Ambisi Newcastle ke Puncak Dunia Terganjal Aturan Keuangan: Kepergian Howe Jadi Alarm
Baca dalam 60 detik
- Eddie Howe hengkang dari Newcastle setelah klub terpaksa menjual bintang-bintangnya demi mematuhi regulasi keuangan Premier League.
- Aturan Profit and Sustainability (PSR) membatasi belanja meski dimiliki dana kaya raya, memaksa Newcastle menjual pemain kunci seperti Isak, Gordon, dan Tonali.
- Kepergian Howe menimbulkan tanda tanya besar soal ambisi Newcastle menjadi klub top dunia pada 2030 di tengah keterbatasan finansial.

Kepergian manajer Eddie Howe dari Newcastle United pada pertengahan pramusim menjadi sinyal paling jelas bahwa ambisi besar klub berjuluk The Magpies itu mulai tergerus aturan keuangan yang ketat. Hanya tujuh bulan setelah CEO David Hopkinson menyatakan Newcastle bisa bersaing menjadi klub terbaik dunia pada 2030, kenyataan di lapangan justru menunjukkan arah sebaliknya: pemain-pemain bintang terus dijual, dan ruang gerak di bursa transfer semakin sempit.
Howe, yang sukses mengakhiri puasa gelar domestik Newcastle selama 70 tahun lewat Carabao Cup musim lalu, memutuskan pergi setelah musim 2024/25 yang mengecewakan—finis di peringkat ke-12 Premier League. Keputusan itu diambil di tengah pramusim, bukan di akhir musim, yang mengejutkan banyak pendukung. Menurut laporan, Howe sudah menyampaikan niatnya mundur dua pekan sebelumnya, dan klub sempat memintanya bertahan hingga pengganti ditemukan.
Masalah utama Newcastle bukanlah kurangnya dana dari pemilik, melainkan aturan Profit and Sustainability Rules (PSR) yang membatasi pengeluaran berdasarkan pendapatan klub. Sejak diakuisisi Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi pada 2021, Newcastle telah menggelontorkan £404,7 juta untuk pembelian pemain dalam tiga tahun pertama, namun hanya meraup £50,4 juta dari penjualan. Akibatnya, pada 2024 mereka harus menjual pemain jebolan akademi Elliot Anderson ke Nottingham Forest, dan sejak itu kebiasaan menjual pemain bintang terus berlanjut.
Dalam setahun terakhir, Newcastle melepas Alexander Isak ke Liverpool (£125 juta), Anthony Gordon ke Barcelona, dan Sandro Tonali ke Tottenham. Kapten Bruno Guimaraes juga dikabarkan akan menyusul. Di sisi lain, rekrutan anyar lebih banyak pemain muda yang belum terbukti, seperti Bazoumana Traore dan Aladji Bamba. Kebijakan ini jelas tidak sejalan dengan target menjadi klub top dunia.
Aturan PSR memang menjadi momok bagi klub yang dimiliki oleh negara kaya. Swiss Ramble, analis keuangan sepak bola, menemukan bahwa anggaran SCR Newcastle berada di peringkat kesembilan Premier League, jauh di bawah klub-klub papan atas seperti Manchester City atau Chelsea. Ini berarti Newcastle tidak bisa begitu saja mengeluarkan uang besar tanpa meningkatkan pendapatan komersial atau penjualan pemain.
Kekhawatiran semakin menjadi ketika pada April lalu PIF menarik dukungan miliaran dolar dari LIV Golf, yang memicu spekulasi tentang komitmen mereka terhadap Newcastle. Meski manajemen klub menyatakan hal itu tidak berdampak, langkah PIF yang juga menjual saham mayoritas di Al-Ahli—klub Saudi tempat calon pelatih anyar Matthias Jaissle kini menukangi—menimbulkan tanda tanya. Jaissle, yang sebelumnya sukses di RB Salzburg, dikabarkan menjadi pengganti Howe.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Newcastle menjadi pelajaran berharga bahwa kepemilikan kaya raya tidak otomatis menjamin kesuksesan jika regulasi keuangan membelenggu. Di Liga Indonesia, wacana Financial Fair Play juga mulai digaungkan, dan nasib Newcastle bisa menjadi studi kasus tentang bagaimana klub harus menyeimbangkan ambisi dengan kepatuhan aturan. Apakah Newcastle akan kembali bangkit di bawah pelatih baru, atau justru semakin terpuruk? Jawabannya mungkin akan terlihat dalam satu atau dua musim ke depan.



