Ekspor Korea Selatan Diprediksi Melambat, tetapi Ledakan Chip AI Tetap Bertahan
Baca dalam 60 detik
- Pertumbuhan ekspor Korea Selatan pada Juli diperkirakan melambat ke 59,0% year-on-year dari rekor 70,7% pada Juni, namun masih menjadi yang tertinggi kedua dalam setahun terakhir.
- Permintaan chip AI yang melonjak, terutama dari Samsung dan SK Hynix, menjadi pendorong utama ekspor, meskipun volume pengiriman meningkat lebih moderat dibandingkan harga.
- Pasar saham Korea Selatan tertekan oleh aksi jual besar-besaran terkait kekhawatiran AI, namun prospek permintaan chip tetap kuat hingga akhir tahun.

Pertumbuhan ekspor Korea Selatan pada Juli diperkirakan tetap solid meskipun melambat dari rekor tertinggi dalam hampir setengah abad, didorong oleh ledakan permintaan chip kecerdasan buatan (AI) yang terus berlanjut. Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap 15 ekonom, nilai ekspor negara ekonomi terbesar keempat di Asia itu diproyeksikan naik 59,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Angka tersebut lebih rendah dari lonjakan 70,7 persen pada Juni—yang merupakan pertumbuhan tercepat sejak 1978—namun tetap menjadi laju tahunan terkuat kedua dalam rentang kenaikan beruntun yang dimulai sejak Juni 2025. Perlambatan ini sebagian disebabkan oleh faktor kalender, karena jumlah hari kerja pada Juli lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
Ekspor Korea Selatan masih ditopang oleh kinerja gemilang dua raksasa semikonduktor, Samsung Electronics dan SK Hynix. Kenaikan harga memori chip akibat gelombang investasi AI global menjadi katalis utama. Namun, ekonom Shinhan Securities Ha Keon-hyeong mengingatkan bahwa sebagian besar pertumbuhan tersebut berasal dari kenaikan harga, sementara volume pengiriman meningkat lebih sederhana.
Di tengah optimisme ekspor, pasar saham Korea Selatan justru mengalami gejolak. Indeks KOSPI ambles lebih dari 30 persen dalam sebulan terakhir dipicu kekhawatiran berlebihan terhadap prospek AI. SK Hynix, meskipun mencatat laba kuartal kedua tertinggi sepanjang sejarah, gagal memenuhi ekspektasi investor yang terlalu tinggi, sehingga menambah tekanan jual. Sementara itu, Samsung Electronics pada Kamis (30/7) mengonfirmasi bahwa permintaan chip AI akan tetap kuat dan pasokan masih terbatas hingga akhir tahun, setelah laba semikonduktornya melonjak lebih dari 250 kali lipat pada kuartal kedua.
Bagi Indonesia, dinamika ekspor Korea Selatan memiliki dampak tidak langsung yang signifikan. Sebagai mitra dagang utama di Asia, perlambatan ekspor Korea dapat memengaruhi permintaan terhadap komoditas Indonesia seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit mentah. Selain itu, gejolak di pasar saham Korea juga berpotensi memicu capital outflow dari pasar emerging market, termasuk Indonesia, karena investor cenderung menghindari risiko. Namun, jika permintaan chip AI tetap tinggi, rantai pasok global—termasuk Indonesia yang menjadi pemasok bahan baku baterai dan komponen elektronik—masih akan diuntungkan.
Pemerintah Korea Selatan dijadwalkan merilis data ekspor resmi untuk Juli pada Sabtu (1/8) pukul 09.00 waktu setempat. Para pelaku pasar akan mencermati apakah angka aktual sesuai dengan konsensus atau justru memberikan kejutan. Pertanyaan kunci yang mengemuka: mampukah momentum pertumbuhan ekspor Korea bertahan di tengah ketidakpastian pasar keuangan dan normalisasi harga chip? Ataukah ini awal dari siklus perlambatan yang lebih panjang?



