Chelsea Pikat Bek Timnas Prancis Lacroix dengan Mahar Rp1 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Chelsea resmi mengamankan jasa bek tengah Maxence Lacroix dari Crystal Palace dengan biaya transfer £52 juta atau sekitar Rp1 triliun.
- Lacroix, yang tampil di Piala Dunia 2026 bersama Prancis, menjadi bagian dari perombakan skuad Chelsea yang musim lalu finis di peringkat ke-10 Premier League.
- Perekrutan ini menandai perubahan strategi Chelsea yang mulai berani mendatangkan pemain senior dan berpengalaman, setelah sebelumnya fokus pada talenta muda.

Chelsea resmi mendatangkan bek tim nasional Prancis, Maxence Lacroix, dari Crystal Palace dengan nilai transfer mencapai £52 juta atau setara sekitar Rp1 triliun. Pemain berusia 26 tahun itu telah menandatangani kontrak berdurasi delapan tahun hingga 2032 dan menjadi rekrutan ketiga The Blues pada bursa transfer musim panas ini.
Lacroix bergabung dengan Chelsea setelah menunjukkan performa konsisten bersama Palace sejak didatangkan dari Wolfsburg pada 2024 seharga £15,5 juta. Dalam dua musim berseragam The Eagles, ia mencatatkan 55 penampilan di semua kompetisi dan turut mengantar klub meraih gelar Liga Konferensi UEFA—trofi Eropa pertama dalam sejarah Palace. Di level internasional, bek bertinggi 186 cm itu tampil dalam tiga laga Piala Dunia 2026, termasuk saat Prancis mengalahkan Inggris di perebutan tempat ketiga.
Kedatangan Lacroix menjadi sinyal perubahan haluan kebijakan transfer Chelsea. Setelah musim lalu finis di peringkat ke-10 Premier League dan tanpa trofi, co-owner Behdad Eghbali berjanji akan “menyesuaikan” model rekrutmen dengan menambahkan pemain berpengalaman di sekitar inti muda seperti Cole Palmer, Moises Caicedo, dan Levi Colwill. Lacroix menjadi pemain tertua yang dibeli di era kepemilikan Eghbali, mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang pemain berusia awal 20-an. Chelsea sebelumnya juga sempat mencoba mendatangkan gelandang veteran Granit Xhaka (34) dari Sunderland, meski gagal.
Dalam pernyataan resminya, Lacroix mengaku antusias bergabung dengan proyek Chelsea yang tengah dibangun di bawah pelatih anyar Xabi Alonso. “Saya melihat pemain seperti Reece James dan Morgan Rogers, dan saya senang bisa menjadi bagian dari cerita mereka—menulis sebagian dari kisah Chelsea bersama mereka,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dirinya siap segera beraksi dan merasa proyek ini memiliki masa depan yang indah.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan Chelsea di bursa transfer selalu menjadi sorotan karena basis penggemar klub yang besar di Tanah Air. Langkah berani merekrut pemain berusia di atas 25 tahun seperti Lacroix menunjukkan bahwa Chelsea tidak lagi sekadar mengandalkan pemain muda potensial, melainkan mulai mengejar keseimbangan skuad. Jika sukses, strategi ini bisa menjadi cetak biru bagi klub-klub Eropa lain yang ingin membangun tim kompetitif tanpa mengabaikan pengalaman.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Lacroix dan rekan-rekan barunya membawa Chelsea kembali ke papan atas Premier League dan bersaing di Liga Champions? Ataukah langkah ini hanya akan menjadi bagian dari siklus belanja besar yang belum membuahkan hasil?



