Rating Steam Ternyata Penentu Utama Keputusan Pembelian Gamer
Baca dalam 60 detik
- Hampir 3.800 pemain disurvei GameDiscoverCo; 72% selalu atau sering mengecek rating sebelum membeli game.
- Jika rating tidak mencapai 'Mostly Positive', 20,3% gamer kehilangan kepercayaan untuk membeli.
- Rating terbaru lebih diperhatikan oleh 32,9% responden, sementara 47,4% hanya meliriknya sekilas.

Rating pengguna di Steam bukan sekadar angka—bagi mayoritas gamer, angka tersebut menjadi penentu utama apakah sebuah game layak dibeli atau tidak. Sebuah studi terbaru dari firma riset GameDiscoverCo mengungkapkan bahwa hampir tiga perempat pemain aktif memeriksa rating sebelum memutuskan membeli, dan jika rating tidak memenuhi ambang batas tertentu, minat beli bisa langsung anjlok.
Survei yang melibatkan hampir 3.800 responden ini memfokuskan pada dua metrik utama: rating terbaru (Recent Ratings) dan rating keseluruhan (Total Ratings). Hasilnya menunjukkan bahwa 40% gamer selalu mengecek rating sebelum membeli, sementara 32% melakukannya secara rutin. Hanya 2,5% yang sama sekali tidak peduli dengan rating. Angka ini menegaskan bahwa reputasi digital sebuah game menjadi aset krusial di era toko daring.
Yang lebih menarik, ambang batas psikologis pembeli ternyata cukup tinggi. Studi mencatat bahwa jika rating sebuah game tidak melampaui predikat "Mostly Positive", sebanyak 20,3% responden langsung merasa ragu untuk membeli. Artinya, game dengan rating "Mixed" atau lebih rendah berisiko kehilangan seperlima calon pembeli potensial hanya karena persepsi kualitas yang dianggap kurang meyakinkan.
Studi ini juga menyoroti perbedaan antara rating terbaru dan rating keseluruhan. Sebanyak 32,9% responden mengaku sangat memperhatikan rating terbaru—yang mencerminkan kualitas game setelah update atau perubahan terakhir. Sementara itu, 47,4% mengatakan mereka mungkin melihatnya tetapi tidak terlalu memedulikan, dan 14,5% lebih memilih mengacu pada rating jangka panjang sebagai indikator konsistensi kualitas.
Fenomena ini relevan bagi pengembang game, termasuk dari Indonesia. Dengan pasar game PC yang terus tumbuh di Tanah Air, para pengembang lokal yang merilis game di Steam perlu memahami bahwa rating bukan sekadar pajangan. Strategi menjaga kualitas pasca-rilis, merespons ulasan negatif, dan merilis patch tepat waktu bisa menjadi pembeda antara game yang laris dan yang terabaikan. Bagi gamer Indonesia, kebiasaan mengecek rating sebelum membeli juga semakin lazim seiring maraknya toko daring dan diskon besar-besaran.
Pertanyaan selanjutnya: akankah pengembang mulai memprioritaskan manajemen rating sama seriusnya dengan pengembangan fitur? Dengan data ini, jawabannya tampaknya sudah jelas.



