Vietnam Menjadi Primadona Baru Wisata Pernikahan Mewah Asia
Baca dalam 60 detik
- Vietnam mencatat lonjakan penyelenggaraan pernikahan internasional mewah, dengan enam acara miliuner India di Quang Ninh dalam empat bulan pertama 2026.
- Destinasi seperti Danang, Phu Quoc, dan Hanoi bersaing merebut pasar kelas atas berkat infrastruktur, pemandangan alam, dan paket all-in-one.
- Potensi ekonomi sektor ini besar karena tamu biasanya tinggal 3-7 hari dan membelanjakan uang untuk akomodasi, transportasi, kuliner, dan hiburan.

Vietnam semakin kokoh sebagai destinasi utama wisata pernikahan kelas atas di Asia, setelah serangkaian pesta pernikahan miliuner dari India, Filipina, dan Amerika Serikat yang menghabiskan biaya jutaan dolar Amerika. Dalam empat bulan pertama tahun 2026 saja, provinsi Quang Ninh menjadi tuan rumah bagi enam pernikahan miliarder India, masing-masing berlangsung beberapa hari dan dihadiri ratusan tamu.
Fenomena ini bukan sekadar seremoni, melainkan cerminan pergeseran strategi pariwisata Vietnam. Direktur Administrasi Pariwisata Nasional Vietnam, Nguyen Trung Khanh, menegaskan bahwa negaranya telah menjadi tujuan utama industri pernikahan dan acara dari India dan Timur Tengah. Menurutnya, keunggulan lanskap alam, infrastruktur yang terus berkembang, serta kapasitas menyelenggarakan acara skala besar menjadi modal utama mengembangkan wisata pernikahan sebagai produk khusus yang menarik pengunjung dengan daya beli tinggi.
Ketua Asosiasi Pariwisata Danang, Cao Trรญ Dung, menjelaskan bahwa daya tarik destinasi tidak hanya terletak pada infrastruktur dan pemandangan, tetapi juga kemampuan merancang itinerary yang sesuai dengan beragam kelompok tamu. "Ketika setiap anggota rombongan mendapatkan pengalaman unik, lama tinggal dan belanja mereka cenderung meningkat," ujarnya. Danang sendiri mengandalkan konektivitas udara, aset wisata pantai dan pegunungan, serta jaringan resor berkualitas dengan harga kompetitif.
Phu Quoc, yang sempat menjadi sorotan setelah pernikahan 700 tamu pada 2019, tetap menjadi favorit kalangan elite. Pulau ini menawarkan suasana privat dan paket all-inclusive yang menggabungkan rekreasi, pengalaman unik, dan bulan madu. Sementara itu, Hanoi mengandalkan kekayaan budaya, arsitektur, kuliner, dan kerajinan tradisional untuk memperpanjang masa tinggal tamu. "Wisatawan internasional tidak lagi melihat pernikahan sekadar pesta mewah beberapa jam. Mereka menginginkan perjalanan yang menjadi pengalaman lengkap bagi keluarga dan teman, termasuk relaksasi, kuliner, dan eksplorasi destinasi," kata CEO Vitamin Tours and Events, Nguyen Van Hieu.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga. Bali selama ini dikenal sebagai destinasi pernikahan dunia, namun Vietnam mulai menyaingi dengan pendekatan terstruktur. Pemerintah Vietnam secara aktif melibatkan wedding planner India dan Timur Tengah, serta membangun paket wisata yang mengintegrasikan akomodasi, transportasi, kuliner, dan hiburan dalam satu kesepakatan. Model ini dapat diadopsi daerah seperti Lombok, Labuan Bajo, atau Yogyakarta yang memiliki potensi serupa.
Ke depan, persaingan wisata pernikahan di Asia Tenggara diprediksi semakin ketat. Vietnam telah menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan strategis, promosi agresif, dan kualitas layanan mampu menarik segmen pasar premium. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengikuti langkah tersebut atau justru akan kehilangan pangsa pasar yang selama ini dinikmati Bali?



