Tottenham Borong Pemain Bintang, Siap Guncang WSL Musim Depan
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur memecahkan rekor transfer klub dengan merekrut bek Prancis Alice Sombath dari Lyon di jendela musim panas ini.
- Manajer Martin Ho dan direktur Andy Rogers merancang strategi rekrutmen jangka panjang untuk menembus tiga besar WSL dan lolos ke Liga Champions Wanita.
- Investasi besar di tim wanita beriringan dengan perubahan strategi klub usai kepergian ketua Daniel Levy dan kedatangan CEO baru dari Arsenal.

Tottenham Hotspur menunjukkan ambisi besar di Women's Super League (WSL) musim depan dengan belanja pemain yang agresif pada bursa transfer musim panas ini. Klub asal London utara itu memecahkan rekor transfer mereka dengan mendatangkan bek timnas Prancis, Alice Sombath, dari Olympique Lyon, setelah pada Januari lalu mengeluarkan dana sekitar £375.000 untuk gelandang muda Norwegia, Signe Gaupset.
Langkah ini menandai perubahan haluan yang signifikan bagi Spurs yang musim lalu finis di peringkat kelima—sebuah lonjakan besar setelah nyaris terdegradasi pada musim sebelumnya. Selain Sombath, Tottenham juga mengamankan jasa penyerang Shekiera Martinez dan Kirsty Hanson, bek Caitlin Dijkstra, gelandang Victoria Pelova, serta kiper Selma Panengstuen. Manajer Martin Ho, yang ditunjuk pada Juli 2025, menegaskan bahwa target utama klub adalah bersaing dengan tim-tim papan atas WSL dan membangun skuad yang layak tampil di kompetisi Eropa.
Yang menarik, keberhasilan Tottenham di bursa transfer ini tidak lepas dari perencanaan matang yang dimulai sejak Ho bergabung. Klub telah memiliki rencana rekrutmen 12 bulan dan berhasil menandatangani semua target utama pada Januari, bahkan sebelum jendela transfer musim panas ditutup pada 3 September. Direktur pelaksana Andy Rogers, yang telah 24 tahun mengabdi di Spurs, memimpin langsung negosiasi musim panas ini sebelum ia mengundurkan diri. Rogers ingin memastikan transisi kepemimpinan berjalan mulus dan klub dalam posisi kuat.
Namun, jalan menuju Eropa tidaklah mudah. Hanya tiga tim teratas WSL yang berhak tampil di Liga Champions Wanita, dan posisi itu selama ini didominasi Arsenal, Chelsea, Manchester City, dan Manchester United. Tottenham juga harus bersaing dengan London City Lionesses dan Brighton yang sama-sama gencar berbelanja. Meski demikian, Spurs percaya diri karena investasi mereka bertepatan dengan era di mana regulasi keuangan dan batas gaji di sepak bola wanita masih longgar, memberi ruang bagi klub untuk mengeluarkan dana besar.
Kebijakan belanja besar di tim wanita ini sejalan dengan agresivitas Tottenham di tim pria, yang musim lalu nyaris terdegradasi dari Premier League. Perubahan strategi ini tidak lepas dari pergantian petinggi klub: ketua Daniel Levy hengkang pada September 2025, dan Vinai Venkatesham, mantan CEO Arsenal yang sukses membesarkan tim wanita The Gunners, bergabung pada April 2025. Venkatesham diharapkan dapat mengulang kesuksesan serupa di Tottenham.
Salah satu tantangan terbesar yang masih menghantui Tottenham adalah rendahnya jumlah penonton. Rata-rata kehadiran di pertandingan WSL musim lalu hanya 1.734 orang—angka yang sudah termasuk laga-laga besar di stadion utama. Dengan perpaduan talenta muda Eropa seperti Gaupset dan Sombath serta pencetak gol berpengalaman seperti Hanson dan Martinez, Tottenham berharap dapat meningkatkan daya tarik tim dan membangun basis penggemar yang lebih besar. Pertanyaannya, akankah strategi belanja besar ini cukup untuk membawa Spurs ke panggung Eropa, atau justru menjadi bumerang jika target tidak tercapai?



