UEFA Ancam Boikot Piala Dunia, FIFA Dituduh Lakukan Pemerasan Lewat Skema Ekuitas Swasta
Baca dalam 60 detik
- Hitachi dan Toshiba resmi meluncurkan kereta N700ST untuk Taiwan High Speed Rail, pengiriman perdana dalam 22 tahun.
- Nilai kontrak 12 rangkaian kereta mencapai 124 miliar yen, setara Rp 12,4 triliun, dengan kecepatan 300 km/jam.
- Kerja sama ini menjadi tolok ukur potensi ekspor teknologi perkeretaapian Jepang ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Wakil Presiden UEFA Laura McAllister melontarkan tuduhan keras terhadap FIFA, menyebut organisasi induk sepak bola dunia itu tengah mempraktikkan “pemerasan” kepada asosiasi anggota lewat proposal penjualan saham kompetisi utama kepada ekuitas swasta. Tuduhan itu muncul setelah UEFA dan 55 anggotanya secara resmi memilih untuk memboikot seluruh turnamen FIFA—termasuk Piala Dunia—jika rencana tersebut tetap dipaksakan.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC, McAllister yang juga mantan kapten timnas Wales mengungkapkan bahwa FIFA memberikan tenggat waktu hingga 19 September bagi setiap asosiasi untuk menerima tawaran senilai 15 juta poundsterling (sekitar Rp300 miliar) sebagai insentif awal, dengan janji tambahan dana serupa di tahap berikutnya. “Ini bentuk pemerasan finansial—memberi waktu sangat singkat untuk mempertimbangkan proposal sebesar dan sefundamental ini,” ujarnya. Baginya, akar masalah bukan hanya soal tenggat, melainkan upaya menjual “mahkota” sepak bola kepada entitas yang berorientasi keuntungan semata.
McAllister menegaskan bahwa sikap UEFA bukan sekadar gertakan. “Ini ancaman nyata karena jika tidak ada Eropa, Piala Dunia bukanlah Piala Dunia,” katanya. Ia merujuk pada fakta bahwa negara-negara Eropa mendominasi peringkat FIFA, meraih gelar juara secara konsisten, dan menyumbang porsi terbesar pendapatan turnamen. Boikot Eropa akan membuat FIFA kehilangan daya tarik komersial dan legitimasi olahraga.
Di sisi lain, skema ekuitas swasta ini juga memicu kekhawatiran konfederasi lain. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) telah menyuarakan keberatan. Bagi Indonesia, yang bernaung di bawah AFC, ketegangan ini bisa berdampak pada peluang timnas berlaga di Piala Dunia mendatang. Jika turnamen kehilangan gengsi—atau malah bubar akibat perpecahan—investasi sepak bola nasional juga terancam. Seperti diketahui, PSSI tengah berupaya meningkatkan peringkat tim demi lolos ke Piala Dunia setelah sekian lama absen.
McAllister juga mengkritik motif Presiden FIFA Gianni Infantino yang dinilai terlalu berorientasi pada uang. Ia mencontohkan sejumlah keputusan kontroversial sebelumnya, seperti pencabutan kartu merah dan pemberian “hadiah perdamaian” yang dinilai mengada-ada. “Ini bukan satu-satunya kasus yang membuat kami resah,” ujarnya.
Di Inggris, rencana ini juga berpotensi menggoyahkan tawaran bersama Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia Wanita 2035. Padahal, penawaran tersebut merupakan satu-satunya yang masuk ke FIFA dan dijadwalkan mendapat kepastian November mendatang. McAllister berharap konflik ini tidak berlarut, tapi ia yakin Eropa memegang kendali. “Bayangkan Piala Dunia Wanita tanpa Spanyol, Inggris, Prancis, atau Jerman. Hal yang sama berlaku untuk pria,” tutupnya.



