Kebakaran Hutan Eropa Mulai Terkendali, Spanyol Cabut Status Darurat Nasional
Baca dalam 60 detik
- Spanyol mencabut status darurat nasional setelah api di dekat Madrid berhenti meluas, sementara Perancis mencatat titik balik dalam pemadaman kebakaran terbesar sejak 1949.
- Lebih dari 220.000 orang diungsikan di wilayah Bordeaux, Perancis, dan 27.000 hektar lahan hangus di Spanyol, memperkuat bukti dampak perubahan iklim di Eropa.
- Ancaman kebakaran masih berlanjut di Yunani, Portugal, dan Turki, menunjukkan bahwa krisis iklim membutuhkan kesiapsiagaan global yang lebih serius.

Spanyol resmi mencabut status darurat nasional untuk kebakaran hutan yang mengancam kawasan dekat Madrid pada Kamis (30/7), seiring meredanya suhu panas di wilayah penghasil anggur Bordeaux, Perancis, yang memberikan harapan bagi petugas pemadam kebakaran. Keputusan ini menandai titik terang setelah pekan panjang Eropa dilanda gelombang panas dan kekeringan ekstrem yang oleh para ilmuwan dikaitkan dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Di Perancis, suhu yang mulai turun di sekitar Bordeaux membawa optimisme bahwa api di hutan pinus pesisir—yang telah mengungsikan 220.000 orang dan menghancurkan sekitar 240 rumah—akan segera padam. Kepala pemadam kebakaran regional Marc Vermeulen menyebut situasi telah mencapai "titik balik" dengan jumlah titik api berkurang dari enam menjadi tiga sejak pagi. Otoritas setempat mulai mengizinkan warga di sembilan desa untuk kembali ke rumah mereka, meskipun waspada masih diperlukan.
Namun, kewaspadaan tetap menjadi kata kunci. Relawan pemadam Maxence Cereja di Lanton mengingatkan bahwa kondisi tenang bisa berubah sewaktu-waktu, seperti yang terjadi sehari sebelumnya ketika api kembali berkobar di sore hari. Meski guntur dan sedikit hujan sempat turun di Lege-Cap-Ferret, curah hujan tidak cukup signifikan untuk memadamkan sisa bara. Kebakaran di Perancis ini telah mencapai 42.000 hektar—lebih luas dari kota Detroit—dan menjadi yang terburuk sejak 1949.
Di Spanyol, Perdana Menteri Pedro Sanchez mencabut status darurat setelah kantor prefek melaporkan bahwa api di barat Madrid telah berhenti meluas dengan "hampir tidak ada api tersisa". Kebakaran tersebut menghanguskan 27.000 hektar dan merusak sedikitnya 100 rumah. Hingga Kamis pagi, hanya tersisa seribu pengungsi, sementara ribuan lainnya telah kembali ke rumah pada Rabu. Namun, api baru muncul di Fermoselle, dekat perbatasan Portugal, memaksa evakuasi lebih dari 600 orang. Sementara itu, kobaran api di Avila—yang telah membakar sekitar 50.000 hektar—menjadi yang terbesar di Spanyol sejak pencatatan dimulai pada 1961.
Krisis kebakaran tidak hanya melanda dua negara tersebut. Di Yunani, ribuan warga dievakuasi dari resor wisata di Pulau Kreta pada Rabu malam, dengan api yang masih berkobar hingga Kamis akibat angin kencang. Otoritas setempat memperkirakan rumah, fasilitas pertanian, dan hewan ternak ikut terbakar, meskipun kerugian pasti belum dapat dihitung. Portugal juga masih berjuang memadamkan api di Valpaco dengan ratusan petugas dikerahkan, sementara Turki melaporkan 115 kebakaran di seluruh negeri, 110 di antaranya sudah terkendali.
Gelombang panas berulang dan kebakaran hutan yang semakin intens telah menyadarkan publik akan realitas perubahan iklim. Di Bordeaux, sopir Uber Kevin Montmartre—yang tiga kali mengungsi dari api—mengaku mulai mempertimbangkan menjual rumahnya di Andernos-les-Bains jika kebakaran serupa terjadi lagi dalam beberapa tahun ke depan. "Sejujurnya, saya sudah bicara dengan istri. Jika ada lagi tahun-tahun mendatang, kami akan jual rumah," ujarnya kepada AFP di balik kemudi Tesla-nya saat hujan mulai turun.
Bagi Indonesia, rangkaian kebakaran hutan di Eropa ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak mengenal batas geografis. Dengan musim kemarau yang kerap memicu kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan, pengalaman Eropa dalam evakuasi massal dan manajemen krisis dapat menjadi pelajaran berharga. Pertanyaannya, apakah kesiapsiagaan Indonesia sudah cukup untuk menghadapi skenario serupa yang dipicu oleh cuaca ekstrem?



