekerasan seksual tidak mengenal batas geografis. Di dalam negeri, gerakan #MeToo juga pernah bergema, terutama melalui kasus-kasus yang terungkap di industri kreatif. Respons Hollywood terhadap Leto akan menjadi contoh bagaimana industri seharusnya—atau tidak seharusnya—menangani tuduhan terhadap figur berkuasa. Hal ini relevan dengan upaya Indonesia memperkuat perlindungan korban dan mendorong akuntabilitas pelaku, baik di sektor hiburan maupun lainnya.
Sartenaer memuji keberanian para perempuan yang berbicara, menyebut tindakan mereka akan memberdayakan banyak korban lain untuk bersuara. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah industri film dan musik akan konsisten menerapkan standar etika yang sama, atau justru membiarkan kasus ini meredup seiring waktu? Jawabannya akan menentukan arah gerakan keadilan di Hollywood dan sekitarnya.



