Gempa Kyushu Tewaskan 34 Orang, Tim Penyelamat Berjibaku di Reruntuhan Mal Aeon
Baca dalam 60 detik
- Korban jiwa gempa 7,1 SR di Kumamoto mencapai 34 orang, dengan tujuh di antaranya ditemukan di pusat perbelanjaan Aeon yang runtuh akibat ledakan gas.
- Lebih dari 13.500 rumah tangga masih tanpa listrik, sementara suhu ekstrem 38°C memperparah kondisi pengungsi, mayoritas lansia.
- Jepang, yang berada di Cincin Api Pasifik, kembali diingatkan pada kerentanan seismiknya, dengan Kumamoto pernah dilanda gempa mematikan pada 2016.

Dua hari pascagempa berkekuatan 7,1 skala Richter yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang selatan, jumlah korban jiwa terus bertambah menjadi 34 orang. Tim penyelamat masih berupaya menjangkau kemungkinan korban selamat di bawah puing-puing pusat perbelanjaan Aeon di Kashima, yang hancur setelah ledakan gas diduga terjadi usai gempa utama.
Menurut kantor penanggulangan bencana Kumamoto, tujuh jenazah berhasil diekstraksi dari reruntuhan mal yang terdiri dari tumpukan beton, kabel, dan besi bengkok. Sementara itu, delapan korban tewas ditemukan di pabrik Nippon Paper Industries di Yatsushiro, di mana sebagian cerobong asap merah-putih ambruk. Lima orang lainnya dilaporkan dalam kondisi kritis. Hampir 9.500 warga mengungsi di pusat-pusat evakuasi di wilayah Kyushu.
Gempa yang terjadi pada Selasa lalu itu tidak hanya meratakan rumah-rumah dan merusak jembatan, tetapi juga memicu kebakaran dan memutus aliran listrik serta air bersih bagi puluhan ribu penduduk. Hingga Kamis, 13.520 rumah tangga masih gelap gulita. Kondisi diperparah oleh suhu udara yang diperkirakan mencapai 38 derajat Celsius pada akhir pekan, membuat para pengungsi—terutama lansia—sangat menderita.
Di pusat komunitas Kota Uki, ratusan lansia—Jepang memiliki populasi tertua kedua di dunia—terbaring di atas tikar tipis di lantai keras lobi, berusaha melepaskan diri dari sengatan panas. "Syukur ada tempat pengungsian ini," ujar seorang perempuan yang enggan disebut namanya. "Di rumah atau di mobil terlalu panas dan banyak nyamuk." Hiroyuki Matsushima (53), seorang karyawan swasta dan ayah empat anak, menambahkan, "Tanpa listrik dan AC, hidup sangat berat."
Pensiunan Kenji Ota (72) terpaksa tidur di dalam mobilnya sejak gempa. "Gempa ini sangat kuat. Mengerikan... Saya hanya bisa tidur dua jam semalam," keluhnya. Di Kota Hikawa, salah satu wilayah terparah, banyak bangunan tua runtuh. Kinuko Uemura (85) mengaku beruntung selamat dari reruntuhan rumah tradisionalnya, namun kesulitan utama adalah ketiadaan toilet. "Saya harus pergi ke sekolah terdekat," katanya.
Pemilik toko suvenir, Soshiro Okawa (59), menggambarkan pengalaman pertamanya merasakan tanah benar-benar naik. "Saya mendengar barang-barang pecah di dalam toko, sementara tanah di tempat parkir membengkak, aspalnya retak, dan celah-celah merambat ke fondasi toko." Meski tokonya harus tutup, Okawa menegaskan komitmennya untuk tetap menjamin penghidupan para petani pemasok dan stafnya.
Mal Aeon sendiri telah dievakuasi setelah gempa, namun sekitar 50 menit kemudian, fasilitas itu luluh lantak oleh ledakan dahsyat. Jumlah karyawan yang masih di dalam saat ledakan tidak diketahui. Fumihiko Matsuura (56), seorang pengusaha yang baru seminggu lalu menonton film Toy Story di mal tersebut, merasa sangat beruntung. "Saya ada di sini. Saya hampir saja tidak selamat," ujarnya.
Di tengah duka, ada secercah harapan: 25 ekor kucing dari sebuah kafe kucing berhasil dievakuasi, memicu gelombang kelegaan di media sosial. Pemerintah setempat telah mengirimkan ratusan unit pendingin udara ke tempat penampungan. Warga terlihat mengantre bensin dan air minum dalam tayangan televisi.
Gempa Kumamoto kali ini mengingatkan pada tragedi 2016, ketika dua gempa dahsyat menewaskan 273 orang dan melukai lebih dari 2.800 jiwa. Jepang, yang terletak di atas empat lempeng tektonik utama di sepanjang Cincin Api Pasifik, mencatat sekitar 18 persen gempa bumi dunia setiap tahunnya. Meski sebagian besar ringan, kerusakan yang ditimbulkan sangat bergantung pada lokasi dan kedalaman pusat gempa. Bayang-bayang gempa 9,0 SR tahun 2011 yang memicu tsunami dan bencana Fukushima masih membekas.
Bagi Indonesia, yang juga berada di kawasan rawan gempa, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan infrastruktur tahan gempa. Dengan populasi lansia yang besar, Jepang menunjukkan betapa rentannya kelompok usia lanjut dalam situasi darurat—sebuah pelajaran berharga bagi negeri yang juga tengah menua.



