Koki Barbeku Mirip Elon Musk Viral di China, Pilih Fokus Usaha daripada Terkenal
Baca dalam 60 detik
- Ma Jianping, koki barbeku asal Shaanxi, mendadak viral karena kemiripannya dengan Elon Musk, menarik ribuan pengunjung ke restorannya.
- Meski tawaran bisnis berdatangan, Ma memilih tetap mengelola restoran dan menolak menjadi streamer, menunjukkan prioritas pada pekerjaan.
- Fenomena ini mencerminkan tren impersonator selebriti di China, dengan risiko deepfake dan regulasi konten buatan AI yang semakin ketat.

Seorang koki barbeku berusia 48 tahun di Tongchuan, Provinsi Shaanxi, China, mendadak menjadi sensasi internet setelah warganet menyadari kemiripannya yang mencolok dengan miliarder teknologi Elon Musk. Video Ma Jianping saat melayani pelanggan di restorannya, Yilan Restaurant, telah diklik lebih dari 1,3 juta kali di Douyin sejak 26 Juli lalu, memicu gelombang meme dan candaan di media sosial.
Ma, yang sebelumnya bekerja sebagai teknisi listrik sebelum beralih ke industri kuliner, mengaku merasa malu dan gugup dengan perhatian yang tiba-tiba. Dalam wawancara dengan media setempat, ia mengatakan bahwa bisnis restorannya yang sebelumnya sepi kini meningkat dua kali lipat. Banyak pelanggan datang khusus untuk berfoto dan bersalaman dengannya. Seorang pengunjung bernama Bai mengaku senang bisa bertemu langsung dengan 'Musk versi nyata' setelah hanya melihatnya dalam video buatan AI.
Fenomena ini tidak lepas dari profil global Musk yang kian meroket. Pada Juni lalu, SpaceX resmi tercatat di bursa AS, mendorong kekayaan bersih Musk melampaui US$1 triliun dan menjadikannya triliuner pertama di dunia. Nama keluarga Ma, yang dalam bahasa Mandarin berbunyi 'Ma', secara fonetis mirip dengan Musk, semakin memperkuat persepsi publik.
Menariknya, Ma menolak tawaran dari belasan pihak yang ingin bekerja sama, termasuk peluang menjadi streamer. Ia memilih tetap bekerja dari pukul 09.00 hingga tengah malam, fokus pada restorannya. Sikap ini menuai pujian, termasuk dari pelanggan yang mengapresiasi keputusannya tidak menaikkan harga menu meski popularitasnya melonjak.
Di jagat maya, meme bertaburan. Warganet membuat gambar Ma dengan setelan jas untuk mempertegas kemiripannya dengan Musk, bahkan membayangkannya memanggang bersama CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO Apple Tim Cook. Sebuah unggahan bercanda menyebut, 'Starlink menghabiskan miliaran dolar, tapi Musk mendapatkannya kembali melalui barbeku.' Ada pula yang mengusulkan nama restoran 'Space X Barbecue'.
Musk sendiri belum berkomentar soal Ma, namun ia pernah menanggapi kemunculan 'Elon Musk versi China' lainnya, Ma Yilong, pada 2022. Saat itu, Musk menulis di X: 'Saya ingin bertemu orang ini (jika dia nyata). Sulit dibedakan dengan deepfake sekarang.' Sejak 2025, banyak video Ma Yilong diberi label 'konten buatan AI' oleh platform China, meski ia tidak secara langsung mengklarifikasi.
Fenomena impersonator selebriti di China memang tengah naik daun. Pada Mei lalu, seorang petani dari Liaoning, Yang Yang, berhasil mengumpulkan lebih dari 120.000 pengikut dengan meniru Jensen Huangโlengkap dengan rambut bertepung, bingkai kacamata, dan jaket kulit hitam. Tren ini menunjukkan bagaimana kemiripan fisik dapat menjadi modal sosial di era digital, namun juga membuka celah penyalahgunaan teknologi deepfake.
Bagi Indonesia, fenomena ini mengingatkan pada potensi dampak serupa di tengah maraknya penggunaan AI generatif. Regulasi konten buatan AI di China yang semakin ketat bisa menjadi referensi bagi otoritas Tanah Air dalam mengelola konten viral yang berpotensi menyesatkan. Pertanyaannya, apakah masyarakat Indonesia siap menghadapi banjir konten impersonator yang mungkin tidak selalu autentik?



