Wall Street Terjun Bebas: The Fed Tahan Suku Bunga, Saham AI Terpukul
Baca dalam 60 detik
- Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50-3,75%, memicu aksi jual besar-besaran di Wall Street.
- Saham teknologi dan AI menjadi yang paling tertekan, dengan Nasdaq 100 turun 11% dari rekor Juni, dipicu kekhawatiran belanja modal berlebihan.
- Keputusan The Fed meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga pada September, menekan pasar dan memperkuat ketidakpastian global.

Wall Street ditutup merosot tajam pada Rabu (29/7) setelah bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan tanpa perubahan, langkah yang sudah diantisipasi pasar namun tetap memicu aksi jual besar-besaran, terutama pada saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI).
The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen, sebuah keputusan yang tidak bulat: tiga dari 12 anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyatakan preferensi untuk menaikkan suku bunga seperempat poin persentase pada pertemuan ini. Sikap dovish yang terbelah ini justru memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi yang masih tinggi dan harga energi yang melonjak akibat ketegangan geopolitik akan memaksa The Fed bertindak lebih agresif pada September mendatang.
Indeks S&P 500 merosot 1,52 persen ke level 7.316,15, terendah dalam sebulan terakhir. Nasdaq Composite yang sarat teknologi ambles 1,74 persen ke 24.442,94, sementara Dow Jones Industrial Average terpangkas 2,19 persen ke 51.594,14. Penurunan terdalam terjadi pada sektor industri (-3,24 persen) dan teknologi informasi (-2,5 persen).
Yang paling menonjol adalah koreksi tajam pada saham-saham AI. Nasdaq 100, yang berisi perusahaan non-keuangan paling bernilai di bursa Nasdaq, tercatat telah turun 11 persen dari rekor tertinggi Juni. Investor mulai resah terhadap pengeluaran modal besar-besaran perusahaan teknologi untuk infrastruktur AI yang belum sepenuhnya membuahkan hasil. Meta Platforms, misalnya, ambles 4 persen dalam perdagangan setelah jam reguler setelah merevisi naik proyeksi belanja modal 2026 menjadi US$130-145 miliar, dari sebelumnya US$125-145 miliar. Sebaliknya, Microsoft justru naik tipis 0,6 persen setelah pendapatan cloud-nya melampaui estimasi analis, menandakan investasi AI-nya mulai membayar.
Tekanan juga datang dari persaingan ketat dengan China, baik dalam pengembangan chip canggih maupun peluncuran model AI murah oleh perusahaan China. Saham SK Hynix, produsen chip asal Korea Selatan, terjun 10 persen meskipun laba kuartalannya melonjak enam kali lipat—namun masih di bawah ekspektasi investor yang terlalu tinggi. Vertiv, perusahaan infrastruktur AI, ambruk 17 persen setelah pendapatan kuartalannya meleset dari target.
Keputusan The Fed ini menjadi sinyal bagi bank sentral global, termasuk Bank Indonesia, untuk tetap waspada terhadap tekanan inflasi. Bagi investor Indonesia, koreksi Wall Street kerap memicu aksi jual di pasar saham domestik, terutama saham teknologi dan komoditas. Dengan suku bunga AS yang masih tinggi, aliran modal asing ke pasar emerging market seperti Indonesia berpotensi terhambat. Rupiah pun berpotensi tertekan jika The Fed akhirnya menaikkan suku bunga pada September.
Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group, menilai keputusan The Fed sudah sesuai ekspektasi, namun pertanyaan besarnya adalah tekanan untuk menaikkan suku bunga pada September. “Inflasi masih panas dan harga minyak mentah melonjak, pasar memperkirakan kenaikan suku bunga berikutnya akan terjadi pada September,” ujarnya. Ketua The Fed Kevin Warsh, dalam konferensi pers, menyebut belanja AI sebagai fondasi pertumbuhan masa depan, namun pasar tampaknya belum sepenuhnya yakin.
Di sisi lain, laporan keuangan kuartal II perusahaan S&P 500 diperkirakan melonjak 40 persen secara tahunan, dengan saham AI menyumbang sebagian besar pertumbuhan tersebut, menurut data LSEG. Namun, koreksi yang terjadi justru membuat valuasi pasar lebih menarik, dengan rasio harga terhadap laba (P/E) S&P 500 kini di 20 kali, hanya sedikit di atas rata-rata historis 19 kali.
Beberapa saham justru mencatat kenaikan: Ford Motor naik 2,1 persen setelah menaikkan prospek laba tahunan untuk kedua kalinya, sementara Visa menguat 0,6 persen berkat permintaan perjalanan yang didorong Piala Dunia. Namun, secara keseluruhan, jumlah saham yang turun lebih banyak 1,8 kali lipat dibanding yang naik. S&P 500 mencatat 32 titik tertinggi baru dan 4 titik terendah baru, sementara Nasdaq mencatat 121 titik tertinggi baru dan 230 titik terendah baru—menandakan pelemahan yang meluas.
Pertanyaan kini mengemuka: apakah koreksi ini hanya koreksi sehat atau awal dari tren bearish? Dengan The Fed yang masih gamang dan belanja AI yang terus membengkak, investor global akan mencermati data inflasi dan tenaga kerja AS ke depan sebagai penentu arah suku bunga. Bagi Indonesia, stabilitas nilai tukar dan arus modal menjadi taruhan utama di tengah ketidakpastian ini.



