Matthias Jaissle Kandidat Kuat Pengganti Eddie Howe di Newcastle
Baca dalam 60 detik
- Matthias Jaissle, pelatih Al-Ahli, menjadi favorit mengejutkan untuk menggantikan Eddie Howe di Newcastle United.
- Jaissle memiliki rekam jejak mentereng: dua gelar Bundesliga Austria bersama RB Salzburg dan dua trofi Liga Champions Asia beruntun.
- Gaya bermain pressing tinggi dan hubungan dengan Thomas Tuchel bisa menjadi nilai tambah, termasuk potensi mendatangkan Ivan Toney kembali ke Premier League.

Newcastle United dikabarkan akan segera berganti nahkoda. Eddie Howe, yang membawa The Magpies meraih trofi domestik pertama dalam 70 tahun lewat Carabao Cup 2025, dilaporkan akan meninggalkan St James' Park setelah hampir lima tahun membesut tim. Nama Matthias Jaissle, pelatih asal Jerman yang kini menukangi Al-Ahli di Arab Saudi, muncul sebagai kandidat utama penggantinya.
Kabar ini mengejutkan banyak pihak, mengingat Howe baru saja mengukir sejarah bersama Newcastle. Namun, hasil minor musim lalu—finis di peringkat ke-12 Premier League dan gagal lolos ke kompetisi Eropa—ditambah kepergian sejumlah pemain kunci seperti Alexander Isak, Sandro Tonali, dan Anthony Gordon, disebut-sebut menjadi faktor perpisahan. Manajemen Newcastle yang dimiliki konsorsium Saudi dinilai ingin segera membangkitkan kembali performa tim.
Jaissle, 38 tahun, bukanlah nama asing di dunia kepelatihan. Sebagai bek tengah, ia pensiun dini di usia 25 tahun karena cedera, lalu beralih ke dunia kepelatihan. Kariernya menanjak setelah sukses membawa RB Salzburg meraih dua gelar Bundesliga Austria dan satu Piala Austria dalam dua musim. Di sana, ia mengorbitkan nama-nama seperti Benjamin Sesko (kini di Manchester United) dan Karim Adeyemi (Barcelona).
Langkahnya berlanjut ke Al-Ahli pada 2023, dan dalam waktu singkat ia mempersembahkan dua gelar Liga Champions Asia berturut-turut pada 2025 dan 2026. Kesuksesan ini tentu menarik perhatian pemilik Newcastle yang berbasis di Saudi. Gaya bermain Jaissle yang mengedepankan pressing tinggi dan intensitas disebut cocok dengan filosofi yang diinginkan manajemen.
Salah satu daya tarik Jaissle adalah kemampuannya membangun hubungan dengan pemain bintang. Pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, mengaku mendapat masukan positif dari Jaissle soal Ivan Toney sebelum membawanya ke Piala Dunia 2026. "Saya mendapat umpan balik fantastis dari pelatih klubnya, yang dulu adalah pemain saya dan saya memiliki hubungan dekat dengannya," ujar Tuchel. Hal ini memicu spekulasi bahwa Jaissle bisa membujuk Toney kembali ke Premier League, sesuatu yang diidamkan suporter Newcastle.
Namun, tantangan berat menanti. Newcastle musim ini kehilangan sejumlah pilar: Alexander Isak ke Liverpool dengan rekor transfer Inggris £125 juta, Sandro Tonali ke Tottenham, dan Anthony Gordon ke Barcelona. Kapten Bruno Guimaraes juga diburu Arsenal. Ditambah hasil buruk di pramusim—kalah 4-1 dari Bristol City—membuat tugas Jaissle semakin berat jika resmi ditunjuk.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergantian pelatih di Newcastle bisa menjadi sorotan mengingat banyak pemain Asia Tenggara yang kini merambah Eropa. Kehadiran Jaissle yang sukses di Asia juga bisa membuka peluang kerja sama dengan klub-klub Asia, termasuk Indonesia, dalam pengembangan pemain muda. Namun, prioritas utamanya tetaplah membawa Newcastle kembali ke papan atas Premier League.
Newcastle akan memulai musim 2026-27 dengan menjamu Liverpool pada 23 Agustus. Pertanyaan besarnya: mampukah Jaissle—jika resmi ditunjuk—mengembalikan kejayaan The Magpies di tengah badai kepergian pemain bintang?



