Harga Minyak Turun Lagi Meski Ketegangan Teluk Meningkat: Pasokan Alternatif Mulai Mengalir
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah dunia kembali melemah setelah sempat melonjak akibat ancaman AS terhadap Iran, karena pasar mulai memfokuskan diri pada realitas pasokan yang masih mengalir dari Teluk.
- Meskipun Selat Hormuz nyaris ditutup dan blokade Houthi di Laut Merah, sekitar 13 juta barel per hari minyak dari kawasan Teluk masih berhasil mencapai pasar global.
- Para analis memperkirakan semakin lama konflik berlangsung, jalur dan metode alternatif akan semakin mengikis pengaruh Iran terhadap Selat Hormuz, yang berimplikasi pada stabilitas harga minyak ke depan.

Harga minyak mentah dunia kembali merosot pada perdagangan Kamis (30/7), mengikis keuntungan besar yang tercatat sehari sebelumnya, meskipun ketegangan militer di kawasan Teluk terus meningkat. Pasar kini lebih fokus pada kenyataan bahwa pasokan minyak dari wilayah tersebut masih terus mengalir melalui berbagai jalur alternatif, meredam kepanikan yang sempat memicu lonjakan harga.
Brent futures turun 96 sen atau 1,06% menjadi 89,78 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 64 sen atau 0,76% ke 83,82 dolar AS per barel. Penurunan ini terjadi setelah sehari sebelumnya Brent melonjak 7,91% dan WTI naik 6,56%—salah satu kenaikan terbesar sejak perang Iran pecah—membalikkan penurunan 5% pada Selasa akibat jeda singkat permusuhan dalam konflik yang telah berlangsung lima bulan tersebut.
Lonjakan harga sebelumnya dipicu oleh ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan menghajar Iran "sangat keras" setelah serangan rudal Iran ke pangkalan AS di Yordania pada Selasa. AS dan Arab Saudi kemudian melancarkan serangan udara bersama terhadap pasukan paramiliter pro-Iran di Irak—untuk pertama kalinya Saudi secara terbuka bergabung dalam serangan AS—sebagai balasan atas serangan drone terhadap target minyak Saudi yang diluncurkan dari Irak. AS juga melakukan serangan selama dua jam ke Iran pada Rabu, mengakhiri jeda serangan yang berlangsung sejak akhir pekan.
Namun, menurut Lin Ye, wakil presiden pasar komoditas minyak di Rystad Energy, efek ancaman Trump terhadap harga bersifat sementara. "Pasar sudah memperhitungkan sepenuhnya retorika 'pukul keras' Trump dan kini mulai mempertimbangkan kemungkinan 'TACO' (Trump Always Chickens Out)," ujarnya. Ye menambahkan bahwa pasar mengikuti pola: berita utama geopolitik memicu lonjakan harga cepat, tetapi kenaikan itu seringkali berumur pendek karena aliran pasokan aktual dan upaya diplomatik paralel cenderung menentukan berapa lama pergerakan harga ke atas bertahan.
Harga minyak saat ini tertahan karena pasokan mentah masih bergerak dari kawasan Teluk meskipun Selat Hormuz—yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima minyak dan gas global—nyaris ditutup. Iran menutup jalur air tersebut setelah perang AS-Israel dimulai pada 28 Februari. Rystad Energy memperkirakan sekitar 13 juta barel per hari minyak dari Teluk masih mencapai pasar. Bahkan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah pada 20 Juli, yang mengganggu pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, beberapa kargo—khususnya yang menggunakan kapal tanker yang terafiliasi dengan China—masih berhasil mengalir ke pasar.
"Meskipun volume keseluruhan berkurang, minyak terus bocor keluar dari kawasan melalui berbagai saluran, dan solusi alternatif tambahan sedang dijajaki. Semakin lama situasi ini berlangsung, semakin banyak jalur dan metode alternatif ini akan mengikis pengaruh Iran atas Selat Hormuz," kata analis pasar IG Tony Sycamore dalam sebuah catatan.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak global ini memiliki dampak langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga menekan anggaran subsidi energi dan biaya impor, sementara penurunan harga memberikan ruang fiskal. Namun, jika konflik berkepanjangan dan pasokan terganggu lebih parah, risiko lonjakan harga tetap mengintai. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan jalur alternatif pengiriman minyak, termasuk peran kapal tanker China yang mungkin menjadi andalan, serta kesiapan menghadapi skenario terburuk jika tekanan geopolitik semakin meningkat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pasar akan terus mengabaikan eskalasi militer dan tetap fokus pada pasokan yang masih mengalir, ataukah ada titik di mana gangguan nyata terjadi dan harga kembali melonjak. Pola yang terlihat—lonjakan cepat diikuti koreksi—menunjukkan bahwa pasar telah belajar untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap retorika perang. Namun, dengan Selat Hormuz yang masih tertutup dan blokade Laut Merah yang belum sepenuhnya diatasi, ketahanan rantai pasok minyak global masih diuji.



