Dari Gerakan Swadaya, Parit Segagah Pulihkan 14 Hektar Mangrove Bengkalis
Baca dalam 60 detik
- Kelompok Parit Segagah berhasil memulihkan 14 hektar hutan mangrove di Desa Kelapapati, Bengkalis, Riau, melalui gerakan swadaya sejak 2012.
- Ekosistem yang pulih kini menyerap 195 ton CO2 per hektar per tahun, setara nilai ekonomi Rp29,8 juta per hektar per tahun.
- Kelompok ini menolak tawaran eksploitasi tambak udang dan kayu arang, serta berencana merehabilitasi 35 hektar tambahan.

Di Desa Kelapapati, Bengkalis, Riau, sekelompok warga yang menamakan diri Parit Segagah berhasil memulihkan 14 hektar hutan mangrove yang nyaris punah akibat penebangan liar dan alih fungsi lahan. Gerakan ini lahir dari keprihatinan dua sahabat, Rio Fernandes dan almarhum Samsul Bahri, yang nekat menghadang alat berat pada 2012 dan kemudian merintis konservasi tanpa dukungan biaya.
Awalnya, kawasan mangrove Kelapapati dianggap lahan tak bertuan. Pohon bakau ditebang untuk dijadikan gasing atau kayu arang. Rio dan Sam—panggilan akrab Samsul Bahri—memutuskan bertindak. Mereka melarang penebangan, melapor ke kepala desa, dan mendapat restu membentuk kelompok. Dengan modal semangat, mereka mengumpulkan bibit menggunakan plastik es bekas sebagai polybag. Salah satu spesies yang hampir punah, belukap (Rhizophora mucronata), kini kembali tumbuh setelah mereka mengambil propagul dari desa tetangga sejauh 50 kilometer.
Perjalanan kelompok ini tidak mulus. Berbagai tawaran eksploitasi, seperti tambak udang dan kayu arang, memicu perpecahan internal. Beberapa anggota keluar karena menginginkan bagi-bagi lahan. Rio Sempana, yang memimpin kelompok sejak 2019, mengaku telah lima kali menolak tawaran dari pemodal yang sama. “Parit Segagah tetap berjalan. Tetap konsisten berapa pun tawarannya,” ujarnya.
Kini, hutan bakau Kelapapati menjadi rumah bagi beragam biota seperti siput bakau, lokan, dan udang tanah. Masyarakat setempat memanfaatkannya untuk mencari kerang dan udang, sementara perempuan setempat memproduksi kerupuk amplang dan ikan asin. Rio Fernandes menegaskan, siapa pun boleh mengambil hasil laut asal tidak merusak pohon mangrove. “Yang penting pohon mangrove jangan dirusak. Mau bawa dua karung atau tiga karung, tak dilarang,” katanya.
Keberhasilan Parit Segagah menarik perhatian dunia. Program seperti Indonesia Folu Net Sink 2030, Mangrove Alliance Project, dan Global Mangrove Alliance mengalirkan dukungan. Peneliti dari Jepang, Inggris, Jerman, Belanda, dan Spanyol telah berkunjung. Rio bahkan diundang ke Malaysia untuk berbagi pengalaman. Di tingkat lokal, Pemerintah Kabupaten Bengkalis membangun gapura, jalan, dan gazebo. Pada 2025, Politeknik Bengkalis melalui program pengabdian dosen turut membangun spot pancing di tepi Sungai Pedekik.
Meski telah memulihkan 14 hektar, Parit Segagah tidak berhenti. Mereka merencanakan rehabilitasi 35 hektar tambahan di sepanjang bibir pantai Kelapapati yang terancam abrasi. Menurut analisis Yayasan Gambut, dalam 10 tahun terakhir sekitar 10 hektar daratan telah terkikis. Kelompok ini juga menyediakan area 6.000 m2 khusus untuk pengambilan kayu pancang bagi nelayan, dengan syarat menanam kembali. Dua rumah bibit baru sedang disiapkan untuk memperbanyak bibit mangrove yang dibagikan gratis kepada siapa pun yang mau menanam.
Camat Bengkalis, Rafli Kurniawan, mengapresiasi kerja keras Rio Fernandes dan Rio Sempana. “Hari ini, lingkungan yang dijaga dan dirawat benar-benar beri dampak luar biasa pada masyarakat. Tidak hanya benteng abrasi tapi kehadiran biota,” ujarnya. Pertanyaannya, mampukah kelompok swadaya seperti Parit Segagah menjadi model bagi daerah pesisir lain di Indonesia yang menghadapi ancaman serupa?



