BTS Tolak Ajukan Lagu ke Grammy 2027: Musik Tak Perlu Dibatasi Wilayah
Baca dalam 60 detik
- BTS secara resmi tidak akan mengirimkan karya mereka untuk nominasi Grammy 2027, dengan alasan ingin musik dinilai tanpa sekat regional atau bahasa.
- Keputusan ini muncul setelah Akademi Rekaman menambah kategori Asian Pop, yang dinilai sebagian penggemar justru mengkotak-kotakkan musisi Asia.
- Langkah BTS mempertegas ketegangan antara industri K-pop global dan institusi penghargaan Barat yang selama ini dianggap kurang mengapresiasi genre tersebut.

Grup K-pop terbesar di dunia, BTS, memutuskan untuk tidak mengirimkan musik mereka ke ajang Grammy Awards 2027. Dalam pernyataan bersama yang dirilis Rabu, ketujuh anggota—RM, Suga, J-Hope, Jimin, V, Jungkook, dan Jin—menyatakan harapan agar karya mereka dinikmati apa adanya, bukan dipilah berdasarkan asal daerah atau bahasa.
Keputusan ini diumumkan hanya sebulan setelah Akademi Rekaman memperkenalkan lima kategori baru, termasuk kategori Best Asian Pop Performance yang khusus untuk K-pop, J-pop, C-pop, dan genre Asia lainnya. Alih-alih disambut positif, langkah tersebut menuai kritik dari sebagian penggemar yang menilai kategori itu justru menciptakan tembok rasial bagi musisi Asia di panggung Grammy.
BTS sendiri belum pernah memenangkan Grammy meski telah lima kali masuk nominasi: tiga kali untuk Best Pop Duo/Group Performance, satu kali untuk Album of the Year (atas kontribusi mereka di album Coldplay Music of the Spheres), dan satu kali untuk Best Music Video lewat Yet to Come. Ironisnya, kemenangan perdana K-pop di Grammy baru terjadi tahun ini, diraih oleh lagu Golden dari film animasi Netflix KPop Demon Hunters dalam kategori Best Song Written for Visual Media.
Keputusan BTS untuk memboikot Grammy 2027 bukanlah langkah tanpa risiko. Di satu sisi, ini bisa menjadi pukulan bagi prestise Grammy yang selama ini dituduh kurang mengakomodasi musik pop global. Di sisi lain, BTS menunjukkan bahwa mereka tidak lagi membutuhkan legitimasi dari institusi Barat untuk membuktikan pengaruh mereka. Album terbaru mereka, ARIRANG, yang dirilis Maret lalu setelah jeda hampir empat tahun, langsung mendapat pujian kritis dan menjadi pengingat akan posisi mereka di puncak budaya populer.
Bagi penggemar di Indonesia, langkah BTS ini mungkin terasa relevan. Industri musik Tanah Air juga kerap menghadapi dilema serupa: apakah mengejar pengakuan internasional dengan menyesuaikan diri dengan standar global, atau tetap setia pada identitas lokal. Keputusan BTS bisa menjadi preseden bahwa musik yang autentik tidak perlu dipaksakan masuk ke dalam kotak kategori yang sempit.
Akademi Rekaman belum memberikan tanggapan resmi atas keputusan BTS. Namun, langkah ini jelas menambah daftar panjang kritik terhadap Grammy yang dianggap lamban dalam merangkul keragaman musik dunia. Pertanyaannya, akankah Grammy berbenah, atau justru semakin ditinggalkan oleh artis-artis papan atas global?



